Dark/Light Mode

Secangkir Kopi dan Wajah Nasionalisme Sederhana

Senin, 18 Agustus 2025 21:13 WIB
Kopi/Ilustrasi (Foto: Dwi Pambudo/RM)
Kopi/Ilustrasi (Foto: Dwi Pambudo/RM)

Delapan puluh tahun merdeka itu bukan hanya soal bendera berkibar di langit ataupun pidato kenegaraan. Merdeka itu juga soal apa yang kita letakkan di meja kita: apa yang kita minum, apa yang kita beli, dan dari siapa kita membeli. Di warung kopi sederhana, secangkir kopi hitam panas bukan sekadar pelepas kantuk, melainkan pengikat rasa kebangsaan yang nyata dan membumi.

Indonesia adalah produsen kopi terbesar keempat dunia dengan produksi mencapai 12,3 juta karung per tahun (BPS, 2024). Namun, produksi besar ini pun tak serta-merta mampu menjamin kesejahteraan bagai para petani kopi kita. Justru ironisnya, banyak para petani kopi di Sumatera, Jawa, Sulawesi, hingga ke Papua masih terus bergelut dengan harga jual rendah, sementara biji kopi mereka menjadi primadona di pasar Eropa dan Amerika.

Ketimpangan Nilai Tambah Kopi

Petani kopi rata-rata menerima sekitar Rp 10 ribu per kilogram biji kopi basah. Di sisi lain, kopi olahan di luar negeri mampu dipasarkan dengan nilai jual hingga puluhan kali lipat lebih tinggi daripada biji kopi mentah. Kondisi ini memperlihatkan adanya ketimpangan nyata dalam rantai nilai kopi di Indonesia.

Bung Karno pernah menegaskan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai hasil karya anak bangsanya sendiri”. Namun, dalam konteks kopi, kita masih sering gagal mengimplementasikan semangat itu secara ekonomi. Produk kopi olahan yang bernilai tambah tinggi masih sangat sedikit dihasilkan di dalam negeri.

Menurut data dari International Coffee Organization (ICO), nilai ekspor produk kopi olahan dapat mencapai empat hingga lima kali lipat dibandingkan nilai ekspor biji kopi mentah. Ini peluang yang sangat besar jika pemerintah dan pelaku usaha serius mengembangkan hilirisasi kopi secara lebih menyeluruh.

Baca juga : Bendera One Piece, Gen Z, dan Peran MPR Merawat Nasionalisme Kebangsaan

Nasionalisme dalam Cangkir Kopi Lokal

Nasionalisme kini tidak melulu soal simbol-simbol besar, tapi lebih tentang tindakan kecil yang berdampak luas. Survei Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (2023) mengungkap bahwa: 68 persen penikmat kopi berusia 20–35 tahun memilih kopi lokal karena kesadaran akan identitas bangsa dan keberlanjutan.

Gerakan drink local, think global ini adalah sebuah bentuk nyata nasionalisme generasi muda yang menghargai produk bangsanya sendiri. Mereka tak hanya sekadar menikmati kopi, tetapi juga mendukung petani dan pengusaha lokal agar ekonomi Indonesia semakin mandiri.

Cerita dari Lereng Gunung Sumbing

Di lereng Gunung Sumbing, Wonosobo, petani kopi Robusta seperti Mbah Sarto sudah menanam kopi sejak dari 1970-an. Bagi Mbah Sarto, setiap biji kopi bukan sekadar komoditas, melainkan warisan keluarga dan desa. “Kalau anak-anak muda mau minum kopi desa sendiri, itu tandanya mereka ingat dan mencintai tanah kelahirannya,” ujarnya.

Cerita sederhana ini menjadi sebuah gambaran bagaimana kopi dapat mengikat hubungan batin antara manusia dan tanah air. Kopi pun dapat menjadi satu bagian identitas yang menguatkan nasionalisme dari akar rumput, bukan hanya slogan di udara.

Baca juga : Jangan Samakan Pajak dan Zakat, Ini Perbedaannya

Peluang Hilirisasi dan Kemandirian Ekonomi

Pemerintah punya peluang besar menjadikan kopi sebagai simbol kemandirian ekonomi bangsa. Hilirisasi kopi yang diterapkan secara serius dapat lebih meningkatkan nilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi lokal.

Negara-negara penghasil kopi seperti Brasil dan Kolombia telah sukses mengembangkan produk olahan kopi berkualitas yang dikenal di pasar dunia. Indonesia pun dapat mengikuti jejak langkah itu dengan dukungan kebijakan insentif, program pengembangan UMKM kopi, dan pemasaran produk kopi nusantara yang terpadu.

Jika pemerintah fokus pada hilirisasi kopi, nilai ekspor bisa meningkat drastis, dan para petani kopi dapat mendapatkan harga yang lebih adil. Hal ini tidak hanya terkait aspek ekonomi, tetapi juga mencerminkan harga diri bangsa.

Merayakan Kemerdekaan dari Warung Kopi

Menyongsong usia 80 tahun kemerdekaan, nasionalisme itu bisa lahir di tempat yang sederhana: warung kopi kampung. Tempat setiap konsumsi kopi itu secara langsung memberikan manfaat ekonomi bagi petani, buruh pengolah, dan pengelola warung kopi.

Baca juga : Kolaborasi Kemenkop Dan Percepat Operasional Klinik Dan Apotek Desa

Ketika kita memilih kopi lokal, kita memberikan suara pada ekonomi rakyat dan menghidupkan kembali peta rasa Nusantara dari Aceh Gayo, Toraja, hingga ke Java Preanger. Cita rasa ini adalah wujud jati diri bangsa yang mesti kita rawat dan rayakan sebagai kebanggaan bersama.

Nasionalisme yang Membumi dan Nyata

WS Rendra pun pernah menyatakan bahwa: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu memelihara kehidupan sehari-harinya”. Nasionalisme sederhana yang bisa dihirup, dirasakan, dan diminum ini mungkin terdengar remeh di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan. Namun, inilah manifestasi cinta tanah air yang paling mendalam, lahir dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan kita.

Di usia 80 tahun kemerdekaan ini, mari kita rayakan dengan memilih kopi lokal—sebagai simbol bahwa kita mencintai negeri ini mulai dari hal yang paling hangat, paling sederhana, dan paling kita nikmati. 

Dengan secangkir kopi di tangan. Kita, tentu tidak hanya sekadar merayakan rasa, tetapi juga menghidupkan semangat kemandirian, dan solidaritas bangsa.

noufal riri hananta
noufal riri hananta
Seorang Arsitek dan Penulis

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.