Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Menelusuri Jejak Diplomasi Dan Proklamasi RI Di Cikini 82, Rumah Menlu Pertama
Kamis, 14 Agustus 2025 15:08 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah riuhnya lalu lintas dan kafe-kafe modern kawasan Cikini, Jakarta Pusat, berdiri sebuah rumah berarsitektur kolonial yang tak lekang dimakan zaman. Rumah ini pernah menjadi kediaman Achmad Soebardjo, Menteri Luar Negeri (Menlu) pertama Indonesia, sekaligus saksi bisu peristiwa-peristiwa penting awal kemerdekaan.
Luasnya mencapai 3.000 meter persegi. Beralamat di Cikini 82, hampir 95 persen bangunan rumah ini masih asli sejak dibangun, membuatnya tampak seperti potret hidup masa lalu yang dibingkai di tengah hiruk pikuk ibu kota.
“Bapak Ahmad Soebardjo merupakan salah satu perumus naskah proklamasi. Jadi, rumah Cikini 82 ini juga punya peran terkait proklamasi,” ujar Cahyadi, pengurus sekaligus pemandu tur, Rabu (14/8/2025).
Pria paruh baya itu mengisahkan, rumah ini pernah berfungsi sebagai kantor Kementerian Luar Negeri pertama, jauh sebelum pemerintah punya gedung resmi. “Pada masa awal berdirinya Indonesia, Achmad Soebardjo menggunakan rumah pribadinya ini sebagai kantor,” kata Cahyadi.
Pemilik saat ini, advokat Lukas Budiono, membeli dan merestorasi bangunan agar tetap bisa dinikmati publik. Tujuannya, rumah ini tak sekadar dikenang, tapi juga bisa menjadi tempat menciptakan sejarah baru.
Memasuki pekarangannya, nuansa tempo dulu langsung terasa. Jendela besar dengan kusen kayu jati dan perabot antik menyambut setiap tamu. Hanya sebagian kecil bagian yang diganti, itu pun karena kondisi sudah lapuk dan sulit menemukan pengganti yang benar-benar mirip aslinya.
Rumah ini dibagi menjadi delapan area penting: teras, ruang tamu, ruang kerja Achmad Soebardjo, kamar tengah, ruang pertemuan, halaman belakang, pendopo, dan paviliun tambahan. Di dalamnya, tergantung lukisan-lukisan alam nusantara karya pelukis terkenal seperti Dullah, serta potret tokoh nasional karya maestro Basuki Abdullah.
Di sudut-sudut rumah, foto hitam putih berderet rapi. Ada potret Achmad Soebardjo bersama Presiden pertama RI Soekarno dan Wakil Presiden Hatta, arsip surat menyurat diplomatik, buku-buku tua, hingga benda pribadi sang Menlu.
Foto kecil Megawati di Novel Sarinah.
Baca juga : Menteri Ekraf Dorong Kuliner Dan Perhotelan Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Salah satu koleksi yang paling mencuri perhatian adalah novel Sarinah dengan tanda tangan asli Soekarno, yang di dalamnya terselip foto kecil Megawati Soekarnoputri, sang putri proklamator, ketika masih kanak-kanak.
“Informasi dari keluarga, Bapak Achmad Soebardjo mulai menempati rumah ini tahun 1942. Setelah Belanda keluar dan Jepang masuk, rumah ini sempat kosong,” tutur Cahyadi.
Tak banyak yang tahu, Achmad Soebardjo punya peran krusial dalam peristiwa Rengasdengklok. Ia menjadi penjemput Bung Karno dan Bung Hatta yang saat itu ‘diamankan’ para pemuda.
“Pak Achmad Soebardjo menjaminkan nyawanya bahwa tanggal 17 Agustus tetap akan dibacakan proklamasi kemerdekaan,” ucap Cahyadi.
Baca juga : Indonesia, Diplomasi Dan Keselamatan Dunia
Kini, Cikini 82 bukan hanya monumen sejarah, tapi juga ruang publik multifungsi. Tempat ini bisa disewa untuk seminar, pertemuan, atau acara pribadi seperti pernikahan dengan kapasitas hingga 300 orang.

Paviliun barunya bahkan dilengkapi dua kamar penginapan bernama King Room dan Queen Room dengan tarif Rp 1,5 juta hingga Rp 1,8 juta per malam. Semua itu dikelola tanpa menghilangkan identitas rumah sebagai situs bersejarah.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya