Dark/Light Mode

Catatan Pankratius Balun

Keluarga Nomor Satu

Minggu, 29 Juni 2025 08:47 WIB
Analis Kebijakan Ahli Madya BPIP Pankratius Balun. (Foto: BPIP)
Analis Kebijakan Ahli Madya BPIP Pankratius Balun. (Foto: BPIP)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kalangan sepantaran saya, kayaknya masih teringat hangatnya cahaya petromaks, panasnya kayu bakar, dan asyiknya permainan tradisional. Belum lagi tontonan drama, serial, lagu, dan tari dari televisi jadul. Ini hiburan gratis nan seru warga sekampung. Gambar boleh hitam-putih, tapi unit televisi itu simbol status si penggelar nobar. Kita begitu termangu menonton Kisah Serumpun Bambu, Keluarga Cemara, Rumah Masa Depan sampai Si Doel Anak Sekolahan. 

Terlepas dari alur cerita yang original, dan tampilan para pemeran yang menawan, pesan-pesan luhur juga jelas tergambarkan. Hiburan yang tersuguh bukan tentang konflik tak berujung khas sinetron, tapi masalah alami dari keseharian keluarga Indonesia yang pure and natural. Kisah kehidupan keluarga yang diangkat ke layar kaca, menjadi sajian wajib bagi setiap segmen masyarakat. Gambaran keluarga di film-film tersebut bukan kalangan elit, tapi pemandangan yang apa adanya. 

Baca juga : Mahasiswa Harus Jadi Garda Depan Ketahanan Nasional

         Tentang keluarga, kita bersepakat memaknainya sebagai lingkungan pertama dan utama, dalam memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan anak soal etika dan moral. Di dalam keluarga, setiap anak belajar tentang nilai-nilai dasar seperti religius, kejujuran, tanggung jawab, rasa hormat, kasih sayang hingga nasionalisme. Sebagai panutan, sosok ayah dan ibu memiliki peran sentral dalam menanamkan nilai-nilai tersebut melalui teladan keseharian. Penanaman etika moral tidak hanya lewat omon-omon, tapi juga melalui tindakan konkret. Dengan demikian, adab dan nilai baik lebih mudah dipahami anak-anak. 

Internalisasi Pancasila pada segmentasi usia dini sejatinya sangat vital. Perhatian kepada etika dan moral para ASN serta aparatur negara mungkin layak disegerakan, namun keluarga tetap nomor satu. Bukankah kita tahu, lebih mudah membengkokkan batang tanaman muda daripada yang sudah tua? Pertumbuhan moral dan etika setiap individu bisa dilakukan sejak dalam kandungan, dan akan selalu membekas karena dikuatkan perilaku nyata orang tua.

Baca juga : PPVTPP Tingkatkan Pelayanan Izin Benih, Kepuasan Publik Naik

Peran keluarga dalam membentuk etika moral anak tidak bisa digantikan oleh institusi lain. Sekolah dan lingkungan sosial memang turut berperan, namun fondasi utama tetap berasal dari rumah. Maka penting, bagi setiap anggota keluarga untuk menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang dan saling terbuka. Bangsa ini membutuhkan anak-anak yang kelak bermoral, bertanggung jawab, dan mampu hidup harmonis di tengah masyarakat. 

Dengan demikian, Hari Keluarga Nasional 2025 yang bertemakan 'Dari Keluarga Untuk Indonesia Maju', menjadi momen penting kita untuk refleksi diri. Keluarga memang ikonik, tempat di mana setiap individu berinteraksi saling memberi dan menerima. Keluarga yang tak padam mengedepankan etika nilai-nilai kebangsaan, tentu menguatkan nilai-nilai luhur Pancasila. Sebagaimana kata Ndarboy Genk; Ibarat Koyo Kutoku Jogja, Keluargaku Cen Istimewa. Salam Pancasila!

Baca juga : Paskibraka: Bibit Unggul Bangsa

 

*Penulis adalah Analis Kebijakan Madya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Alumnus Pembina Paskibraka Nasional 2016.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.