Dark/Light Mode

Kolaborasi Kemenkes dan Takeda Lakukan Aksi Nyata, Cegah Wabah DBD

Rabu, 23 April 2025 17:46 WIB
Media briefing Waspada DBD yang digelar Takeda bersama Kemenkes. (Foto: Dok. Takeda)
Media briefing Waspada DBD yang digelar Takeda bersama Kemenkes. (Foto: Dok. Takeda)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, sampai dengan 13 April 2025, terdapat 38.740 kasus dengue di Indonesia (Incidence Rate/IR: 13,67/100.000 penduduk). Kematiannya sebanyak 182 kasus (Case Fatality Rate/CFR: 0,47 persen), yang tersebar di 447 kabupaten/kota di 34 provinsi.

Meskipun angka ini lebih rendah dibandingkan dengan lonjakan kasus pada periode yang sama tahun lalu, Kemenkes mengeluarkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/466/2025 tentang “Kewaspadaan Dini terhadap Penyakit DBD dan Chikungunya” kepada seluruh Dinas Kesehatan. Hal ini bentuk kewaspadaan dini terhadap potensi peningkatan kasus di awal tahun 2025.

Penurunan tren ini tidak serta merta menjadi alasan untuk melonggarkan kewaspadaan. Sebagai negara hiper-endemik, Indonesia terus menghadapi risiko penularan dengue sepanjang tahun, yang dapat meningkat kapan saja jika langkah pencegahan tidak dilakukan secara konsisten.

Melalui kegiatan media briefing bertajuk “Waspada DBD: Lindungi Keluarga, Selamatkan Masa Depan”, PT Takeda Innovative Medicines bekerja sama dengan Kemenkes kembali mendorong pentingnya edukasi dan pencegahan terhadap dengue. Acara ini merupakan bagian dari kampanye berkelanjutan Cegah DBD yang telah berjalan sejak tahun 2023.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, dalam sambutannya menyampaikan, lebih dari setengah abad berlalu, DBD tetap menjadi masalah kesehatan yang serius. Data Kementerian Kesehatan tahun 2024 menunjukkan bahwa jumlah kasus dan kematian meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2023.

Baca juga : Paus Fransiskus Wanti-Wanti Tak Mau Dimakamkan Di Vatikan, Kenapa?

Per April 2025, sudah tercatat lebih dari 38.000 kasus dan lebih dari 100 kematian akibat DBD. "Kita semua menyadari bahwa DBD dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti perubahan iklim, kepadatan penduduk, dan mobilitas masyarakat. Artinya, siapa pun bisa berisiko terkena penyakit ini," ujarnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, pencegahan yang menyeluruh perlu menjadi perhatian bersama. "Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk menanggulangi DBD secara efektif,” tambahnya.

Dante menyampaikan apresiasi kepada PT Takeda Innovative Medicines atas terselenggaranya acara media briefing ini. “Saya berharap, kampanye ini menjadi titik awal lahirnya gelombang kepedulian dan aksi nyata dari seluruh lapisan masyarakat, demi mendukung cita-cita besar kita bersama: ‘Nol Kematian Akibat DBD pada Tahun 2030’,” tutup Dante.

Ketua Tim Kerja Arbovirosis Kemenkes 

dr. Fadjar SM Silalahi mengatakan, dengue adalah penyakit yang bisa mengancam nyawa. Karena itu, tidak boleh lagi menunggu sampai puncak kasus (wabah) untuk bertindak.

Baca juga : Raja Yordania Tak Pernah Lupakan Persahabatan dengan Prabowo

Kata dia, banyak masyarakat yang masih salah menganggap bahwa dengue merupakan penyakit musiman. Padahal, faktanya tidak begitu. Penyakit dengue ada dan dapat menyebar sepanjang tahun, walaupun memang pada bulan-bulan tertentu kasusnya bisa melonjak secara signifikan.

"Salah satu tantangan besar kami adalah melawan persepsi tersebut. Oleh karena itu, kami terus memperkuat kewaspadaan melalui edukasi dan pencegahan lintas sektor. Mendorong masyarakat untuk disiplin menerapkan 3M Plus dan mempertimbangkan penggunaan pencegahan yang inovatif,” ucapnya.

Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, melihat bahwa edukasi publik memiliki peran kunci dalam mengubah cara memahami dan menghadapi dengue. Hal ini salah satunya terlihat hasil studi lintas negara yang dilakukan Takeda dengan melibatkan 3.800 responden dari tujuh negara di Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

"Studi ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman masyarakat tentang dengue, termasuk vektor, pencegahan, dan vaksinasi, masih rendah-rata-rata hanya 47 persen," ucapnya.

Menariknya, lanjutnya, Indonesia mencatat skor tertinggi dalam praktik pengendalian vektor secara mandiri, dengan 56 persen responden aktif melakukan upaya pencegahan. "Namun, studi berkala yang dilakukan oleh salah satu perusahaan riset pasar internasional, ternyata menemukan bahwa masyarakat Indonesia cenderung tidak konsisten dan hanya mengintensifkan tindakan pencegahan pada musim hujan atau saat terjadi lonjakan kasus,” ucapnya.

Baca juga : Hari Kesehatan Sedunia 2025 Dan Asta Cita

Menurut Andreas, hal ini menunjukkan perlunya upaya edukasi yang lebih konsisten dan berkesinambungan. Itulah yang mendorong Takeda untuk memperkuat kampanye CegahDBD tahun ini.

"Hari ini, kami meluncurkan video edukatif terbaru, situs web interaktif, dan kanal WhatsApp yang dirancang agar informasi penting bisa menjangkau lebih banyak keluarga di Indonesia, dengan bahasa yang mudah dipahami dan terpercaya,” tutupnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.