Dark/Light Mode

Tim Reformasi Polri Kapolri Dan Presiden Saling Melengkapi

Selasa, 23 September 2025 12:01 WIB
Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi. (Foto: Instagram Haidar Alwi Institute)
Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi. (Foto: Instagram Haidar Alwi Institute)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pembentukan Tim Transformasi Reformasi Polri oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mendapat sorotan publik karena dinilai eksklusif dan tidak melibatkan masyarakat sipil. Namun, Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi, menilai kritik tersebut lahir dari kesalahpahaman.

Menurut Haidar, tim bentukan Kapolri tidak bisa disamakan dengan Tim Reformasi Polri yang dibentuk Presiden. Keduanya, kata dia, memiliki mandat, ruang lingkup, dan sasaran berbeda.

“Tim internal bentukan Kapolri ditugaskan untuk mengkaji, merancang, dan melaksanakan perubahan di tubuh Polri berdasarkan mandat konstitusional dan kebutuhan organisasi,” kata Haidar di Jakarta, Senin (22/9/2025) malam.

Baca juga : Bentuk Tim Reformasi Polri, Kapolri: Kita Selalu Buka Ruang Untuk Perbaikan

Haidar menjelaskan, fokus tim internal tersebut mencakup evaluasi kelembagaan, sistem manajemen, mekanisme pengawasan, hingga tata kelola sumber daya manusia. “Dengan kata lain, tim ini bekerja dari dalam untuk menyiapkan kerangka teknokratis dan operasional reformasi Polri,” tegasnya.

Sementara itu, Tim Reformasi Polri bentukan Presiden lebih berorientasi pada masukan strategis dari luar institusi kepolisian. Tim ini melibatkan unsur masyarakat sipil, akademisi, tokoh masyarakat, hingga lembaga negara.

“Mandat tim bentukan Presiden adalah menjamin keterbukaan dan memberikan perspektif eksternal agar reformasi tidak terjebak pada bias kepentingan internal,” ujar Haidar.

Baca juga : Langkah Nyata Wujudkan Polisi Yang Dicintai Rakyat

Dengan demikian, lanjutnya, kedua tim justru saling melengkapi. Tim Kapolri bekerja di level teknis-operasional, sedangkan tim Presiden berperan pada aspek normatif dan pengawasan publik.

“Kritik yang menyamakan keduanya sebagai langkah eksklusif justru mereduksi esensi pembenahan Polri. Reformasi sebesar Polri membutuhkan dua jalur sekaligus: pembenahan internal yang sistematis serta partisipasi eksternal yang inklusif,” tutur Haidar.

Ia menekankan, reformasi Polri hanya akan berhasil jika kedua jalur tersebut berjalan paralel. “Kepercayaan publik tidak dibangun semata-mata oleh narasi, melainkan kerja nyata yang ditopang kolaborasi internal dan eksternal secara simultan,” pungkas Haidar.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.