Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Catatan Prof. Rosari Saleh
Di Balik Layar Teknologi: Tumpukan Sampah yang Tak Terlihat
Selasa, 20 Mei 2025 09:38 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam setiap detik yang kita habiskan menatap layar ponsel pintar, laptop, atau perangkat digital lainnya, ada jejak tak terlihat yang jarang kita pikirkan: sampah elektronik (e-waste) yang terus menumpuk di berbagai sudut dunia. Sebagai fisikawan yang terbiasa membaca jejak-jejak tak kasatmata dalam alam semesta, saya melihat bahwa salah satu paradoks terbesar peradaban digital kita hari ini adalah ilusi kemajuan yang dibangun di atas fondasi limbah.
Menurut laporan ScienceDirect, e-waste kini menjadi limbah padat dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Pada tahun 2021 saja, manusia menghasilkan lebih dari 57 juta ton sampah elektronik—setara dengan bobot Tembok Besar China. Ironisnya, hanya kurang dari 20 persen dari jumlah tersebut yang berhasil didaur ulang secara formal dan aman. Sisanya? Tersebar di tempat pembuangan terbuka, membakar paru-paru bumi dan penduduknya secara perlahan.
Apa yang sebenarnya ada dalam e-waste ini? Bukan sekadar logam rongsokan, tetapi racun-racun tersembunyi: merkuri, timbal, kadmium, brominated flame retardants—zat-zat yang tak hanya mencemari tanah dan air, tetapi juga menyerang sistem saraf manusia, mengganggu hormon, bahkan berkontribusi pada kanker.
Baca juga : Akhirnya Terwujud, Impian 13 Tahun Pasutri Asal Padang untuk Berhaji
Laporan DW menyebut, e-waste sebagai “sampah tak terlihat”—dan memang begitulah cara dunia memosisikannya. Ketika kita mengganti gawai lama dengan yang terbaru, kita tidak melihat ke mana perangkat lama itu pergi. Seringkali, limbah ini dikirim ke negara-negara berkembang di Afrika dan Asia, termasuk Indonesia, dalam bentuk sumbangan, ekspor barang bekas, atau—yang lebih sering—secara ilegal. Kita menyaksikan bentuk baru kolonialisme digital, ketika negara maju mencuci tangan dari limbahnya, dan negara berkembang menjadi tempat pembuangan akhir.
Sebagai akademisi dan warga dunia, saya prihatin bahwa literasi digital sering kali berhenti pada keterampilan menggunakan teknologi, tetapi tidak menyentuh aspek etika dan keberlanjutan teknologi. Kita belum banyak berbicara soal tanggung jawab produsen (extended producer responsibility), hak konsumen untuk mendapatkan perangkat yang bisa diperbaiki (right to repair), atau pentingnya desain teknologi yang lebih ramah lingkungan.
Saya juga mengajak kampus, sekolah, dan komunitas sains untuk menyadari peran kita bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai penjaga peradaban. Pendidikan STEM (sains, teknologi, engineering, matematika) harus menyatu dengan pendidikan lingkungan dan sosial. Kita harus berhenti mencetak lulusan yang hanya tahu menciptakan teknologi, tapi tidak tahu ke mana limbahnya pergi.
Baca juga : Kemendag Temukan Ada Barang Bajakan Dan Ilegal
Karena sesungguhnya, kemajuan yang tidak disertai dengan kesadaran ekologis adalah bentuk kemunduran yang disamarkan.
Jika setiap klik menghasilkan karbon, maka setiap gawai menyisakan jejak racun. Kita tidak bisa bicara tentang masa depan digital tanpa membenahi warisan sampah elektronik yang kita tinggalkan hari ini. Dunia maya tidak boleh menjadi alasan untuk melupakan kenyataan bumi tempat kita berpijak.
Prof. Rosari Saleh
PengajarUniversitasIndonesia
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya