Dark/Light Mode

Lawan 3 Dosa Besar Pendidikan

Sekolah Damai Perkuat Siswa dan Santri dengan Nilai Perdamaian

Rabu, 6 November 2024 22:04 WIB
Workshop Pelajar Cerdas Cinta Damai, Tolak Intoleransi, Kekerasan, dan Bullying, di Pondok Pesantren IMMIM Putra Makassar, Rabu (6/11/2024). (Foto: Dok. BNPT)
Workshop Pelajar Cerdas Cinta Damai, Tolak Intoleransi, Kekerasan, dan Bullying, di Pondok Pesantren IMMIM Putra Makassar, Rabu (6/11/2024). (Foto: Dok. BNPT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus melakukan inovasi dalam memberikan penguatan pada generasi muda dalam rangka pencegahan intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Salah satunya melalui program Sekolah Damai yang bertujuan memperkuat para siswa dan santri tingkat SMA/MA sederajat dengan nilai-nilai perdamaian untuk melawan tiga dosa besar dunia pendidikan di Indonesia yaitu intoleransi, kekerasan, dan bullying.

Sekolah Damai merupakan salah satu dari tujuh program prioritas BNPT tahun 2024. "Kami berharap melalui program ini, para siswa, santri, dan para pendidik memiliki kemampuan dalam melawan tiga dosa besar dunia pendidikan di Indonesia yaitu intoleransi, kekerasan, dan bullying,” ujar Direktur Pencegahan BNPT, Prof Irfan Idris, saat membuka kegiatan Sekolah Damai melalui workshop “Pelajar Cerdas Cinta Damai, Tolak Intoleransi, Kekerasan, dan Bullying”, di Pondok Pesantren IMMIM Putra Makassar, Rabu (6/11/2024).

Menurut Irfan, tiga dosa besar dunia pendidikan itu menjadi momok bagi perdamaian dan kelancaran proses belajar dan mengajar di satuan pendidikan. Tidak hanya itu, tiga dosa besar itu menjadi cikal bakal seseorang anak didik menjadi radikal atau bahkan terlibat dengan terorisme.

Makanya, lanjut dia, dengan Sekolah Damai ini, seluruh siswa, santri, dan para tenaga pendidikan diajak untuk memiliki nilai-nilai perdamaian. "Pasalnya, ada kelompok orang yang salah dalam memahami pesan-pesan Tuhan, dan hanya dipahami secara sepotong-potong dalam mengartikannya sehingga timbul sikap intoleransi, kemudian menjadi radikalisme, dan terorisme,” papar Prof Irfan.

Dia menguraikan, dalam ajaran agama, umat dilarang berlebihan dalam beragama. Ini penting karena bila berlebihan atau ekstrem, tentu akan bertentangan dengan nilai-nilai agama yang melarang kekerasan, apalagi sampai melakukan pembunuhan.

Baca juga : Perubahan Geostrategi Memantapkan Reformasi Sistem Pertahanan Keamanan Negara

Ia mencontohkan, jangankan beragama secara ekstrem, orang sangat takut dengan cuaca ekstrem yang bisa merusak segala hal.

“Begitu juga dengan klaim kelompok-kelompok yang suka mengkafirkan orang yang berbeda, dengan mengatasnamakan jihad, lalu melakukan aksi bom bunuh diri. Padahal dalam Al-Quran disebut 41 kata jihad, tapi tidak ada yang menyuruh untuk bunuh diri,” jelas Irfan.

Ia gembira kegiatan Sekolah Damai di Ponpes IMMIM ini dihadiri 300 santri dan siswa. Mereka terdiri dari 235 santri Ponpes IMMIM dan 65 siswa/siswa sekolah di sekitar seperti SMAN 21 Makassar, SMAN 23 Makassar, SMAN 3 Makassar, MA Ats-Tsabats, MA PP Madinah, dan MA Ummul Mukminin. Kegiatan ini digelar dengan kolaborasi BNPT, Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah Sulsel, Kakanwil Kemenag Sulsel, dan Duta Damai Sulsel.

Irfan mengungkapkan, alasan utama kenapa siswa dan santri, sebagai generasi muda menjadi sasaran utama program Sekolah Damai. Menurutnya, tidak lepas dari keprihatinan dari hasil survei Setara Institute, sebanyak 83,3 persen generasi muda menyatakan Pancasila bukan ideologi bangsa Indonesia yang permanen alias bisa diganti. Ini tentu saja harus menjadi perhatian bersama karena Indonesia adalah negara bangsa, bukan negara agama.

“Kita harus prihatin dengan hasil survei itu. Makanya kita harus melakukan berbagai upaya agar jangan sampai anak-anak kita, para siswa dan santri ikut-ikutan meyakinai bahwa Pancasila bisa diganti," ucapnya.

Baca juga : Dorong Pendidikan Inovatif, UI dan BNI Kembangkan Ekosistem Keuangan Digital

Dia melanjutkan, mereka harus paham bahwa Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa telah menjadi kesepakatan para founding fathers bangsa. "Di dalamnya telah jelas bahwa dalam Pancasila telah terinternalisasi nilai-nilai agama,” terang Irfan.

Ia menguraikan, generasi muda seharusnya bangga dengan Indonesia dengan segala keragamannya. Bahkan banyak negara iri karena Indonesia bisa bersatu meski terdiri dari ribuan pulau dari Sabang sampai Merauke, ratusan suku, enam agama yang diakui, dan masih banyak lagi. Bandingkan dengan Korea, dimana mereka hanya satu daratan terbagi menjadi dua negara. Begitu juga dengan Rusia yang satu daratan terbagi beberapa negara bagian. Juga Yugoslavia, Czekoslavia, bahkan di Timur Tengah atau meski satu bahasa mereka terpecah menjadi 10 negara. 

“Kami tidak pernah untuk mengimbau seluruh anak bangsa untuk selalu berkumpul dalam komunitas damai dan tetap bersatu padu. Perbedaan itu adalah sunatullah,” tukasnya.

Kemudian, lanjut Prof Irfan, masih dari survei Setara Institute, 56,3 generasi muda setuju hukum agama menjadi landasan bernegara. Padahal jelas, Indonesia bukan negara agama, tapi negara bangsa. Pun dengan hasil 61,1 persen setuju penggunaan atribut agama di satuan pendidikan.

Menurut Prof Irfan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebelumnya menyatakan tiga dosa besar pendidikan yaitu intolernasi, kekerasan, dan bullying banyak terjadi di satuan pendidikan. Bahkan di media sosial banyak berseliweran konten-konten kekerasan dan bullying di satuan pendidikan, dimana banyak guru yang sudah tidak dihormati siswa. Lalu, bila guru memberi hukuman, mereka justru dilaporkan ke kepolisaan dengan tuduhan penganiayaan.

Baca juga : ERHA Ultimate Denpasar Hadirkan Konsep Terkini dan Terlengkap di Bali

“Mari kita belajar karakter mengapa terjadi kekerasan dan mari kita pahami bersama, bahwa tiga dosar besar pendidikan boleh terjadi di satuan pendidikan. Mari kita jaga sekolah kita, Sekolah Damai harus mewarnai kebijakan di sekolah-sekolah,” tandasnya.

Workshop Pelajar Cerdas Cinta Damai juga menghadirkan narasumber mantan napiter Suryadi Mas’ud. Pria asli Makassar ini dikenal memiliki jabatan mentereng sebagai Ambassador ISIS Asia Tenggara. Ia tiga kali keluar masuk penjara dan sekarang telah bertobat berikrar kembali setia kepada NKRI dan aktif membantu Pemerintah melakukan program deradikalisasi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.