Dark/Light Mode

Jelang Pidato Prabowo di PBB: Reposisi Indonesia dan Soft Power Pariwisata

Sabtu, 23 Agustus 2025 07:28 WIB
Foto Presiden Prabowo, Sumber IG: Prabowo
Foto Presiden Prabowo, Sumber IG: Prabowo

Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80 yang akan digelar di New York, September 2025, akan menjadi panggung penting bagi Indonesia. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Presiden Republik Indonesia kembali berdiri langsung di mimbar dunia. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menyampaikan pidato di hadapan para pemimpin global, sebuah momen yang sarat makna, bukan hanya bagi diplomasi politik, tetapi juga bagi strategi komunikasi Indonesia di mata internasional.

A. Warisan Sejarah yang Kuat

Kita tidak bisa melupakan bagaimana Presiden Sukarno pada 30 September 1960 menorehkan sejarah dengan pidato visioner berjudul “To Build The World Anew”. Dengan penuh keyakinan, Bung Karno menempatkan Indonesia sebagai suara Dunia Ketiga dan pemimpin gerakan non-blok. Itu bukan sekadar orasi, melainkan sebuah strategi komunikasi global yang menancapkan identitas Indonesia di percaturan internasional.

Presiden keenam, Susilo Bambang Yudhoyono, juga menempatkan forum PBB sebagai panggung konsistensi diplomasi Indonesia. Enam kali ia hadir, menegaskan peran Indonesia sebagai negara demokratis, moderat, dan aktif dalam isu perubahan iklim serta perdamaian dunia.

Namun, pada era Presiden Joko Widodo, prioritas beralih ke agenda domestik. Kehadiran di PBB hanya dilakukan secara virtual di masa pandemi. Kritik pun muncul, salah satunya dari Anies Baswedan, yang menilai absennya Presiden di forum global dapat melemahkan posisi strategis Indonesia.

Kini, Prabowo hadir dengan tantangan dan peluang baru. Dunia sedang bergolak, perang Rusia-Ukraina belum berakhir, ketegangan Amerika Serikat–Tiongkok terus meningkat, krisis pangan dan energi mengancam, serta perubahan iklim makin terasa dampaknya. Di tengah turbulensi ini, suara Indonesia kembali ditunggu.

B. Pidato sebagai Strategi Komunikasi Global

Pidato Presiden di PBB sejatinya bukan sekadar penyampaian pandangan politik. Lebih dari itu, ini adalah strategi komunikasi global. Lewat pidato, sebuah bangsa membingkai citranya, menyampaikan nilai yang diperjuangkan, dan mengukir persepsi yang akan menentukan posisinya di panggung dunia.

Negara-negara besar memahami hal ini. Amerika Serikat, Tiongkok, hingga Perancis menggunakan forum PBB untuk menegaskan identitas dan kepemimpinan mereka. Bahkan negara kecil seperti Singapura mampu tampil dengan narasi kuat tentang perdagangan dan stabilitas regional.

Baca juga : Perang Terhadap Narkoba Di Timur Indonesia, Sulsel Kuatkan Sinergi Lewat Rakor P4GN

Indonesia, dengan segala potensinya, punya kesempatan emas. Namun, untuk stand out, kita membutuhkan narasi yang lebih dari sekadar diplomasi formal. Kita butuh narasi yang menyentuh, membangun citra, sekaligus menawarkan solusi global.

C. Pariwisata sebagai Soft Power

Di sinilah pariwisata masuk sebagai elemen strategis. Pariwisata bukan hanya tentang perjalanan dan hiburan, melainkan tentang identitas bangsa. Ia adalah wajah Indonesia di mata dunia: budaya, keramahtamahan, kreativitas, dan kekayaan alam.

Negara seperti Perancis, Jepang, atau Korea Selatan membuktikan bahwa pariwisata dan budaya bisa menjadi alat diplomasi paling ampuh. Perancis tidak hanya dikenal karena politiknya, tetapi juga karena Paris sebagai simbol peradaban. Jepang menyebarkan soft power lewat kuliner, anime, dan teknologi. Korea Selatan menembus batas global lewat K-Pop dan Korean Wave.

Indonesia memiliki potensi yang jauh lebih kaya: Bali, Borobudur, Mandalika, Raja Ampat, dan ribuan destinasi lainnya. Namun, potensi ini belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai alat komunikasi strategis global.

Bayangkan jika Presiden Prabowo dalam pidatonya menyinggung pariwisata berkelanjutan sebagai jawaban atas krisis iklim. Atau menyampaikan gagasan bahwa ketahanan pangan dunia bisa belajar dari kearifan lokal Nusantara yang menjaga alam dan budaya. Itu akan menjadi statement yang bukan hanya diplomatis, tetapi juga membangun nation branding yang kuat.

D. Reposisi Indonesia di Panggung Dunia

Pidato Prabowo di PBB bisa menjadi momentum reposisi Indonesia. Dari sekadar participant menjadi agenda setter. Dari bangsa yang hadir, menjadi bangsa yang memimpin percakapan.

Ada empat langkah strategis yang bisa ditawarkan:

Baca juga : Terima 36 Finalis Abang None, Pramono: Representasi Kota Global dan Berbudaya

1. Membangun Narasi Perdamaian

Indonesia menegaskan diri sebagai penengah yang netral, menawarkan solusi untuk konflik global dari Ukraina hingga Palestina. Dengan politik bebas aktif, kita bukan sekadar penonton, tetapi mediator.

2. Menegaskan Kepemimpinan dalam Isu Iklim

Sebagai negara dengan hutan tropis terbesar, Indonesia tampil sebagai pemimpin green diplomacy. Pariwisata berkelanjutan dapat menjadi bukti nyata kontribusi kita.

3. Menghubungkan Ketahanan Pangan dengan Kearifan Lokal

Dunia sedang resah oleh krisis pangan. Indonesia punya model pangan berbasis kearifan lokal dan diversifikasi hayati yang bisa ditawarkan sebagai solusi.

4. Soft Power Diplomacy Melalui Pariwisata dan Budaya

Menjadikan pariwisata dan budaya sebagai instrumen diplomasi global. Indonesia tidak hanya berbicara tentang konflik dan krisis, tetapi juga tentang harmoni, kreativitas, dan keindahan.

E. Dari Diplomasi Panggung ke Diplomasi Destinasi

Baca juga : IFLA WLIC 2025 di Kazakhstan, Indonesia Hadir dengan 5 Pemateri dari Perpusnas

Prabowo bisa menjadikan PBB sebagai titik awal transisi dari diplomasi panggung ke diplomasi destinasi. Artinya, Indonesia tidak hanya berbicara di podium, tetapi juga mengundang dunia datang, merasakan, dan memahami Indonesia lewat pariwisata, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Jika Bung Karno dulu menyerukan “To Build The World Anew”, membangun dunia kembali dengan semangat anti-kolonialisme, maka Prabowo kini punya kesempatan untuk menyerukan “To Reposition Indonesia in the New World” , menempatkan Indonesia sebagai bangsa besar yang damai, berkelanjutan, dan penuh daya tarik.

Pidato Prabowo di PBB 2025 bukan sekadar momen protokoler. Ia adalah momentum komunikasi strategis yang akan menentukan bagaimana dunia memandang Indonesia. Dan jika dikaitkan dengan pariwisata sebagai wajah bangsa, maka pidato itu bisa menjadi pintu masuk bagi Indonesia untuk berdiri sejajar, bahkan memimpin, dalam percaturan global.

Indonesia tidak boleh hanya hadir. Indonesia harus memimpin percakapan dunia.






Taufan Rahmadi
Taufan Rahmadi
Dewan Pakar GSN Bidang Pariwisata, Analis Kebijakan BA Center

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.