Dark/Light Mode

Jurnalis: Mercusuar Petunjuk Kebenaran Berita di Tengah Lautan Konten dan AI

Kamis, 30 Oktober 2025 13:14 WIB
Para jurnalis saat bertugas di lapangan. (Foto: Kharizal Anwar/RM)
Para jurnalis saat bertugas di lapangan. (Foto: Kharizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Era digital mendorong produksi informasi begitu membludak. Setiap hari masyarakat dijejali berbagai kabar dan berita yang datang bagaikan gelombang. Semua ada. Politik, ekonomi, sosial, hukum, kriminal, olahraga, hiburan, dan lainnya.

Pakar komunikasi dan literasi digital dari Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, mengibaratkan membludaknya informasi itu seperti kapal-kapal yang melaju tanpa arah di samudera yang luas. Masyarakat berada di samudera ini butuh petunjuk arah dan pemberi peringatan agar bisa sampai ke daratan dengan selamat.

Dalam kondisi ini, peran jurnalis sangat dibutuhkan masyarakat. “Dalam pusaran ini, jurnalis sejati menjadi mercusuar, penunjuk arah, pelindung dari karang misinformasi, dan penjaga pantai kebenaran,” ujar Devie, kepada RM.id, Jumat (24/10/2025).

Pakar komunikasi dan literasi digital Devie Rahmawati. (Foto: Dok. Pribadi Devie Rahmawati)

Penyandang gelar doktor ilmu komunikasi ini menerangkan, kemajuan teknologi telah mengubah penyebaran informasi dengan sangat signifikan. Konten dibuat lebih cepat dari kesadaran masyarakat untuk mengecek keaslian dan kebenarannya. Media sosial, citizen journalism, dan kini ada kecerdasan buatan (AI) generatif seperti ChatGPT, Bard, dan lainnya, menambah volume informasi yang beredar.

Konten-konten tersebut bertebaran di media sosial. Ada yang berbentuk teks, gambar, suara, dan video. Beberapa disampaikan dengan narasi yang begitu meyakinkan atas kabar yang disampaikan. “Tapi sayangnya, volume tak selalu berarti kualitas,” imbuh Devie.

Agar bisa menjadi petunjuk bagi masyarakat, peran jurnalis pun bergeser menjadi lebih luas. Dari sekadar yang tercepat dalam menyajikan informasi, menjadi yang paling dipercaya. “Dari pabrikasi berita, menjadi kurator kebenaran,” terang Devie.

Strategi Melawan Hoaks

Di tengah banjir informasi, hoaks dan disinformasi kini hadir dalam bentuk yang semakin canggih. Gambar yang dipalsukan (deepfake), video dengan narasi menyesatkan, dan konten AI yang seolah-olah “fakta”.

Daftar temuan isu hoaks sepanjang 2024. (Tabel: Dok. Komdigi)

Baca juga : Tergusur Dari Puncak Klasemen F1, Piastri Ubah Gaya Balap

Sepanjang 2024, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkap temuan isu hoaks sebanyak 1.923 dalam 13 kategori. Rinciannya: penipuan 890 hoaks, politik 237, pemerintahan 214, kesehatan 163, kebencanaan 145, lain-lain 84, internasional 50, pencemaran nama baik 50, perdagangan 35, kejahatan 33, keagamaan 8, pendidikan 8, mitos 6.

Untuk menghadapi kondisi ini, Devie menyebut, ada enam “senjata” yang bisa digunakan jurnalis.

1. Human-in-the-loop
Dalam pendekatan ini, AI bisa digunakan untuk membantu menganalisis sebaran hoaks, tapi keputusan akhir tetap ada di manusia. “Pastikan selalu ada editor yang memverifikasi dan meninggalkan jejak audit,” ucap Devie.

2. Verifikasi Multimodal
Dalam bekerja, jurnalis tak cukup hanya memeriksa teks. Tapi periksa juga metadata foto, suara, lokasi, hingga timestamp. “Ini fondasi jurnalisme yang berintegritas,” terangnya.

3. Prebunking, bukan cuma Debunking
Jurnalis perlu melakukan edukasi kepada publik sebelum hoaks meledak. Caranya, menunjukkan “pola-pola umum” penyesatan: seperti misleading title, manipulative frame, atau teknik whataboutism (membelokkan masalah).

4. Transparansi Penggunaan AI
Devie memandang, jurnalis di era saat ini juga boleh menggunakan AI dalam memproduksi berita. Namun, jurnalis itu harus jujur kepada publik. Caranya, dengan menggunakan content credentials dan watermark dalam produk berita yang dihasilkan tersebut.

“Studi menunjukkan, transparansi menaikkan trust, meskipun tidak semua pembaca menyukai konten AI,” ujarnya.

Baca juga : MedcoEnergi Perkuat Ketahanan Energi di Tengah Dinamika Global

5. Kolaborasi Lintas Pihak
Devie menyarankan para jurnalis membangun jaringan kolaboratif antara redaksi, fact-checker, akademisi, dan platform digital. Terutama untuk mengenali pola narasi yang menyebar lintas ruang.

6. Sentuhan Manusia Tak Tergantikan
Devie menerangkan, AI memang bisa membuat struktur, tapi hanya manusia yang bisa menambahkan empati dan irama cerita. “Readability itu soal rasa. Dan rasa, tak bisa diprogram,” tegasnya.

Nurani Tetap Kompas

Devie memandang, jurnalisme adalah pekerjaan nurani. Dia meyakini, sehebat apa pun teknologi saat ini, tidak akan bisa menggantikan peran jurnalis.

Prompt (instruksi pada AI) tak bisa menggantikan empati. Algoritma tak bisa menggantikan keberanian menyuarakan yang benar,” terang mantan jurnalis tersebut.

Di dunia yang semakin bising, lanjut Devie, tugas jurnalis harus menjadi suara yang jernih. Menjadi penjaga lentera informasi, bukan hanya pembaca Google Trends.

“Jika mesin bisa membuat berita, maka manusia harus menjaga makna. Dan jika semua orang bisa membuat konten, jurnalis harus menjaga kebenaran. Karena di lautan konten yang gelap, kita semua butuh mercusuar. Dan mercusuar itu, adalah para jurnalis,” tutupnya.

Keunggulan Jurnalis

Pakar komunikasi Gun Gun Heryanto. (Foto: Instagram Gun Gun)

Pakar komunikasi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Gun Gun Heryanto, berpandangan senada. Dia menilai, hadirnya AI menjadi tantangan baru bagi jurnalis. Apalagi, saat ini banyak pihak menyalahgunakan AI untuk menyebarkan haoks dan disinformasi.

Baca juga : Mensesneg: Ditjen Ponpes Bentuk Kepedulian Pemerintah Terhadap Santri

“Tantangan yang paling besar bagi jurnalis ada pada analisis data verifikatif. Cek data dan faktanya,” ucap Gun Gun, kepada kepada RM.id, Kamis (9/10/2025).

Gun Gun menerangkan, jurnalis punya keunggulan dari medsos dan AI di bidang kecermatan dan akurasi. Medsos dan AI memang bisa memproduksi berita dengan sangat cepat, tapi hasilnya belum tentu cermat dan akurat.

Agar keunggulan jurnalis semakin di atas, Gun Gun menyarankan untuk menambah kecepatan dalam penyebaran berita. “Media harus bisa menggabungkan kecepatan dan kecermatan,” tandasnya.

Penjaga Persatuan

Menkomdigi Meutya Hafid saat Pengukuhan Pengurus PWI Pusat Masa Bakti 2025–2030, di Surakarta, Sabtu (4/10/2025). (Foto: Dok. Komdigi)

Karya-karya jurnalis yang memegang teguh kebenaran sangat penting bagi keutuhan bangsa. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menegaskan bahwa jurnalis memiliki peran vital dalam menjaga persatuan di tengah derasnya arus disinformasi, ujaran kebencian, dan tantangan era AI.

"Tantangan digitalisasi dan kecerdasan artifisial menyulitkan masyarakat melihat mana berita yang betul dan mana berita yang hoaks. Pemerintah mengajak masyarakat untuk kembali bersandar pada karya-karya yang patuh pada etika jurnalistik," ujar Meutya, saat menghadiri Pengukuhan Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Masa Bakti 2025–2030, di Monumen Pers Nasional, Surakarta, Sabtu (4/10/2025), seperti keterangan resmi Komdigi.

Atas peran penting ini, Meutya menekankan, keberlangsungan dunia jurnalisme dan industri pers harus terus dijaga. Bukan hanya sebagai penyedia informasi, tetapi juga sebagai penopang demokrasi dan perekat kebangsaan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.