Dark/Light Mode

Peringati 20 Tahun Tsunami Aceh

Sirine Menyala Tiga Menit, Warga Berhenti Beraktivitas

Jumat, 27 Desember 2024 08:24 WIB
Sejumlah umat muslim menghadiri kegiatan zikir dan berdoa pada peringatan 20 tahun bencana Tsunami di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, Kamis (26/12/2024). (ANTARA FOTO/Ampelsa)
Sejumlah umat muslim menghadiri kegiatan zikir dan berdoa pada peringatan 20 tahun bencana Tsunami di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, Kamis (26/12/2024). (ANTARA FOTO/Ampelsa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Suara sirine meraung-raung menggetarkan langit Banda Aceh pada Kamis pagi (26/12/2024), tepat pukul 08.00 WIB. Suara sirine tersebut menjadi penanda peringatan 20 tahun tragedi tsunami Aceh.

Semua kendaraan di persimpangan jalan berhenti saat suara sirine dibunyikan selama tiga menit. Aktivitas warga Aceh juga ikut terhenti sejenak.

Tombol sirine ditekan langsung oleh Pj Gubernur Aceh, Safrizal, dari lokasi utama peringatan di halaman Masjid Raya Baiturrahman. 

Di persimpangan jalan Masjid Oman Al Makmur, raungan sirine terdengar bertubi-tubi. Termasuk dari sistem peringatan dini di kompleks Kantor Gubernur Aceh. 

Tak hanya di pusat kota, suara sirine serentak terdengar di beberapa lokasi lain. Seperti di gerbang tol Sigli-Banda Aceh, terminal bus hingga pelabuhan penyeberangan. Di beberapa titik jalan, sejumlah mobil patroli polisi juga disiagakan khusus untuk menyalakan sirine.

Baca juga : Libur Natal, Gibran Pulkam Ke Solo

Setelah suara sirene, sejumlah warga menggelar salat berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman, diikuti dengan serangkaian acara peringatan tsunami lainnya.

Untuk diketahui, 20 tahun lalu, tepatnya pada 26 Desember 2004, Aceh digoyang gempa 9,1 magnitude. Gempa tersebut menciptakan tsunami besar yang menyapu pesisir Aceh dan berbagai negara di sekitar Samudra Hindia. Menurut PBB, tsunami saat itu menewaskan 230 ribu orang di 14 negara. Jumlah korban jiwa di Aceh mencapai 170 ribu orang.

Peringatan 20 tahun tsunami ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang telah berlangsung selama tiga bulan. Kegiatan tersebut mencakup edukasi kebencanaan, pelatihan mitigasi bencana, penanaman pohon melalui program Tahiroe Aceh, hingga tabur bunga di Ulee Lheu dan beberapa kabupaten/kota lain.

“Solidaritas dan gotong royong adalah nilai luhur bangsa kita. Kita tidak akan pernah melupakan jasa negara-negara sahabat, donatur, dan relawan yang membantu kita bangkit,” kata Safrizal.

Masyarakat Aceh diimbau untuk menjadikan peringatan ini sebagai refleksi spiritual dan sosial. “Mari kita menjaga semangat kebersamaan ini untuk membangun Aceh dan dunia yang lebih baik dan penuh kasih sayang,” ujar Safrizal.

Baca juga : Kemenhub Siapkan 2 Strategi Cegah Macet Horor Di Puncak

Pj Wali Kota Banda Aceh, Ade Surya menekankan, pentingnya mengenang tsunami Aceh sebagai pelajaran berharga bagi generasi mendatang. "Dari Aceh, kami menitipkan pesan kepada dunia; jangan pernah lengah terhadap ancaman bencana," pungkasnya.

Momen peringatan 20 tahun tsunami Aceh dimanfaatkan oleh para penyintas untuk berdoa di kuburan massal Ulee Lheue, Banda Aceh. Salah satu penyintas, Nelly mengaku, tidak pernah berhenti berdoa di kuburan massal korban musibah besar tersebut hingga 20 tahun lamanya.

“Ziarah ini adalah cara saya mengenang mereka. Rasanya tidak lengkap jika tidak mengirimkan doa di sini,” kata Nelly saat ditemui di kuburan massal Ulee Lheue Banda Aceh, seperti dikutip dari Antara.

Nelly merupakan salah seorang penyintas yang kini menetap di Banda Aceh. Dia masih belum lupa bagaimana gelombang tsunami merenggut banyak nyawa, termasuk sepupu dan keluarganya. Dia berhasil selamat karena memilih bertahan di atap rumah tetangga samping indekosnya.

“Saya sedang di kos bersama teman-teman. Setelah gempa besar, bapak kos menyuruh kami naik ke lantai dua, bahkan ke atap rumah tetangga. Dari atas, kami menyaksikan air bah menghantam, membawa mobil, pohon, dan puing-puing rumah,” ujarnya.

Baca juga : Anak Jadi Bupati Kediri, Ayah Gubernur Jakarta

Lina, warga Ulee Kareng Banda Aceh, juga tidak pernah berhenti berziarah ke kuburan massal Ulee Lheue. Lina kehilangan ibu dan adiknya yang tinggal di Punge Jurong saat tsunami melanda. Ia hanya memiliki keyakinan jenazah orang-orang tercinta dimakamkan di kuburan massal tersebut.

“Mayat mereka tidak pernah ditemukan, tetapi saya yakin mereka dimakamkan di sini,” katanya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.