Dark/Light Mode

Ketika Jolly Roger Mengalahkan Baliho: Politik Gen Z di Era Algoritma

Kamis, 21 Agustus 2025 22:29 WIB
Ilustrasi gaya politik baru. (Gambar: Dok. Pribadi)
Ilustrasi gaya politik baru. (Gambar: Dok. Pribadi)

Sepanjang 2023 dan 2024, para caleg beramai-ramai membuat baliho dengan gaya foto studio, rambut disisir klimis, tidak lupa juga dibumbui dengan banyak jargon-jargon politik yang penuh janji manis menggugah hati. Siapa sangka, hadirnya Gen Z ternyata mengubah pola branding para politisi usia senja. Jumlah mereka tidak sedikit. Jika merujuk pada Badan pusat Statistik, mereka mendominasi demografi kita dengan angka 74,93 juta jiwa pada tahun 2024, yang tentu saja mengubah gaya berpolitik masyarakat Indonesia. Suka atau tidak suka.

Generasi ini tidak suka dengan pidato panjang. Bikin ngantuk katanya. Alih-alih mereka sangat mahir merangkai simbol dari budaya populer. Contohnya, saat tiba-tiba Indonesia dikepung Jolly Rogers, bendera tengkorak milik Luffy si bajak laut di anime One Piece. Awalnya hanya ada di kendaraan truk antar daerah. Hanya butuh waktu sekejap mata, algoritma sudah menebarkan isu sosial ini ke seluruh Indonesia.

Baca juga : Film Believe Rilis Hari Ini, Mengisahkan Aksi Pertempuran dan Air Mata

Bendera tipis berwarna hitam ini bagi para Gen Z adalah bentuk perlawanan dan gaya berpolitik baru. Seperti pada anime One Piece, saat ini di Indonesia kita sedang menghadapi banyak isu sosial yang mengundang perhatian masyarakat.

Postingan demi postingan lalu mengundang interaksi di sosial media. Algoritma kemudian semakin membuat isu ini mengalir dengan deras, dan menjadi tsunami informasi sampai ke pelosok negeri. Sungguh, ironisnya cara ini lebih efektif dibanding dengan teriakan para politisi senior di televisi. Melahirkan sebuah pertanyaan menggelitik, apakah algoritma telah menjelma menjadi alat kampanye baru? Jawabannya relatif, tergantung seberapa berkembang isu ini berada di pusaran sosial media. Seringnya guliran isu sangat temporer, meledak di awal namun redup seiring waktu. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh jumlah interaksi yang semakin menurun saat orang mulai kehilangan minat terhadap isu tersebut.

Baca juga : Pelindo Implementasikan Program Pelita Warna di Lapas Anak

Dalam persepsi saya, media sosial juga cenderung lebih menyukai isu segar, sehingga viralitas sebuah persoalan dapat dengan mudah digantikan dengan info baru yang lebih menarik. Sehingga pengalihan isu sangat mungkin terjadi dimana hal ini juga berkaitan dengan karakter penggunaan sosial media dari Gen Z yang sangat menyukai fast scrolling sehingga seringkali isu hanya bertahan satu atau dua minggu. Mungkin karena FOMO (Fear of Missing Out) sehingga muncul rasa takut tidak update dari percakapan terkini. Hal ini bukan karena mereka apatis namun karena memang mereka hidup di budaya instan dan sangat cepat berubah.   

Gaya berpolitik ala Gen Z ini kemudian memaksa para Gen X dan millenial bahkan baby boomers untuk beradaptasi jika tak ingin redup bahkan mati karir politiknya. Sangat disayangkan pola ini cepat naik namun tidak sarat makna sehingga sulit bertahan lama. Berkawan dengan algoritma tidak lagi menjadi pilihan dan menjadi sebuah keharusan. Di sinilah keahlian para generasi sebelumnya dalam membangun narasi dibutuhkan.

Baca juga : Menguatkan Pancasila di Era Digital

Viralitas sesaat ini harus diakali dengan narasi yang terus dikembangkan dan ditopang oleh komunitas dan aksi nyata secara berkesinambungan agar terus berada di pusaran algoritma. Hal ini dapat dilihat pada saat terjadinya kasus pembunuhan seorang polisi yang viral beberapa tahun lalu, Masyarakat terus mengawal sejak terkuaknya kasus tersebut hingga putusan pengadilan dikeluarkan. Dari kasus ini kita menyaksikan bahwa jika cerdas memanfaatkan algoritma, kita dapat mengarahkan atensi masyarakat dan membangun emosi kolektif masyarakat. Hal ini melahirkan sebuah pertanyaan besar, maukah kita menjadikan viralitas ini sebagai bahan bakar perubahan nyata, atau puas sekadar menjadi penonton di layar ponsel?

Miranti widya ramlah Ponulele
Miranti widya ramlah Ponulele
Ketua DPD KNPI Sulawesi Tengah

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.