Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sebelumnya
Dia pernah bertugas bersama Arif di Riau. Arif Ketua PN Pekanbaru, sementara Effendi Ketua PN Dumai.
Sedangkan hubungannya dengan Agam, lebih dalam. Effendi bersama Agam sama-sama menerima Surat Keputusan (SK) sebagai calon Hakim pada 1996.
Kemudian, pada 1999, keduanya menjalani pendidikan dan pelatihan (Diklat) di Gandul, Cinere, yang sekarang menjadi Pusdiklat Mahkamah Agung (MA).
Selama dua pekan, Effendi bersama Agam menjalani pendidikan dasar kemiliteran. Mulai dari berjalan kaki dari Sawangan ke Cilandak, hingga latihan berenang di Ancol, di bawah pelatihan Marinir.
Baca juga : PSG Hancurkan Leverkusen
Kemudian pada 2001, mereka berpisah. Effendi ditugaskan di PN Pidie, Aceh. Kala itu, kondisi di Aceh belum begitu aman. Sementara Agam, ditugaskan ke wilayah Indonesia timur. Mengenang kisahnya, Effendi pun meneteskan air mata.
“Hari ini, bukan hari ini ya, di persidangan ini, kita ketemu. Jujur, suasana yang sebetulnya tidak saya inginkan dan jujur, secara manusia biasa, saya emosional terhadap persidangan ini,” ujar Effendi sambil terisak.
“Inilah beban perkara yang paling berat yang pernah saya alami, saya menyidangkan teman-teman saya,” imbuhnya, seraya menyeka air mata.
Sementara untuk terdakwa lain yang juga diperiksa, yakni hakim nonaktif PN Jakarta Selatan Djuyamto dan hakim ad hoc PN Jakarta Pusat Ali Muhtarom, Hakim Effendi mengaku tak terlalu akrab.
Baca juga : BNI Indonesia Masters 2025, Mutiara Puas Libas Pemain Top Thailand
Namun dia menyoroti rekam jejak alias track record Djuyamto sebagai anggota Ikatan Hakim Indonesia (Ikahi) dan memperjuangkan kenaikan gaji hakim.
Effendi menanyakan alasan para terdakwa menerima suap perkara migor ini.
“Seluruh angkatan kita menengok ke kita sekarang. Mungkin saya akan dihujat, kan begitu ya, Saudara teman saya. Tapi tugas negara ini harus saya emban,” ujar Effendi, kembali menangis.
Setelah Hakim Effendi, giliran Hakim nonaktif Djuyamto yang menangis. Air matanya mengalir saat mengakui kesalahannya menerima suap.
Baca juga : Prabowo Dipercaya Publik, Gerindra Melesat ke Angka 33,5 Persen
“Saya tidak akan menyalahkan siapa siapa, saya lah yang menghancurkan…”. Kalimat Djuyamto terhenti. Isak tangis mulai terdengar sayup-sayup. “Mohon izin, Yang Mulia,” ucapnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya