Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Sekitar 80 orang mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang mengikuti kuliah lapangan untuk kearsipan pada Jumat (23/5/2025). Tujuan mereka adalah menelisik rekam jejak masa Kolonial Belanda di Museum dan Galeri Arsip Statis (GAS) yang berada di Balai Kota Padang.
Rombongan yang terdiri dari tiga kelas tersebut dibina oleh Fikrul Hanif Sufyan. “Kuliah lapangan ini berhubungan dengan penelusuran arsip di masa Kolonial Belanda hingga kemerdekaan. Karena GAS ini kaya dengan arsip statis. Kuliah ini tidak hanya sekadar praktik, tapi juga mendorong minat mahasiswa untuk mengetahui jenis arsip statis itu sendiri. Arsip bernilai sejarah,” ujar dosen pengampu mata kuliah Kearsipan, yang juga mantan jurnalis Rakyat Merdeka tersebut.
Galeri ini merupakan bagian penting dari Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang yang didirikan pada 2015. Di tempat ini, pengunjung bisa berselancar ke masa lampau, dengan melihat beberapa koleksi arsip yang dipajang, berupa foto-foto tempo dulu dan arsip-arsip yang berhubungan dengan tumbuh kembangnya Kota Padang.
Baca juga : DPR: Mendag Jangan Kendor
Keberadaan dari GAS sendiri, yang awalnya berada di Jalan Sudirman No. 1, kemudian pindah ke lantai 2, Gedung Balai Kota Padang. Bangunan ini merupakan bagian dari peninggalan masa Kolonial Belanda. Dahulunya, gedung ini bernama Gemeente atau Gedung Pemerintah Daerah Padang, yang dirancang oleh arsitek Belanda, Thomas Karsten.
Awalnya, pusat pemerintahan berlokasi di sekitar Batang Arau. Di sana juga dibangun pengadilan tinggi di michiesplein.
Pada 1910, dewan mendiskusikan membangun gemeente baru, dengan total biaya diperkirakan f 16.000. Setelah melalui proses panjang, pemerintah membeli tanah untuk pasar dan balaikota. Pada 1936, akhirnya bangunan gemeente Padang selesai dibangun.
Baca juga : Darmizal Beberkan 9 Alasan Jokowi Pantas Jadi Ketum PSI
Pengenalan terhadap koleksi arsip yang ada di Musem dan GAS dimulai dengan penelusuran nama-nama para walikota, yang pernah memimpin Kota Padang, dipandu oleh Tifan Perdana. Dimulai dari Walikota Padang yang awalnya dipimpin di masa awal kemerdekaan hingga kini.
Melangkah ke bagian tengah bangunan di lantai dua, dikenalkan mengenai foto-foto tempo dulu, yang menggambarkan kondisi Padang sebagai Ibukota dari Sumatra Westkust pada awal abad ke-20.
Di bagian sayap kanan, di sanalah data arsip statis GAS dipamerkan. Dengan koleksi arsip statis milik GAS ini, mahasiswa mampu terkoneksi dengan kisah tempo dulu, yang terekam dalam arsip tekstual, peta, foto, audio, dan video.
Baca juga : Lestari Moerdijat: Peran Keluarga Hadirkan Generasi Penerus Berdaya Saing
Restu Pramona, Fungsional Arsiparis Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang menjelaskan, ada sekitar 150 foto koleksi dari Kantor Arsip dan Perpustakaan yang dipajang dan sekitar 55.288 entri arsip.
“Masih ada arsip statis yang belum didigitalisasi. Arsip Staatblad 205 jenis 235 eksemplar adalah yang terbanyak yang dimiliki GAS,” ujarnya, dalam pemaparan materi pada mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya