Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Menko Pratikno Minta Pemprov Bantu Modifikasi Cuaca, Utamanya Di Hulu Ciliwung
Selasa, 4 Maret 2025 18:42 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menekankan pentingnya operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mengurangi dampak banjir yang melanda wilayah Jabodetabek.
Dalam rapat koordinasi yang digelar secara daring pada Selasa (4/3/2025), ia meminta agar pemerintah provinsi, khususnya di daerah hulu Sungai Ciliwung, turut berperan aktif dalam pelaksanaan OMC guna mengurangi intensitas curah hujan.
“Kalau bisa operasi modifikasi cuaca ini dilakukan juga oleh pemprov, terutama di hulu Sungai Ciliwung,” kata Pratikno dalam rapat yang dihadiri oleh BNPB, BMKG, Basarnas, serta kepala daerah terdampak banjir.
Selain itu, Pratikno menegaskan bahwa keselamatan warga harus menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana ini. Ia meminta BNPB dan Kementerian PUPR untuk segera mengoordinasikan upaya pembersihan lingkungan serta pemulihan infrastruktur yang terdampak.
Baca juga : Menko Pratikno Minta Pemprov Lakukan Modifikasi Cuaca, Utamanya Di Hulu Ciliwung
“Kejadian banjir di jantung Jabodetabek, mohon segera diantisipasi, karena ini cepat sekali menjadi isu. Jangan sampai masalah bencana alam menjadi masalah sosial dan politik,” tandasnya.
Bekasi Lumpuh, Ketinggian Air Di Sungai Kali Ciliwung Capai 8 Meter
Dalam rapat yang sama, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto melaporkan bahwa banjir di wilayahnya telah menyebabkan lumpuhnya delapan kecamatan. Banjir terjadi akibat meluapnya Kali Bekasi yang merupakan pertemuan antara Kali Cikeas dan Kali Cileungsi. Ketinggian air di beberapa titik bahkan mencapai 8 meter, melebihi banjir besar tahun 2016 dan 2020.
“Sejak semalam sudah mulai terlihat ketinggian air di Kota Bekasi, yang parah itu di sekitar Kali Bekasi. Dampaknya luar biasa, delapan kecamatan terdampak dan pagi ini Kota Bekasi lumpuh,” kata Tri.
Baca juga : Antisipasi Banjir: BNPB Gelar Operasi Modifikasi Cuaca, Ada Warning Dari BMKG
Banjir tidak hanya merendam pemukiman warga, tetapi juga gedung pemerintahan, jalan utama, dan pusat perbelanjaan. Akibatnya, ribuan warga terpaksa mengungsi ke lokasi-lokasi yang telah disediakan oleh pemerintah daerah.
Kepala BNPB Suharyanto dalam rapat tersebut menegaskan bahwa evakuasi warga harus dilakukan dengan lebih baik. Ia meminta laporan mengenai kebutuhan perahu karet di wilayah Depok dan Bekasi, serta menjanjikan tambahan logistik dan bantuan permakanan bagi para korban banjir.
“Kekurangan perahu karet di Depok berapa? Segera laporkan. Operasi modifikasi cuaca BNPB akan dilakukan sampai tanggal 8. Paling tidak hujan akan kita kurangi beberapa hari ke depan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengingatkan bahwa puncak curah hujan di Jabodetabek diperkirakan terjadi pada 10-11 Maret 2025. Ia meminta pemerintah daerah untuk terus memperbarui informasi peringatan dini dan segera melakukan langkah antisipatif, terutama di daerah-daerah rawan longsor dan banjir.
Baca juga : DPRD Minta Pemprov DKI Kebut Pembebasan Lahan Normalisasi Kali Ciliwung
“Per 27 Februari BMKG sudah menyampaikan peringatan dini. Kami update sepekan ke depan, nampaknya puncaknya di tanggal 10-11 Maret,” kata Dwikorita.
Saat ini, tim gabungan dari BNPB, Basarnas, BPBD, dan dinas terkait tengah dikerahkan untuk menangani dampak banjir di berbagai titik. Pemerintah daerah diimbau untuk tetap siaga dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya