Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
MUI Ingatkan Bahaya Anak Muda Cari Informasi Dan Belajar Agama Dari Ustaz Google
Selasa, 17 Juni 2025 15:18 WIB
Sebelumnya
Tantangan dan Solusi Menjaga Islam Moderat di Era Digital
Cak Duki kembali memaparkan, konten provokatif cenderung lebih menarik algoritma dibanding pesan moderat. Narasi intoleran sering tampil nyaring di media sosial karena sifatnya kontroversial dan emosional. Sementara konten wasathiyah tenggelam (kurang engagement).
Influencer ekstrem bisa membangun echo chamber yang mengisolasi audiens dari pandangan alternatif. Moderat pun menghadapi tantangan “silent majority vs noisy minority” kelompok moderat mayoritas bersikap diam, sedangkan minoritas ekstrem sangat vokal.
Baca juga : Ini Jadwal Dan Syarat Penerimaan Murid Baru Sekolah Negeri Dan Swasta Di Jakarta
Dikatakan, banyak pengguna belum mampu memilah mana konten keagamaan kredibel. Hoaks dan ujaran kebencian mudah dipercaya bila dikemas berbau agama. Minimnya verifikasi dalil (cek sanad, validitas hadis) di kalangan awam membuat misinformasi tumbuh subur.
Selain itu, serangan siber terhadap juru bicara moderat (misal perundungan digital, doxing) dapat mengintimidasi dan membungkam penyebaran pesan damai. Solusianya, meningkatkan literasi digital keagamaan adalah kunci.
Umat perlu dibekali keterampilan memverifikasi sumber ajaran (cek sanad hadis, konteks ayat), mengevaluasi kredibilitas ustaz online, dan mengenali ciri konten radikal. Kemudian program edukasi melalui workshop, kurikulum formal, hingga kampanye publik harus digencarkan oleh ormas, kampus, maupun pemerintah untuk membangun sikap kritis dalam mengonsumsi konten religi.
Baca juga : Garuda Harus Belajar dari Jepang
Selanjutnya, kaum moderat perlu lebih proaktif dan kreatif di ruang digital. Dai dan akademisi muslim harus memanfaatkan multiplatform (YouTube, podcast, TikTok) dengan strategi konten yang relevan bagi anak muda. Narasi Islam wasathiyah bisa dikemas melalui storytelling, seni, atau humor yang menarik tanpa mengurangi esensi.
Upaya kolektif ini sejalan dengan ajakan agar masyarakat dan ormas menyebarkan pesan rahmatan lil alamin di dunia maya guna membendung pengaruh radikalisme. Selain itu, butuh sinergi multi pihak. Menjaga moderasi beragama di era digital membutuhkan kolaborasi luas.
Pemerintah, ormas, komunitas, dan platform teknologi harus bahu-membahu. Contohnya, BNPT menggandeng kaum muda melalui program Duta Damai Dunia Maya untuk memproduksi konten kontra-radikalisme.
Baca juga : Putri Irman Gusman Raih Gelar MBA dari Universitas Chicago
Pemerintah juga mengadakan pelatihan bagi aparatur humas lintas lembaga untuk menyebarkan narasi moderat. Kerja sama dengan perusahaan medsos dalam moderasi konten (filter otomatis, fact-checking) perlu ditingkatkan. Sinergi ini akan memenuhi lini masa dengan konten positif dan menekan penyebaran ide ekstrem.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya