Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
COP 29 Azerbaijan
Keren, 2 Anak Muda Indonesia Berbagi Kisah Transisi Energi Di Daerah Terpencil
Minggu, 17 November 2024 10:14 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Anak muda asal Indonesia kembali unjuk gigi di panggung dunia. Mereka berbagi cerita transisi energi daerah terpencil di Konferensi Perubahan Iklim (COP 29) di Baku, Azerbaijan, Kamis (14/11) lalu,
Dua anak muda Indonesia itu adalah Founder Desa Bumi Gamma A. Thohir dan Founder Society of Renewable Energy, Zagy Y Berian.
Founder Desa Bumi Gamma A Thohir mengatakan sudah saatnya anak muda ikut memimpin percepatan proses transisi energi. Menurutnya, pendekatan evidence-based policy menjadi kunci untuk menarik minat banyak pihak dalam melakukan kolaborasi.
"Kami hadir dengan bukti nyata, bukan sekadar komitmen di atas kertas," kata Gamma saat berbicara di sesi Today for Future: Youth Inclusive Action to Accelerate Just Energy Transition, Paviliun Indonesia, Minggu (17/11).
Gamma menceritakan, perjalanan Desa Bumi dimulai dengan program mikrohidro berkapasitas 40 kW di Sukabumi pada 2015. Proyek yang digagas saat dirinya berusia 15 tahun itu, berhasil menerangi 75 rumah tangga dan menjadi pusat pembelajaran pemuda.
Kini, Desa Bumi telah membangun tiga desa berbasis energi bersih. Dua desa lainnya dibangun pada tahun 2022 dan 2023. Yakni di desa Liyu dan Bangkiling di Pulau Kalimantan, dengan berbasis energi tenaga surya.
Baca juga : Di COP 29, APP Dorong Transisi Energi Hijau
Selanjutnya, Desa Bumi tengah menyelesaikan desa keempat yang berkolaborasi dengan SRE. Founder SRE, Zagy Y. Berian, memuji visi Desa Bumi yang selaras dengan cara pandang mereka.
"Kami sepakat, bukti nyata adalah kunci membangun gerakan lebih masif. SRE fokus pada operasional, sementara Desa Bumi fokus pada pengembangan bisnis," jelas Zagy, pelopor komunitas energi bersih yang kini menjangkau lebih dari 50 kampus di Indonesia.
SRE, yang berdiri sejak 2019, telah mencatatkan lebih dari 100 lokasi pembangunan infrastruktur energi bersih. Salah satu proyek kolaborasi unggulan mereka adalah pembangunan sistem pompa air tenaga surya di Pati, Jawa Tengah.
Sistem ini membantu kelompok tani meningkatkan produktivitas lahan 20 hektar sekaligus menyelesaikan masalah logistik di daerah terpencil.
Zagy berpendapat, karakteristik kepulauan Indonesia mempunyai tantangan beragam. Terutama logistik untuk mencapai daerah terluar. Sehingga diperlukan komunitas yang terdesentralisasi, agar lebih mudah dijangkau dan tidak hanya mengandalkan pusat.
“Permasalahanya kan ada di biaya yang tinggi dalam penyediaan akses energi bersih di Indonesia, nah, SRE punya solusi untuk menurunkan biaya tersebut," tuturnya.
Baca juga : Sowan Ke Menhan, Dirut Pertamina Simon Bahas Ketahanan Energi Nasional
Salah satu solusinya adalah mendapatkan produk dari tangan pertama. Kemudian, 0embangunan yang dilakukan oleh komunitas daerah.
"Dengan jejaring kita, cukup 1 orang dari pusat dan sisanya dari lokal. Biayanya bisa lebih murah setengah dari pasar” tambah Zagy.
Kelompok Tani Hutan (KTH) Sukobubuk, Pati, menjadi mitra pertama kolaborator dengan Pembangunan sarana air bersih untuk wilayah produktif. Total luas yang disasar mencapai 20 hektar dengan menggunakan pompa air tenaga surya.
Gamma mengatakan, energi dan air, merupakan dua aspek fundamental ekonomi masyarakat. Desa Bumi melihat isu ini dapat menarik perhatian publik.
"Dalam melihat kepentingan Pembangunan transisi energi kedepannya dalam menyasar keadilan di daerah-daerah terpencil.” sebut Gamma.
Proyek ini diharapkan membantu produksi buah-buahan serta penyimpanan buah-buahan tersebut sebelum diolah lebih lanjut. Pemilihan lokasi ini, merupakan hasil diskusi bersama direktorat perhutanan sosial.
Baca juga : Hadiri COP 29, Pertamina Tegaskan Komitmen Dukung Transisi Energi Nasional
KTH Sukobubuk adalah binaan Kementerian kehutanan dengan kategori platinum yang artinya sudah memiliki kegiatan ekonomi.
“Kami memilih desa yang memiliki kegiatan ekonomi, karena pesan khusus yang ingin kami sampaikan adalah kegiatan aplikatif dari pemanfaatan energi bersih untuk ekonomi masyarakat," tambah Gamma.
Desa Bumi dan SRE, telah menyiapkan peningkatan kapasitas bagi para kelompok yang nantinya akan mengelola proyek ini. Adapun sisi ekonominya, para petani yang ingin mendapatkan air dan fasilitas penyimpanan harus berlangganan pada layanan yang disediakan oleh mereka.
Tanpa adanya sistem ini, petani hanya mampu melakukan budidaya dan memanen pada musim hujan saja. Sistem ini akan meningkatkan siklus budidaya dan panen mereka.
“SRE menghitung, sekitar 8-13 juta sektor pekerjaan green jobs yang harus dikejar oleh Indonesia untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Program partisipasi nyata secara kolaboratif ini kunci keberhasilan Indonesia," tutup Zagy dalam kegiatan COP 29 itu.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya