Dark/Light Mode

Jelang Seabad Waterleiding di Negeri Kelahirannya Haji Agus Salim

Kamis, 30 Januari 2025 20:02 WIB
Perayaan dibukanya waterleiding pada 30 Januari 1933 oleh Asisten Residen W.J Cator. Sumber: Direproduksi dari dokumentasi Inyiak Mas Ayu Jatim
Perayaan dibukanya waterleiding pada 30 Januari 1933 oleh Asisten Residen W.J Cator. Sumber: Direproduksi dari dokumentasi Inyiak Mas Ayu Jatim

Demikian tuan, sungai mengalir

Dari mudik terus ke hilir

Berapa buah kran yang hadir

Air membasut seperti banjir (Berita Kota Gedang, Februari 1933)

Hampir seabad usia waterleiding (baca: pipa air) di ranah kelahirannya Haji Agus Salim, Nagari Koto Gadang Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat. Tepatnya pada 30 Januari 1933, pekerjaan besar yang dibiayai oleh masyarakat Koto Gadang, terakhir diselesaikan melalui dana pemerintah afdeeling Agam itu pun diresmikan.

Bermula dari Kebutuhan Air Bersih

Nagari Koto Gadang di masa Kolonial Belanda berada di bawah Onderdistrict IV Koto, Afdeeling AgamDi negeri inilah kampung halaman dari orang-orang besar di pentas pegerakan nasional, semisal Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir, A. Karim, Djamaluddin Tamim, Jahja Datuk Kajo, Roehanna Koeddoes, dan lainnya.

Baca juga : Keakraban Prabowo-Modi: Inspirasi Keselarasan Visi

Kisah waterleiding bermula dari tingginya kebutuhan masyarakat untuk memperoleh air bersih di Nagari Koto Gadang. Berbagai upaya telah mereka tempuh sebelum 1918, untuk mengalirkan sumber air yang berada di kaki Gunung Singgalang.

Melalui ide dari Demang Pajacombo asal Koto Gadang bernama Jahja Datuk Kayo -kemudian dibicarakan di rapat anak negeri,  dimulailah pekerjaan besar itu. Pekerjaan waterleiding itu dimulai pada 9 Juli 1918. Sasaran sumber airnya adalah Bulakan Batupai 1.054 dpl –yang terletak di kaki Gunung Singgalang. Jarak sumber air ini dari Koto Gadang adalah 4,5 kilometer.

Sejak dilaksanakan pada pertengahan 1918, semua warga Koto Gadang maupun yang di rantau, beriuran untuk membiayai pembangunannya. “Anak negeri semuanya mau dan suka mengeluarkan uang,” demikian Berita Kota Gedang memberitakannya. Sampai 1919, keseluruhan uang yang terkumpul baik dari negeri maupun rantau mencapai f 3000 (baca: tiga ribu gulden).

Empat tahun pelaksanaan waterleiding belum menampakkan hasil. Bahkan uang yang telah dihabiskan beribu-ribu gulden itu, belum menampakkan hasil. Seijers –Asisten Residen Agam pada 1922 pun menegaskan, bahwa masyarakat tidak perlu mengeluarkan dana besar untuk mengalirkan air dari Bulakan Batupai ke Koto Gadang. Nah, apa sebabnya?

Fort de Kock Butuh Waterleiding

Rupanya W.J Cator –Asisten Residen Fort de Kock (kini: Bukittinggi) memang membutuhkan pasokan air bersih tambahan. Pasalnya, kebutuhan air bersih untuk kota rang Agam yang berasal dari Sungai Tanang tidak lagi mencukupi. Cator menginginkan pasokan air dari Bulakan Batupai, tentu pipanya akan melewati dua nagari, yakni Nagari Koto Tuo dan Koto Gadang. “Kalau KG meminta sebagian pada air ini kepada Gemeente tentu sudah tentu diberinya, jadi beruntunglah Kota Gedang” – demikian Ketua Comitte Waterleiding dalam sambutannya pada 30 Januari 1933.

Gayung bersambut. Cator kemudian mengutus empat orang Belanda, masing-masing dua orang ahli air, seorang insinyur, dan seorang arsitek. Gambar dari arsitek itulah yang menjadi dasar dari aliran waterleiding dari kaki Gunung Singgalang hingga ke jantungnya Fort de Kock.

Baca juga : Jadi Menteri Paling Ngetop, Cak Imin Janji Gaspol

Pada 1924, terjadi pergantian pucuk pimpinan di Agam. Seijers digantikan oleh Rookmaaker. Ia mendengar keluhan, bahwa uang yang dikumpulkan warga Koto Gadang sekitar f 4000 – belum mencukupi untuk pembangunan pipa waterleiding.

Rookmaker kemudian mencari terobosan. Ia memerintahkan pada pegawainya untuk membangun penangkap air di Bulakan Batupai. Pembangunan bak penangkap air ini juga direstui oleh Datuk Tumanggung –Kepala Negeri Koto Tuo, serta Datuk Rajo Malintang – hoofd Onderdistrict IV Koto. Namun, pasca pembangunan penangkap air, Rookmaker pun pindah. Kelanjutan pembangunan waterleiding pun terhenti.

Lima tahun kemudian, proyek pemasangan pipa kembali dimulai. Tepatnya pada 1929, Groeneveldt menjabat selaku Asisten Residen Agam. Setelah melihat terbengkalainya waterleiding, Groeneveldt yang baru menjabat beberapa bulan itu, segera menyurati Gubernur Jenderal Hindia Belanda Bonifacius Cornelis de Jonge. Namun, permintaan pinjaman tanpa bunga sebesar f 20.000 itu ditolak. Apa pasal? Tentunya jumlah pinjaman yang diajukan ini sangat besar, mengingat Hindia Belanda dihadapkan dengan dampak depresi ekonomi yang menghantam dunia.

Kembali pengerjaan waterleiding tertunda terhitung sejak 1924 sampai 1932. Pasca berakhirnya kepemimpinan Groeneveldt, posisi asisten residen Agam pun beralih tangan pada A.I Spits. Persoalan finansial yang membelit proyek waterleiding, menemui titik cerah pasca Datuk Sutan Perpatih – seorang hoofddistrict Bukittinggi, menyampaikan penjelasan Comitte Waterleiding pada Cator. 

Sang Asisten Residen Fort de Kock pun mengundang para ninik mamak untuk menghadiri rapat tertutup pada 27 April 1932. Acara rapat itu dihadiri oleh Datuk Sutan Perpatih, AI Spits, juga para ninik mamak Koto Gadang. Palu pun diketuk. Cator menginginkan proyek waterleiding kembali dilanjutkan.

Pada Agustus 1932 waterleiding resmi dilanjutkan proyeknya di bawah pengawasan Jazid Dt. Rajo Mangkuto – seorang supervisor yang juga putra dari Koto Gadang. Pada awal Januari 1933, pemasangan pipa pun rampung. Air sudah bisa mengalir dari penangkap air Bulakan Batupai 1.054 dpl, ke bak Galudua 1.020 dpl (1932) di Nagari Koto Tuo, bak Gantiang 980 dpl, menuju Bak Gobah 925 dpl di Nagari Koto Gadang, untuk nantinya berakhir alirannya di Fort de Kock.

Meriahnya Pesta Waterleiding

Pasca waterleiding rampung dilaksanakan, masyarakat dan para pembesar di Nagari Koto Gadang pun bersiap melaksanakan pesta hajatan, untuk membuka kran dari sumber bak air yang ada di Koto Gadang.

Baca juga : Membangun Karakter Dai Berintegritas di Era Digital

Pada 30 Janauri 1933 tamu yang diundang pun hadir, di antaranya Asisten Residen Fort de Kock W.J Cator, AI Spits (Asisten Residen Agam), dr A Saleh Sutan Perpatih (hoofddistrict Bukittinggi), Imam Batoeah (hoofddistrict Biaro), Theunissen (Passerfonds), Jazid Rajo Mangkuto, dan Boehar dan Noezer (kepala tukang waterleiding). hoofd penghulu dari Nagari Guguak, Datuk Temanggung dari Nagari Koto Tuo, dan lainnya (de Sumatra Post, 5 Februari 1933).

Dalam pesta yang dilaksanakan meriah. Anak-anak dan keturunan dari Koto Gadang pun sudah membanjiri perayaan tersebut. Para perantau Koto Gadang yang berasal dari Sabang sampai ke Fakfak Papua pun menghadiri acara – yang direncanakan dibuka oleh Residen Sumatra Westkust, B.H.F Van Heuven (Sumatra-bode, 3 Februari 1933).

Namun, di hari yang ditunggu-tunggu warga Koto Gadang itu, Heuven berhalangan hadir. Ia pun mengutus Fanoy –Asisten Residen Padang, untuk memberikan sambutan dalam acara peresmian waterleiding di Koto Gadang (De Waterstaats Ingenieur No.3, 1933). 

Dalam sambutannya, Fanoy memuji Koto Gadang harus dicontoh oleh negeri lainnya di Sumatra Westkust. “Anak negerinya selalu berusaha bagi kemajuan negerinya. Orang K.G yang di rantau menolong usaha dengan uangnya, walaupun sekarang adalah waktu susah. Tetapi kebutuhan negerinya selalu dipentingkannya” – demikian Fanoy menyanjung tinggi uletnya orang Koto Gadang membangun saluran air bersih untuk negerinya.

Foto: W.J Cator (x) meresmikan bak Gobah yang terletak di Bukit, Nagari Koto Gadang, Afdeeling Agam. Sumber: Direproduksi dari Inyik Mas Ayu Jatim.

W.J Cator Asisten Residen Fort de Kock yang dinanti-nanti meresmikan dan membuka kran di bak Gobah, memberi sambutan. Dalam arahannya, Cator menyanjung kerja keras dari Jazid Rajo Mangkuto yang membuktikan baktinya untuk negeri kelahirannya. Di akhir pidatonya, Cator meminta massa meneriakkan tiga kali untuk kerja keras Jazid, “Hiduplah engku Jazid dengan pembantunya!”

Setelah pidatonya, Cator pun menuju ke bak Gobah yang terletak di Bukit, Koto Gadang. Ketika kran dibuka dan diresmikan oleh Cator, dilanjutkan dengan foto bersama bersama plakat yang bertuliskan, ”Pimpinan toean Spits dan atas oesaha toean W.J Cator waterleiding Kota Gedang 30_1_33” (Berita Kota Gedang, Februari 1933).

Fikrul Hanif Sufyan
Fikrul Hanif Sufyan
Penulis dan Pengajar Sejarah. Pernah Menjadi dosen tamu dalam visiting scholar di Faculty of Art University of Melbourne Australia

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.