Dark/Light Mode

Lanjutan Sidang Impor Gula Kristal Mentah

Ahli Dan Lembong Adu Data

Rabu, 18 Juni 2025 07:15 WIB
Terdakwa kasus dugaan korupsi impor gula Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (10/6/2025) lalu. (Foto: Randy Tri Kurniawan/RM)
Terdakwa kasus dugaan korupsi impor gula Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (10/6/2025) lalu. (Foto: Randy Tri Kurniawan/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Impor Gula Kristal Mentah (GKM) memiliki dampak buruk terhadap para petani tebu di Indonesia. Harga impor GKM impor yang lebih murah daripada harga produksi petani tebu, membuat para petani mengalihfungsikan lahannya.

Hal tersebut diungkapkan ahli bidang pengelolaan gula dari Institut Teknologi Sumatera (Itera), Muhammad Rizky Ramanda.

Dia menerangkan hal itu da­lam sidang kasus dugaan korupsi importasi gula di Kementerian Perdagangan (Kemendag) tahun 2015–2016. Terdakwa dalam per­sidangan ialah mantan Mendag Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong.

Rizky mengatakan, ada dampak buruk bagi petani jika peru­sahaan-perusahaan Gula Kristal Rafinasi (GKR) di Tanah Air justru melakukan impor GKM, lalu diolah menjadi gula kristal putih (GKP).

Baca juga : Meski DKI Kasih Subsidi, Bodetabek Kudu Saweran

“Akan berdampak kepada petani yang memproduksi atau membudidaya tebu, sehingga akan terjadi kecemburuan,” kata Rizky, menjawab pertanyaan jaksa penuntut umum Kejaksaan Agung (Kejagung) dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Selasa (17/6/2025).

Bukan hanya petani, kecembu­ruan karena adanya kesenjangan juga bakal dirasakan perusahaan gula yang mengolah tebu petani menjadi GKP. Adanya selisih harga gula internasional dari GKP dan GKM, menjadi pemicunya. Sehingga perusahaan pengolahan GKP pun dapat beralih lebih memilih bahan baku impor yaitu GKM.

“Kalau itu terjadi, maka petani pun akan mengalami kerugian, sehingga akan mengalami alih fungsi lahan,” sambungnya.

Selain itu, adanya perbedaan harga gula internasional dengan harga gula putih impor pada rentang 2017 lalu, turut memberikan dampaknya. Sebab, Indonesia bakal lebih tertarik untuk melakukan impor gula.

Baca juga : Real Madrid Vs Al Hilal, Debut Alonso-Inzaghi

“Nah, ketika daya tarik im­portasi ini menjadi hal yang menarik, ini akan memberikan kebi­jakan terkait impor gula, tarifnya menjadi 0 persen. Seperti itu,” ucap Rizky.

Saat itu, maka ada eranya gula impor tersebut membanjiri pasar Indonesia. Apa yang terjadi ketika impor tersebut tidak dibatasi?

“Ya pada akhirnya semua akan mau impor karena ada selisih harga tersebut yang tidak bisa kita elakkan,” sambungnya.

Dalam tanggapannya, Tom menjelaskan, terkait tingginya harga pangan pada 2015, ada perintah dari Pemerintah untuk menurunkan harga-harga kebutuhan masyarakat.

Baca juga : William Dan SGA Menggila, Thunder Selangkah Lagi Juara NBA

Dan dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) di kementeriandan eselon I, diminta untuk menurunkan harga gula secepatnya.

Soal harga Cost of Goods Sold (COGS) atau harga pokok pen­jualan (HPP), menurut Tom, para industri gula swasta menyebut bahwa perhitungan yang dilakukan Rizky dalam berita acara pemeriksaan (BAP) keliru.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.