Dark/Light Mode

Belajar Dari Gempa Myanmar, Ini Saran PBNU

Kamis, 3 April 2025 06:29 WIB
Gedung 30 lantai yang sedang dibangun di kawasan Chatuchak, Bangkok, Thailand, rubuh, terdampak gempa dahsyat Myanmar, Jumat (28/3/2025). (Foto NDTV)
Gedung 30 lantai yang sedang dibangun di kawasan Chatuchak, Bangkok, Thailand, rubuh, terdampak gempa dahsyat Myanmar, Jumat (28/3/2025). (Foto NDTV)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengurus Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PBNU, M Ali Yusuf, mengatakan, Indonesia harus mengambil hikmah dari gempa di Myanmar dengan menyiapkan Infrastruktur dan mitigasi bencana.

Menurut Ali, Gempa bumi berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang Myanmar dan Thailand baru-baru ini menyebabkan kerusakan parah karena faktor utama.

Pertama, gempa terjadi pada kedalaman dangkal, yaitu 10 kilometer, dengan episentrum di daerah Sagaing, Myanmar. "Gempa dengan kedalaman dangkal berpotensi menimbulkan kerusakan yang lebih besar,” ujar M Ali Yusuf, dilansir laman NU, pada Rabu (2/4/2025).

Kedua, ketidaksiapan infrastruktur di daerah yang terdampak, khususnya di Sagaing, untuk menahan goncangan gempa.

Menurutnya, bukan karena ceroboh, tetapi lebih kepada kurangnya kesadaran dan persiapan dalam menghadapi gempa. 

Baca juga : Bantuan Korban Gempa Myanmar Tunjukkan Solidaritas Kemanusiaan Indonesia

Infrastruktur di daerah tersebut tidak dirancang untuk tahan terhadap goncangan gempa meskipun wilayah ini dikenal rawan bencana seismik dengan kekuatan tinggi.

Fenomena ini, kata Yusuf, juga berlaku di Indonesia dan hampir semua negara di kawasan ASEAN yang rentan terhadap gempa bumi, karena sebagian besar wilayah ini terletak di jalur lempeng tektonik aktif.

Indonesia, khususnya, berada di persimpangan tiga lempeng tektonik aktif, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik, serta berada di Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), yang menjadikannya rawan aktivitas seismik dan vulkanik.

“Indonesia juga memiliki sekitar 295 sesar aktif yang tersebar dari Pulau Sumatera hingga Pulau Papua, yang menjadi penyebab utama gempa bumi,” imbuhnya.

Dalam menghadapi potensi bencana, kesiapan infrastruktur dan masyarakat menjadi hal yang sangat penting.

Baca juga : Korban Tewas Gempa Dahsyat Myanmar Kini Tembus 1.644, Korban Luka 3.408

Yusuf menegaskan bahwa Indonesia, sebagai negara yang terletak di wilayah rawan gempa, harus memperkuat infrastruktur, terutama dalam merancang bangunan yang tahan gempa.

Selain itu, kesiapsiagaan masyarakat untuk menyelamatkan diri juga menjadi hal yang harus diprioritaskan. “Kesiapan ini harus dilatih dan dikuasai, karena menyelamatkan diri bukanlah sesuatu yang bisa terjadi begitu saja,” ujarnya.

Yusuf juga mengingatkan bahwa meskipun fenomena megathrust atau gempa besar bisa terjadi kapan saja, kita tidak perlu panik atau takut berlebihan.  

“Panik hanya akan memperburuk situasi. Kunci utama adalah mitigasi dan kesiapsiagaan, baik dalam bentuk infrastruktur yang kokoh maupun kesiapan sumber daya manusia,” tandasnya.

Dengan semakin banyaknya negara yang menghadapi potensi bencana alam seperti gempa bumi, kesiapan terhadap bencana menjadi tanggung jawab bersama.

Baca juga : Innalillahi, Korban Tewas Gempa Myanmar Tembus 1.000 Orang, 2.300 Terluka

Masyarakat dan Pemerintah harus terus berkolaborasi dalam meningkatkan kesadaran, mempersiapkan diri, dan memperkuat infrastruktur guna mengurangi dampak dari bencana yang tidak bisa diprediksi.

Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang berada pada kedalaman 10 km (6,2 mil) terjadi di Myanmar pada Jumat (28/4/2025) sekitar pukul 13:00 waktu setempat.

Pusat gempa berada sekitar 17 km dari Mandalay, kota berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa. Berdasarkan Data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa susulan berkekuatan magnitudo 6,4 tercatat 12 menit kemudian di lokasi terdekat berjarak sekitar 60 kilometer.

Beberapa gempa yang lebih sedang muncul setelahnya. Gempa juga dirasakan hingga ke wilayah tengah dan utara Thailand, termasuk Bangkok hingga terasa provinsi Yunnan barat daya China, yang berbatasan dengan Myanmar.

Gempa tersebut merupakan gempa kembar atau doublet earthquake, yakni dua peristiwa gempa bumi yang memiliki magnitudo hampir sama, terjadi dalam waktu dan lokasi pusat gempa yang relatif berdekatan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.