Dark/Light Mode

Lagi, Ada Bangunan Pesantren Ambruk, PBNU Minta Pemerintah Beri Perhatian Serius

Rabu, 29 Oktober 2025 23:17 WIB
Wakil Ketua Umum PBNU, KH. Zulfa Mustofa (Foto: Dok. PBNU)
Wakil Ketua Umum PBNU, KH. Zulfa Mustofa (Foto: Dok. PBNU)

RM.id  Rakyat Merdeka - Musibah kembali menimpa warga pondok pesantren. Kali ini terjadi di Situbondo, Jawa Timur. Sebuah asrama di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Syekh Abdul Qodir Jailani ambruk. Selain menyebabkan sejumlah santriwati luka-luka, insiden itu juga mengakibatkan wafatnya seorang santriwati bernama Putri (12 tahun).

“Saya atas nama PBNU menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya salah seorang santriwati. Semoga almarhumah syahidah, karena wafat di saat sedang menuntut ilmu,” kata Wakil Ketua Umum PBNU, KH. Zulfa Mustofa, Rabu (29/10/2025).

Ambruknya asrama di salah satu pondok pesantren di Situbondo ini menambah duka umat yang belum kering akibat musibah robohnya musala di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, bulan lalu. “Tentu saja kami sangat prihatin. Musibah ini berulang hanya berselang sebulan dari kejadian di Al Khoziny, Sidoarjo,” ujar Kiai Zulfa.

Wakil Ketua Umum PBNU Bidang Keagamaan itu meminta Pemerintah turun tangan membantu mencari solusi dari kondisi memprihatinkan yang dialami sejumlah pondok pesantren. Menurutnya, tragedi Al Khoziny seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah dan berbagai pihak untuk memberi perhatian terhadap kondisi bangunan pesantren.

Baca juga : Atap Asrama Pesantren Syekh Abdul Qodir Ambruk, Kemenag Berduka dan Beri Bantuan

“Kami berharap, ya memintalah, agar pemerintah bisa membantu pesantren tua yang bangunannya berpotensi membahayakan. Bantu memperbaiki agar santrinya bisa belajar dengan aman,” kata kerabat ulama besar Nusantara, Syekh Nawawi Al-Bantani, itu.

Kiai Zulfa menambahkan, secara internal PBNU terus memantau dan mendata aset-aset pesantren, terutama terkait bangunan fisik. “Saya juga sudah memerintahkan RMI bekerja sama dengan para pihak membantu pondok-pondok tua di lingkungan NU,” ujarnya.

RMI atau Rabithah Ma’ahid Al Islamiyah merupakan lembaga yang menaungi pesantren-pesantren di bawah PBNU. Hingga kini, tidak kurang dari 26 ribu pondok pesantren di Indonesia berafiliasi dengan NU secara ubudiyah dan muamalah.

Satu Orang Wafat

Sebelumnya diberitakan, bangunan asrama putri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Syekh Abdul Qodir Jailani di Jalan Pesanggrahan, Desa Blimbing, Kecamatan Besuki, Situbondo, ambruk pada Rabu (29/10/2025) dini hari sekitar pukul 00.30 WIB.

Baca juga : Toyota Siap Bangun Pabrik Etanol Di Indonesia, Pemerintah Siapkan Insentif

Kapolres Situbondo AKBP Rezi Darmawan menyebut, total ada 12 santriwati yang menjadi korban. “Satu santriwati wafat dan sudah dimakamkan tadi pagi pukul 08.00,” kata Rezi, Rabu.

Korban wafat atas nama Putri (12 tahun), warga Dusun Rawan, Desa Besuki, Kecamatan Besuki. Sementara enam santriwati dirawat di Puskesmas Besuki, empat di RSUD Besuki, dan satu di RSIA Jatimned.

“Korban yang selamat sekarang dirawat intensif di beberapa tempat, empat di RSUD Besuki dan satu di RSIA Jatimned,” ujarnya. Polisi telah melakukan olah TKP, namun belum memastikan penyebab ambruknya bangunan tersebut. “Kami masih selidiki, apakah karena faktor cuaca atau lainnya. Kami juga akan koordinasi dengan Kementerian Agama,” kata Rezi.

Kesaksian Korban

Aura Adelia (14 tahun), warga Desa Bungatan, Kecamatan Bungatan, Situbondo, adalah salah satu korban selamat. “Saya saat itu tidur lelap, tiba-tiba bangunan ambruk dan saya langsung keluar kamar,” ucap Aura, di RSUD Besuki, Rabu (29/10/2025).

Baca juga : Perkuat Ketahanan Pangan, PTBA Hadirkan Dua PLTS Irigasi untuk Petani Muara Enim

Aura menuturkan, satu kamar diisi 19 santriwati. Semua tertidur lelap tanpa tanda-tanda bangunan akan roboh. “Saya tidak tahu apa-apa, cuma waktu keluar kondisinya memang gerimis,” katanya.

Ia baru sadar kaki kanannya terluka parah saat sudah berada di luar kamar. “Tiba-tiba terasa perih dan keluar darah. Saya minta tolong, lalu digendong ke rumah sakit,” ujarnya.

Aura menyebut, tidak hanya dirinya yang luka serius. Ada empat korban lain yang juga mengalami luka berat—dua dirawat di RSIA Jatimned dan dua lainnya di RSUD Besuki.

RS (35 tahun), warga Desa Besuki, keluarga salah satu korban, mengaku kaget saat menerima kabar. “Kami awalnya disuruh ke pondok, tidak tahu kalau anak kami jadi korban ambruk. Kaget sekali, apalagi lukanya parah dan harus dioperasi,” katanya, dengan nada sedih.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.