Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Tahun Depan Tidak Ada Kenaikan Cukai
Penurunan Prevalensi Perokok Sulit Dicapai
Minggu, 22 Desember 2024 07:25 WIB
Sebelumnya
Sementara itu, Ketua Bidang Hukum dan Advokasi dari Komnas Pengendalian Tembakau, Tulus Abadi mengingatkan Pmerintah untuk melindungi kesehatan masyarakat. Utamanya, kelompok rentan dan anak-anak, yang sedang terancam akibat prevalensi perokok yang sangat tinggi dan belum terkendali.
“Sebanyak 70 juta penduduk Indonesia adalah perokok aktif. Ini juga meningkatkan prevalensi penyakit tidak menular sangat tinggi, seperti jantung, stroke, dan kanker yang disebabkan konsumsi rokok,” ucapnya.
Baca juga : Golkar Deklarasi Usung Mantan Wakil Wali Kota Pangkalpinang
Situasi ini, lanjut dia, juga berimplikasi pada defisit di Badan Penyelanggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Sebab, peningkatan penyakit katastropik dipicu konsumsi tidak sehat, salah satunya rokok.
“Program makan bergizi gratis itu positif, kalau tidak diiringi penurunan prevalensi perokok semua bisa jadi mubazir,” kata Tulus.
Baca juga : Pemerintah Hati-hati Bicara
Ditrktur Penerimaan dan Perencanaan Strategis, Ditjen Bea dan Cukai (DJBC), Muhammad Aflah Farobi menyampaikan, kebijakan CHT 2025 sudah disusun dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian nasional. “CHT yang tidak naik juga untuk memitigasi fenomena peralihan konsumsi ke rokok dengan harga lebih murah yang makin marak,” dalihnya.
Di media sosial X, netizen juga menilai kenaikan harga rokok dan tarif CHT belum tentu mampu menurunkan prevalensi merokok di masyarakat. Sebab, banyak yang memaksakan diri untuk membeli rokok meski sedang kesulitan ekonomi.
Baca juga : Libur Nataru Di Jakarta Aman, Nyaman Dan Lancar
Akun @jawlove mendukung agar harga rokok dinaikkan, agar tidak terjangkau oleh kalangan bawah. “Sebagai mantan perokok, saya setuju harga rokok harus selalu naik. Kalau bisa, sampai harganya nggak masuk akal. Jadi, yang lagi kere dan bokek nggak kepikiran buat beli merokok,” katanya.
“Belum pernah nemu orang berhenti ngerokok gegara harga rokok mahal. Ini kayak nggak akan pernah terjadi, yang ada malah nyari cara buat tetap bisa merokok,” cuit akun @Satetongseng99. “Pengalaman di warung nenek saya. Ada orang yang buat kebutuhan sehari-hari susah. Istrinya bon sayur di warung nenek, suami bon rokok. Harga rokok naik, si suami tetap aja ngebon, kasihan anak istrinya,” timpal akun @yongmaryong. [SSL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya