Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Para ulama dan tokoh agama atau penceramah sangat penting untuk menjaga etika dalam berdakwah di era digital ini. Jika para dai tidak berhati-hati dalam berdakwah, bisa mengurangi esensi nilai ke-Islaman, dan dapat mendegradasi pendakwah itu sendiri.
Hal itu dikatakan Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ahmad Zubaidi, di Jakarta, Jumat (13/12/2024). Ia khawatir kondisi tadi dimanfaatkan para kelompok yang tidak bertanggung jawab, untuk mengadudomba umat Islam maupun organisasi, dengan tujuan menciptakan konflik.
“Konteksnya, supaya dakwah kita ini bisa terus berjalan dengan baik dan juga tentu agar para dai kita tetap diapresiasi oleh masyarakat,” ucap Kiai Zubaidi.
Menurut akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini, dakwah harus mengedepankan bahasa yang baik, sopan, dan mendidik, dengan tujuan memberikan contoh yang baik kepada umat. Oleh karena itu, etika, adab atau tata krama, adalah pendidikan dasar yang harus dimiliki para dai disamping pendidikan ilmu.
Baca juga : Jemaah Haji Reguler Dan Petugas Haji Terlindungi JKN
Kiai Zubaidi mengatakan, kalau hanya mengedepankan ilmu tanpa adab, bisa jadi akan menimbulkan sikap sombong dan angkuh dalam berdakwah. “Kalau sudah punya tata krama, adab, etika akhlak, insya Allah ilmunya nanti juga akan bisa bermanfaat lagi, dan dia akan memiliki tinggi dengan berkarakter yang baik,” katanya.
Oleh karena itu, Kiai Zubaidi menyerukan para dai, penceramah, mubaligh harus berhati-hati dalam berdakwah. Karena bahasa-bahasa yang tidak baik akan melukai objek dakwahnya. Sedangkan dalam berdakwah seharusnya justru memberikan perhatian, memberikan kasih sayang dengan nilai-nilai Islam yang luhur.
Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) ini mengungkapkan, seorang ulama atau dai seyogyanya terus belajar, dan memperdalam ilmu dakwahnya. Penting bagi para dai untuk menyesuaikan dengan kemajuan zaman, teknologi dan juga karakter para jamaahnya.
“Tolong jangan hanya instan, jangan hanya ingin jadi penceramah, pidato tok!” tegas Kiai Zubaidi.
Baca juga : JARI 98: Kepemimpinan Kapolri Humanis Dan Berintegritas
Dia menekankan penting juga untuk berlatih public speaking, retorika dakwah atau sisi humor untuk membumbui dakwah agar tidak kaku. “Tolong juga mulai mempelajari mulai berlatih untuk ceramah dengan gaya-gaya yang di dalamnya ada humor yang baik, sehingga insya Allah nanti semakin lama akan mumpuni ilmunya,” tambahnya.
Ia mengakui, humor dalam dakwah diperlukan. Tanpa humor, jamaah bisa bosan dan tidak tahan lama. Namun, humor yang diberikan seorang dari harus yang bernilai tinggi, berbudaya dan mengedepankan etika yang ada dalam Islam. Tidak boleh asal membuat orang tertawa, apalagi menggunakan bahasa yang tidak baik.
“Nabi juga seorang yang bisa bercanda dalam berbagai interaksi dengan para sahabat. Namun, candaan-candaan yang kita buat itu humor-humor yang tetap berkoridor berdasarkan etika, berdasarkan rasa menghormati orang lain,” ucapnya.
Di samping itu, Kiai Zubaidi mengatakan, sekarang ini ceramah tidak hanya didengar atau dilihat jamaah di masjid atau di kampung saja. Dengan adanya kemajuan teknologi dan sosial media, materi ceramah bisa disebarluaskan ke seluruh dunia. Oleh karena itu, prinsip kehati-hatian sangat diperlukan ketika berbicara di depan publik.
Baca juga : Menko PMK: Komdigi Harus Maksimal Berantas Judol, Tutup Semua Situs
“Aspek kehati-hatian harus ditonjolkan, tidak saja karena faktor kekhawatiran akan dipublikasikan di mana-mana, tapi juga memang etika Islam mengajarkan demikian,” tandas Kiai Zubaidi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya