Dark/Light Mode

Catatan Agus Sutoyo

Peluang dan Tantangan Transformasi Perpustakaan Digital

Rabu, 3 September 2025 07:14 WIB
Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-16, di Kepulauan Riau. (Foto: Dok. Perpusnas)
Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-16, di Kepulauan Riau. (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Literasi secangkir kopi kali ini saya nikmati sambil menyeruput kopi Tangker khas Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), bersama tokoh-tokoh perpustakaan digital dan akademisi, yang menariknya juga saya sempat menikmati ikan sembilang cabe hijau, ikan bulat goreng, dan cumi sotong hitam yang mengundang selera bersama pejabat tinggi daerah di tempat yang berbeda sambil menikmati secangkir kopi. Diskusi ringan saya lakukan bersama Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kepulauan Riau Yenny Trisia, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Diky Wijaya, Direktur RSUD Jiwa dan Ketergantungan Obat Engku Haji Daud dr. Asep Guntur Sapari, MARS, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Adi Firmansyah, Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Said Alvie, Kapusdatin Perpusnas Wiratna Tritawirasta, dan Kapusdiklat Perpusnas Triani Rahmawati, yang membuat semarak perbincangan perpustakaan digital semakin terasa kenikmatannya. 

Kehadiran saya kali ini ke Tanjungpinang dalam rangka mengikuti Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) yang baru saja digelar dengan menghadirkan pembicara dari Malaysia Dr. Ghazali Muhammed Fadhil dan Prof. Christhoper Khoo dari Nanyang Technological University Singapura. Serta pembicara dari dalam negeri yang notabene banyak para tokoh kementerian dan pustakawan dari berbagai jenis perpustakaan, termasuk para pengelola perpustakaan perguruan tinggi hadir di ajang nasional ini. Acara yang dibuka secara resmi oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI Prof. E. Aminudin Aziz yang juga hadir Asisten Gubernur Arif Fadilah yang mewakili Gubernur Ansar Ahmad, Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Prof. Agung Dhamar Syakti, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kepri Heri Andrianto, Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek Prof. Najib Burhani, Prof. Ida Fajar, Prof. Sulistyo-Basuki, Ismail Fahmi, Welmin Sunyi Ariningsih, serta para tokoh perpustakaan perguruan tinggi dan para pustakawan yang ikut meramaikan forum (KPDI) ini.

KPDI ke-16 tahun 2025 yang mengusung tema "Transformasi Digital: Peluang, Tantangan, dan Kesiapan Perpustakaan di Era Kecerdasan Buatan" ini berlangsung di Hotel Aston Tanjungpinang City Center, 19–21 Agustus 2025. Konferensi tahunan ini mempertemukan para praktisi, akademisi, dan pengelola perpustakaan dari seluruh Indonesia untuk membahas arah baru pengelolaan perpustakaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, khususnya kecerdasan buatan Artificial Intelegence (AI). Dengan tema besar transformasi digital, KPDI diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat literasi, inovasi, dan pengembangan pengetahuan di Indonesia.

Saya, yang sejak awal mengikuti dan ikut terlibat sejak KPDI pertama kali terbentuk, melihat perubahan-perubahan yang cukup signifikan terkait dengan perkembangan teknologi informasi sampai kepada transformasi perpustakaan digital seperti sekarang ini. Seiring dengan perkembangannya, konferensi ini bukan hanya forum berbagi gagasan, tetapi juga langkah strategis dalam mempersiapkan perpustakaan agar relevan di era digital. Ini bukan hanya sekadar pertemuan, melainkan momentum penting untuk menyatukan visi, bagaimana perpustakaan mampu beradaptasi dan memanfaatkan kecerdasan buatan demi peningkatan layanan literasi masyarakat.

Sementara itu, Kepala Perpustakaan Nasional RI, Prof. E. Aminudin Aziz, dalam sambutannya mengapresiasi penyelenggaraan konferensi ini. Menurutnya, transformasi digital merupakan keniscayaan, dan perpustakaan harus mampu menjawab tantangan zaman dengan inovasi yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Di tengah gempuran kecerdasan buatan, perpustakaan tidak boleh tertinggal. Justru ini adalah peluang untuk menghadirkan layanan yang lebih inklusif, efisien, dan relevan dengan generasi saat ini. Kehadiran perpustakaan digital dan forum KPDI ini menurut Prof. Amin, menjadi bukti nyata bahwa perpustakaan Indonesia siap melangkah ke era baru.

Kepala Perpusnas juga menyampaikan bahwa perpustakaan digital bukan sekadar proses digitalisasi bahan pustaka, tetapi sebuah perubahan paradigma layanan secara menyeluruh, ketika semua informasi tersedia dalam format digital dan dapat diakses tanpa harus datang langsung ke perpustakaan. Ia juga menyebut dampak kecerdasan buatan itu belakangan ini menghadirkan banyak peluang bagi perpustakaan digital, baik dalam membantu analisis data, penyajian informasi, maupun pengembangan sistem referensi berbasis user oriented. Bahkan, ujarnya, perpustakaan digital ini merekam khasanah budaya masa lalu dengan menyimpan dan mendigitalkan koleksi-koleksi unik seperti naskah kuno nusantara dan buku-buku langka yang bisa menjembatani informasi sejarah masa lalu kepada generasi masa depan, dan ini yang masih dilakukan oleh Perpustakaan Nasional.

Transformasi Perpustakaan Digital

Baca juga : KPI Tekankan Pemenuhan TKDN dan Transparansi Pengadaan

Literasi secangkir kopi semakin hangat ditambah keluarnya ketam asam manis dan gonggong rebus khas Kepri, diskusi mengarah keberlanjutan transformasi perpustakaan digital seperti saat ini yang semakin berkembang dalam mengikuti pelayanan perpustakaan. Melalui konferensi ini, merupakan ajang pertukaran pengetahuan praktisi, dan sharing best practices dari perpustakaan digital yang ada di Malaysia dan Singapura dan juga dari berbagai perguruan tinggi dan perpustakaan daerah guna memperkuat transformasi kelembagaan perpustakaan di seluruh Indonesia.

KPDI tahun ini, menurut Rektor UMRAH Prof. Agung Dhamar Syakti, yang menekankan era digital saat ini menjadi sebuah fase kritis yang membutuhkan kesiapan infrastruktur, terutama akses internet sebagai prasyarat utama digitalisasi. Ia mengatakan, tantangan terbesar bagi Kepri adalah bagaimana literasi digital dan akses terhadap perpustakaan digital juga bisa dinikmati masyarakat di pulau-pulau terluar. Ini menjadi tantangan kita bersama, khususnya di Kepri yang wilayahnya tersebar antarpulau. Akses terhadap referensi dan data digital harus bisa dirasakan secara merata oleh masyarakat, termasuk di pulau-pulau terjauh.

Melalui kegiatan ini, tentunya membuka wawasan baru untuk kita bahwa Forum Perpustakaan Digital Indonesia sudah berlangsung selama 16 tahun, dan ini juga menjadi momentum penting untuk melahirkan inovasi serta kolaborasi dalam mengembangkan perpustakaan yang adaptif terhadap kemajuan teknologi yang tetap mengakar pada nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Melalui transformasi digital, perpustakaan diharapkan mampu menghadirkan layanan yang lebih modern, mudah diakses, serta adaptif terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya generasi muda di era kecerdasan buatan. 

Di tengah perkembangan pesat teknologi digital dan pergeseran besar dalam cara kita mengakses informasi, banyak yang mulai meragukan relevansi perpustakaan fisik. Layanan daring seperti Google, Wikipedia, dan berbagai platform digital lainnya memudahkan kita mendapatkan informasi hanya dengan beberapa ketukan jari. Namun, meskipun teknologi digital menawarkan kenyamanan dan kecepatan, perpustakaan tetap memegang peranan yang sangat penting dalam masyarakat modern. 

Perpustakaan sebagai pusat literasi yang tak tergantikan oleh ketukan jari. Salah satu alasan utama mengapa perpustakaan tetap relevan adalah peranannya dalam mendukung literasi, yang meliputi lebih dari sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi informasi, kemampuan untuk menilai dan menggunakan informasi yang ditemukan, merupakan keterampilan yang sangat penting di era digital ini. Meskipun internet memberikan akses mudah ke informasi, tidak semua informasi yang kita temukan di dunia maya itu valid atau dapat dipercaya. Perpustakaan tidak hanya menyediakan akses ke buku-buku dan materi pembelajaran, tetapi juga memberikan keterampilan bagi pemustakanya untuk mengidentifikasi sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Perpustakaan sering kali mengadakan pelatihan literasi informasi, yang mengajarkan pengunjung atau pemustaka cara mencari, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif di internet. Dengan demikian, perpustakaan berperan dalam membekali individu dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi konsumen informasi yang kritis dan cerdas, yang sangat diperlukan di era ketika informasi melimpah namun sering kali tidak terverifikasi.

Baca juga : Prabowo Undang Pemuka Agama ke Istana, Bahas Persatuan Bangsa

Meskipun teknologi telah memberikan kita akses ke jutaan buku dan artikel dalam format digital, ada banyak materi yang masih hanya dapat ditemukan dalam format fisik atau terbatas pada koleksi perpustakaan fisik. Beberapa buku langka, koleksi arsip, dan manuskrip sejarah penting tidak dapat ditemukan melalui mesin pencari atau platform digital manapun. Perpustakaan menyediakan akses tak ternilai ke koleksi semacam itu, yang mungkin tidak tersedia di tempat lain. Selain itu, meskipun ada banyak buku digital yang dapat diakses melalui aplikasi dan platform daring, kualitas buku-buku tersebut tidak selalu setara dengan kualitas yang tersedia di perpustakaan. Buku yang dijaga dengan baik, memiliki editorial yang disusun oleh ahli di bidangnya, dan koleksi langka yang jarang ditemukan di dunia maya tetap menjadi keunggulan yang dimiliki perpustakaan fisik.

Sekarang ini, transformasi perpustakaan juga merupakan pengakuan atas eksistensi atau keberadaan perpustakaan, karena perpustakaan juga berperan penting dalam mendukung pendidikan dan pembelajaran sepanjang hayat. Banyak orang dewasa yang kembali ke perpustakaan untuk mengambil kursus keterampilan baru atau untuk mengejar gelar akademik. Dengan fasilitas seperti ruang komputer, akses internet gratis, dan pelatihan literasi digital, perpustakaan membantu mereka yang tidak memiliki akses ke teknologi atau pendidikan lebih lanjut untuk terus berkembang.

Sudah saatnya kita mampu beradaptasi dengan teknologi digitalisasi dan akses daring dalam perpustakaan. Perpustakaan tidak hanya berdiam diri dalam menghadapi perkembangan zaman. Seiring dengan meningkatnya penggunaan teknologi, banyak perpustakaan yang telah mengadopsi teknologi digital untuk memperluas jangkauan mereka. Banyak perpustakaan kini menawarkan koleksi buku elektronik, audiobook, dan materi pembelajaran lainnya yang dapat diakses secara daring. Dengan demikian, meskipun kita hidup di era digital, perpustakaan tetap dapat menyediakan akses ke pengetahuan dan informasi melalui berbagai platform. Selain itu, beberapa perpustakaan telah menerapkan teknologi canggih seperti sistem peminjaman otomatis dan aplikasi mobile yang memungkinkan pengunjung untuk meminjam buku, mengakses materi, dan bahkan mengunduh eBook hanya dengan menggunakan perangkat smartphone mereka. Teknologi semacam ini membantu perpustakaan untuk tetap relevan dan meningkatkan pengalaman pengunjung, baik yang mengakses layanan secara langsung maupun daring.

Perpustakaan tidak lagi hanya menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat penting dalam melestarikan warisan budaya, terutama di tengah era digital yang semakin maju. Di Indonesia, perpustakaan seperti Perpusnas telah berkomitmen untuk mendokumentasikan, mendigitalkan, dan melestarikan berbagai bentuk kebudayaan lokal, termasuk manuskrip kuno, buku-buku langka, majalah langka, surat kabar langka, peta, lukisan, foto-foto langka, serta naskah-naskah dan koleksi sejarah lainnya termasuk juga kesenian tradisional. Perpustakaan Nasional juga telah mendigitalisasi ribuan naskah kuno dari berbagai daerah di Indonesia. 

Dengan cara ini, perpustakaan tidak hanya melestarikan budaya literasi, tetapi juga memastikan bahwa generasi muda yang hidup dalam era digital tetap terhubung dengan warisan budaya bangsa. Tidak hanya itu, perpustakaan juga berperan dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya melestarikan budaya lokal. Melalui kegiatan literasi, seminar budaya, dan pelatihan terkait digitalisasi, perpustakaan menjadi pusat edukasi dan advokasi bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap kelestarian budaya. Dengan peran penting perpustakaan dalam pelestarian budaya, masa depan warisan budaya Indonesia kini memiliki pondasi yang kuat untuk bertahan di tengah tantangan globalisasi. Upaya digitalisasi, pelibatan masyarakat, dan kolaborasi antar lembaga menjadikan perpustakaan sebagai benteng yang menjaga kekayaan budaya Indonesia agar tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.

Perpustakaan digital semakin populer karena menawarkan kemudahan akses informasi kapan saja dan di mana saja, serta mengatasi keterbatasan ruang dan waktu yang sering ditemui pada perpustakaan konvensional. Perpustakaan digital juga memungkinkan akses ke berbagai format media, seperti teks, gambar, audio, dan video, serta mendukung kolaborasi dan berbagi informasi di antara pengguna. 

Baca juga : Resmikan Al Center Di Bali, Telkom Gaspol Transformasi Digital Nusantara

Terkait popularitas perpustakaan digital ini yang menjadi nilai plusnya adalah soal aksesibilitas, kenyamanan, efisiensi, koleksi beragam, inovasi, dan adaptasi.Pengguna dapat mengakses koleksi perpustakaan digital dari berbagai perangkat yang terhubung ke internet, seperti komputer, laptop, tablet, atau ponsel pintar. Perpustakaan digital dapat diakses kapan saja dan di mana saja, tanpa terikat oleh jam operasional atau lokasi fisik perpustakaan. Pengguna dapat mencari dan menemukan informasi dengan cepat dan mudah melalui fitur pencarian yang canggih di perpustakaan digital. Perpustakaan digital terus berkembang dengan menambahkan fitur-fitur baru, seperti kemampuan berbagi catatan, penandaan halaman, dan integrasi dengan media sosial. 

Perpustakaan tradisional juga mulai bertransformasi menjadi ruang hybrid yang menggabungkan sumber daya fisik dengan layanan digital untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang semakin dinamis. Meskipun perpustakaan digital semakin digemari, perpustakaan fisik tetap memiliki peran penting, terutama dalam menyediakan ruang untuk kegiatan literasi, diskusi, dan interaksi sosial. Perpustakaan digital dan fisik dapat saling melengkapi dan berkolaborasi untuk meningkatkan literasi dan akses informasi bagi masyarakat. 

Peluang dan tantangan transformasi perpustakaan digital memang sangat terbuka lebar, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Sudah saatnya perpustakaan merubah paradigmanya dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan dengan proses digitalisasi yang memungkinkan koleksi-koleksi berharga ini dapat diakses oleh masyarakat luas, tidak hanya untuk akademisi dan peneliti, tetapi juga generasi muda yang ingin mengenal lebih jauh tentang warisan budaya bangsa. Kita tunggu pertemuan selanjutnya siapa tahu perpustakaan digital akan berubah lagi karena ada teknologi digital terus berkembang. Salam literasi.***

Agus Sutoyo
Kepala Pusat Pembinaan Pustakawan (Pusbinawan) Perpustakaan Nasional RI

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.