Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
MUI Ingatkan Bahaya Anak Muda Cari Informasi Dan Belajar Agama Dari Ustaz Google
Selasa, 17 Juni 2025 15:18 WIB
Sebelumnya
Islam Kebangsaan, Demokrasi & Keutuhan NKRI
Cak Duki melanjutkan, hasil survei SMRC 2017 menunjukkan, 79,3 persen responden menilai NKRI berideologi Pancasila sebagai bentuk negara terbaik, hanya 9,2 persen yang setuju Indonesia menjadi negara khilafah. Mayoritas umat Islam Indonesia mendukung konsep Islam kebangsaan yang sejalan dengan demokrasi Pancasila.
Keterikatan antara pemahaman keislaman yang wasathiyah-nasionalis dengan komitmen pada NKRI terbukti kuat. Sehingga peran Islam moderat krusial dalam menjaga eksistensi Indonesia sebagai negara majemuk.
Meski pendukung ide khilafah hanyalah minoritas, jumlah absolutnya signifikan (sekitar 20 juta penduduk). Sehingga tetap perlu diwaspadai pengaruhnya terhadap stabilitas nasional.
Dikatakan, organisasi Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah konsisten menanamkan Islam wasathiyah yang cinta tanah air. Keduanya merepresentasikan kekuatan civil society Islam dan berperan penting dalam konsolidasi demokrasi di Indonesia.
Baca juga : Ini Jadwal Dan Syarat Penerimaan Murid Baru Sekolah Negeri Dan Swasta Di Jakarta
Studi menunjukkan penguatan Islam moderat melalui NU-Muhammadiyah terkait langsung dengan keberlanjutan demokrasi dan keselamatan masyarakat. Ditambahkannya, pemahaman “Islam kebangsaan” berperan sebagai benteng terhadap ideologi transnasional yang mengancam NKRI.
Misalnya, konsep khilafah ala HTI dianggap tidak cocok dengan Indonesia dan mengganggu persatuan nasional. Pemerintah bertindak tegas membubarkan kelompok semacam itu demi menjaga Pancasila dan UUD 1945. Hal ini menegaskan bahwa dukungan umat pada demokrasi Pancasila harus dibarengi kewaspadaan terhadap ide-ide radikal yang dapat memecah belah negara.
Risiko Konten Keislaman Digital Tanpa Sanad: Peluang Radikalisme
Diingatkan Cak Duki, era digital melahirkan banyak influencer agama dadakan tanpa latar belakang keilmuan mumpuni, ustaz Instan dan otoritas semu. Popularitas di medsos kerap menggeser otoritas ulama tradisional muncul ustaz medsos dengan ribuan pengikut, meski ilmu agamanya dangkal.
Fenomena ini menantang sistem otoritas keagamaan konvensional, karena konten viral sering kali lebih didengar daripada nasihat kiai ber-sanad.
Baca juga : Garuda Harus Belajar dari Jepang
Dalam tradisi Islam, sambungnya, belajar harus berguru pada ulama yang memiliki sanad (rantai keilmuan) tersambung hingga Rasulullah. Konten agama digital yang tanpa sanad berisiko menyesatkan. Ulama mengingatkan bahwa tanpa sanad, orang akan bebas bicara agama sesuka hati sesuai hawa nafsu dan kepentingannya.
"Contoh nyata, banyak kasus ayat atau hadits dikutip sepotong-potong di media sosial untuk pembenaran kekerasan atau sikap intoleran," sebutnya.
Nah, Cak Duki menekankan, belajar agama secara otodidak lewat internet tanpa bimbingan guru dinilai berbahaya. Generasi muda yang hanya mengandalkan Google atau YouTube rentan terpapar tafsir tekstual sempit, teori konspirasi, atau ideologi ekstrim. Tanpa sistem sanad yang memverifikasi kebenaran ilmu, pintu masuk radikalisme menjadi terbuka lebar di ranah digital.
Karena itu, ormas Islam besar seperti NU dan Muhammadiyah berupaya memenuhi ruang digital dengan konten Islam wasathiyah (moderat dan toleran). Misalnya, situs NU Online telah diakui sebagai rujukan informasi keislaman moderat di dunia maya. Keduanya aktif menerbitkan artikel, fatwa, dan video ceramah yang mengajarkan Islam rahmatan lil ‘alamin guna menangkal narasi ekstrem.
Kesadaran bahwa “internet adalah wilayah dakwah” mendorong ormas moderat lebih giat hadir di media sosial. NU, Muhammadiyah, dan ormas lain menggalang tim cyber dakwah (seperti Cyber Army NU, dll) untuk menyebarkan pesan wasathiyah. Mereka juga bekerja sama dengan pemerintah (Kominfo, BNPT) dalam program deradikalisasi online, seperti pembuatan konten kontra-narasi ekstrem dan pelaporan konten radikal.
Baca juga : Putri Irman Gusman Raih Gelar MBA dari Universitas Chicago
Ormas keagamaan menjalankan pelatihan literasi digital bagi dai dan anggotanya agar melek teknologi. Kader muda didorong memproduksi konten kreatif Islam moderat (infografis, vlog, podcast) sehingga dapat bersaing narasi dengan konten radikal di lini masa.
Langkah ini sejalan dengan anjuran agar ormas Islam moderat lebih banyak terlibat di dunia maya, jangan sampai internet justru didominasi paham keras. NU dan Muhammadiyah juga menekankan pentingnya sanad keilmuan meski dakwah beralih ke digital.
Melalui lembaga pendidikan dan pesantren daring, mereka memastikan ajaran yang disebar tetap bersumber dari ulama otoritatif. Peran ini menjaga otentisitas pemahaman agama di tengah banjir konten tanpa sanad.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya