Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Lanjutan Sidang Impor Gula Kristal Mentah
Ahli Dan Lembong Adu Data
Rabu, 18 Juni 2025 07:15 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Impor Gula Kristal Mentah (GKM) memiliki dampak buruk terhadap para petani tebu di Indonesia. Harga impor GKM impor yang lebih murah daripada harga produksi petani tebu, membuat para petani mengalihfungsikan lahannya.
Hal tersebut diungkapkan ahli bidang pengelolaan gula dari Institut Teknologi Sumatera (Itera), Muhammad Rizky Ramanda.
Dia menerangkan hal itu dalam sidang kasus dugaan korupsi importasi gula di Kementerian Perdagangan (Kemendag) tahun 2015–2016. Terdakwa dalam persidangan ialah mantan Mendag Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong.
Rizky mengatakan, ada dampak buruk bagi petani jika perusahaan-perusahaan Gula Kristal Rafinasi (GKR) di Tanah Air justru melakukan impor GKM, lalu diolah menjadi gula kristal putih (GKP).
Baca juga : Meski DKI Kasih Subsidi, Bodetabek Kudu Saweran
“Akan berdampak kepada petani yang memproduksi atau membudidaya tebu, sehingga akan terjadi kecemburuan,” kata Rizky, menjawab pertanyaan jaksa penuntut umum Kejaksaan Agung (Kejagung) dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Selasa (17/6/2025).
Bukan hanya petani, kecemburuan karena adanya kesenjangan juga bakal dirasakan perusahaan gula yang mengolah tebu petani menjadi GKP. Adanya selisih harga gula internasional dari GKP dan GKM, menjadi pemicunya. Sehingga perusahaan pengolahan GKP pun dapat beralih lebih memilih bahan baku impor yaitu GKM.
“Kalau itu terjadi, maka petani pun akan mengalami kerugian, sehingga akan mengalami alih fungsi lahan,” sambungnya.
Selain itu, adanya perbedaan harga gula internasional dengan harga gula putih impor pada rentang 2017 lalu, turut memberikan dampaknya. Sebab, Indonesia bakal lebih tertarik untuk melakukan impor gula.
Baca juga : Real Madrid Vs Al Hilal, Debut Alonso-Inzaghi
“Nah, ketika daya tarik importasi ini menjadi hal yang menarik, ini akan memberikan kebijakan terkait impor gula, tarifnya menjadi 0 persen. Seperti itu,” ucap Rizky.
Saat itu, maka ada eranya gula impor tersebut membanjiri pasar Indonesia. Apa yang terjadi ketika impor tersebut tidak dibatasi?
“Ya pada akhirnya semua akan mau impor karena ada selisih harga tersebut yang tidak bisa kita elakkan,” sambungnya.
Dalam tanggapannya, Tom menjelaskan, terkait tingginya harga pangan pada 2015, ada perintah dari Pemerintah untuk menurunkan harga-harga kebutuhan masyarakat.
Baca juga : William Dan SGA Menggila, Thunder Selangkah Lagi Juara NBA
Dan dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) di kementeriandan eselon I, diminta untuk menurunkan harga gula secepatnya.
Soal harga Cost of Goods Sold (COGS) atau harga pokok penjualan (HPP), menurut Tom, para industri gula swasta menyebut bahwa perhitungan yang dilakukan Rizky dalam berita acara pemeriksaan (BAP) keliru.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya