Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tanggapi Survei TomTom 2024, KDM: Macet Di Bandung Mah Dingin
Kamis, 10 Juli 2025 18:16 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi unggahan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang kembali memamerkan data TomTom Traffic Index 2024 mengenai tingkat kemacetan di sejumlah kota besar di Indonesia.
Dalam tanggapannya, Dedi menilai kondisi kemacetan di Bandung masih dalam tahap wajar dan menyebut bahwa penanganan kemacetan merupakan bagian dari tugas pemerintah kota.
“Oh ya Bandung ya, pertama dari sisi aspek tugas dan kewenangan itu kan kewenangannya wali kota. Dan Pak Wali kotanya hari ini sedang bekerja melakukan penataan terhadap infrastruktur lalu lintas di Bandung,” ujar Dedi saat ditemui usai acara KPK di kawasan Ancol, Jakarta Utara, Kamis (10/7/2025).
Dedi juga menjelaskan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat tengah menyiapkan skema integrasi transportasi di wilayah Bandung Raya, termasuk Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat. Dia menyebut pendekatan yang digunakan mengutamakan transportasi umum yang ramah lingkungan dan murah.
Baca juga : Tanggapi Survei Indikator, Rano: Kami Fokus Atasi Ketimpangan Sosial Di Jakarta
“Dan Gubernur juga hari ini sedang mempersiapkan aspek integrasi lalu lintas di wilayah Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat,” lanjut Dedi.
Menanggapi kondisi kemacetan di Bandung, Dedi menyebut, secara pribadi dia tidak merasa terganggu secara signifikan. dia bahkan menyampaikan bahwa macet di Bandung tidak seburuk yang dibayangkan.
“Tetapi kalau saya merasakan sih ya macet di Bandung mah dingin,” kata Dedi.
Menurut Dedi, penyebab utama kemacetan di Bandung adalah karakteristik kota yang memiliki banyak jalan sempit, sementara volume kendaraan pribadi terus meningkat.
Baca juga : Piala Sudirman 2025, Tim Merah Putih Gunduli Inggris
“Terus kemudian yang kedua problem Bandung itu kan jalannya kecil-kecil, dan kemudian selain jalannya kecil-kecil jumlah kendaraannya banyak,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dedi berharap Wali Kota Bandung dapat segera merampungkan pembenahan sektor transportasi publik. Tujuannya adalah agar warga lebih memilih menggunakan angkutan umum yang efisien, cepat, dan ramah lingkungan.
“Nah mungkin ke depan Wali Kota Bandung akan segera melakukan penataan terhadap transportasi angkutan umumnya untuk bisa lebih mengedepankan aspek yang bersifat lingkungan,” tutupnya.
Sebelumnya, Gubernur DKI JakartaPramono Anung mengungkapkan, Jakarta tidak lagi menjadi kota paling macet di Indonesia.
Baca juga : Peringati Hari Bumi 2025, Dr. Widya Habibie Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Dalam kesempatan tersebut, Pramono mengakatakan penurunan tingkat kemacetan di Ibu Kota berdasarkan survei dari TomTom Traffic Index, perusahaan teknologi navigasi asal Belanda.
Dia menyebut, Jakarta kini menempati posisi ke-5 kota termacet di Indonesia. Bukan lagi berada di peringkat pertama seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Hasilnya ketika TomTom (lembaga internasional) mensurvei, Jakarta yang biasanya ranking satu di Indonesia dan selalu kota termacet sepuluh besar di dunia, sekarang nomor satunya Bandung,” ungkap Pramono.
Pramono menjelaskan, klaim tersebut merujuk pada laporan TomTom Traffic Index yang menampilkan kondisi lalu lintas sepanjang tahun 2024.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya