Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Di beberapa hari belakangan ini, saya mendengar cerita yang jujur saja, saya pikir cuma bisa terjadi di film. Tentang seseorang yang ditawari sogokan satu miliar dolar. Bukan satu juta, bukan seratus juta, tapi satu miliar dolar. Kalau dirupiahkan, kira-kira Rp16,5 triliun. Jumlah yang cukup untuk membangun ibu kota baru mini.
Dan yang menolak sogokan itu bukan orang biasa.
Ia adalah Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Cerita ini datang dari adiknya sendiri, Hashim Djojohadikusumo. Dalam acara Indonesia Berdoa di Jakarta, ia bercerita dengan gaya khas keluarga mereka: santai, jujur, dan sedikit humor yang menyembunyikan keseriusan.
“Malam-malam Prabowo telepon saya,” kata Hashim. “‘Saya baru mau disogok orang,’ katanya. Saya tanya, berapa? Dia jawab, satu miliar dolar.”
Saya tertegun. Bukan karena jumlahnya, tapi karena reaksi tenangnya. Tanpa drama, tanpa pidato panjang, tanpa “lihat aku bersih!”, Presiden hanya bercerita. Seperti seseorang yang baru saja menolak kopi yang terlalu manis.
Baca juga : Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran, Pertamina Perkokoh Ketahanan Energi
Lalu Hashim melanjutkan dengan kisahnya sendiri: ternyata dia pun pernah ditawari sogokan, bahkan lebih besar US$ 1,5 miliar. Dan ia juga menolak.
“Setan datang,” katanya, “tapi Tuhan menolong.”
Kalimat itu sederhana, tapi menghantam dalam.
Setan datang tidak selalu dengan tanduk. Kadang datang dengan proposal. Dengan amplop tebal. Dengan janji “kerja sama strategis.”
Kita semua tahu, kekuasaan dan uang adalah dua godaan terbesar dalam politik. Dan di negeri seperti Indonesia yang tanahnya subur, sumber dayanya melimpah, tapi mental sebagian pejabatnya masih rapuh, kisah tentang sogokan bukan barang langka.
Yang langka justru kisah penolakan sogokan.
Baca juga : Teddy Indra Wijaya, Pilar Komunikasi Publik di Pemerintahan Prabowo
Mendengar cerita ini, saya jadi berpikir, mungkin, inilah cara Tuhan menunjukkan bahwa negara ini masih punya harapan. Masih ada pemimpin yang tidak bisa dibeli. Masih ada yang berani menolak uang sebesar itu, dan memilih tidur nyenyak tanpa rasa bersalah.
Sebentar lagi, pemerintahan Presiden Prabowo genap setahun. Tahun pertama yang penuh badai tantangan dan cobaan.
Tapi di tengah semua itu, cerita Hashim ini terasa seperti vitamin moral. Bahwa di puncak kekuasaan, integritas masih hidup. Bahwa di tengah godaan triliunan rupiah, ada yang tetap memegang nilai.
Saya tidak tahu siapa yang mencoba menyogok presiden. Tapi saya tahu satu hal, dengan menolak uang sebesar itu, Prabowo sedang mengirim pesan kuat, bukan ke pelaku sogokan, tapi ke seluruh bangsa.
Pesan bahwa pemerintah ini tidak untuk dijual. Pesan bahwa kekuasaan bukan untuk menumpuk harta, tapi menjaga amanah. Pesan bahwa integritas, ternyata, masih bisa menjadi berita utama.
Dan sebagai warga negara biasa, saya cuma bisa bilang: Terima kasih, Pak Presiden.
Baca juga : Setahun Pemerintahan, Prabowo: Kita Berada Di Jalan Yang Benar
Kalau satu miliar dolar saja bisa Bapak tolak, maka satu tahun pertama pemerintahan ini sudah punya fondasi moral yang sangat mahal nilainya bahkan jauh lebih mahal daripada uang sogokan itu sendiri.
Satu tahun pemerintahan bisa dihitung dengan angka, berapa proyek dimulai, berapa lapangan kerja tercipta. Tapi kehebatan sebuah pemerintahan, sesungguhnya bisa juga diukur dari apa yang ditolak, bukan sekadar apa yang dicapai.
Dan ketika seorang presiden menolak sogokan triliunan rupiah, ia sesungguhnya sedang menulis bab pertama dari kisah besar, tentang negeri yang mulai diselamatkan, bukan oleh kekuatan, tapi oleh keteguhan, keberanian dan keikhlasan hati.
Terus berjuang dan tetap Istiqomah Bapak Presiden, Indonesia dan Tuhan bersamamu
Taufan Rahmadi
Analis Kebijakan Pariwisata BACenter
Analis Kebijakan Pariwisata BACenter
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya