Dark/Light Mode

Eks Napiter: Ancaman Terorisme Masih Mengintai di Usia 80 Tahun RI

Selasa, 12 Agustus 2025 20:54 WIB
Mantan narapidana terorisme Ustaz Suryadi Mas’ud (Foto: Istimewa)
Mantan narapidana terorisme Ustaz Suryadi Mas’ud (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Delapan dekade merdeka, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menjaga persatuan dan keamanan bangsa. Ancaman intoleransi, radikalisme, dan terorisme, meski tak selalu tampak di permukaan, tetap mengintai dan beradaptasi dalam bentuk baru.

Peringatan itu disampaikan Ustaz Suryadi Mas’ud, mantan narapidana terorisme yang pernah terlibat dalam penyerangan kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Dia menilai, beberapa daerah masih menjadi tempat tumbuhnya kelompok radikal yang mengancam stabilitas nasional.

“Dari pengalaman saya, sampai sekarang kita belum benar-benar bebas dari tiga hal itu. Bibit-bibit itu masih ada, hanya saja kini mereka bertransformasi, misalnya masuk dalam jaringan seperti ISIS,” ujar Suryadi, Selasa (12/8/2025).

Baca juga : Yulian Paonganan Dapat Amnesti, Sampaikan Terima Kasih kepada Prabowo

Suryadi menegaskan, kedaulatan sejati baru tercapai jika Indonesia mampu lepas sepenuhnya dari ancaman ideologi yang memecah belah. Dia mengkritik masih adanya narasi kelompok radikal yang seolah mendapat pembenaran dari sebagian pihak, sehingga membelokkan persepsi masyarakat.

Bagi Suryadi, perayaan kemerdekaan seharusnya menjadi momen untuk mengingat pengorbanan para pahlawan yang berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Dia menyebut, banyak orang terjerumus ke paham radikal karena minim pengetahuan sejarah bangsa dan hanya mendengar narasi sepihak.

“Saya dulu hanya menerima narasi keagamaan dan sejarah dari satu sisi, tanpa pembanding. Saat SMA, saya mulai melihat Indonesia sebagai negara yang batil. Saya tidak memikirkan perjuangan para pahlawan,” kenangnya.

Baca juga : I League Jalin Kerja Sama Terbaru Dengan Adidas Indonesia

Dia juga menyoroti masifnya penyebaran propaganda radikal di dunia maya. Generasi muda, khususnya Gen-Z, menjadi target empuk bukan hanya karena isi pesannya, tetapi juga kemasannya yang kreatif dan menarik. Sementara narasi tandingan tentang nasionalisme dan kebhinekaan masih disajikan secara monoton.

“Anak-anak tidak bisa menerima narasi kebangsaan yang membosankan. Gaya penyampaiannya harus sesuai zaman. Kisah para pahlawan harus diangkat agar generasi muda mengerti pentingnya menjaga keutuhan bangsa,” tegasnya.

Suryadi mengaku pengalamannya menjadi bukti kegagalan memahami kompromi para pendiri bangsa terkait kemajemukan Indonesia. Dia mendorong semua pihak yang berkomitmen memberantas intoleransi dan radikalisme untuk bersatu, mengingat para pelaku teror memiliki solidaritas yang kuat.

Baca juga : Kepercayaan Investor Global Menguat, Transformasi Jadi Fondasi Daya Tarik Saham BBRI

Dia juga mengingatkan pentingnya menyesuaikan pesan pencegahan radikalisme dengan kondisi budaya setempat. “Jangan memaksakan narasi umum yang tidak sesuai dengan lingkungan sasaran. Sayang sekali jika sumber daya sudah keluar, tapi pesannya tidak mengena,” ujarnya.

Suryadi pernah bergabung dengan Al Qaeda di Moro, Filipina, terlibat dalam Bom Bali I sebagai pengirim bahan baku, Bom McDonald Makassar, hingga serangan teroris di Sarinah, Thamrin. Dia tiga kali keluar masuk penjara, hingga titik balik terjadi saat mendekam di Lapas Pasir Putih.

Di sana, dia ditempatkan di sel isolasi, hanya melihat matahari enam bulan sekali. Masa sepi itu ia gunakan untuk membaca karya para ulama, yang kemudian membuka jalan baginya untuk meninggalkan jalan kekerasan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.