Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Polda Metro Beberin Kasus Peledakan SMAN 72
Ada 7 Bom Rakitan, 4 Meledak, 3 Dijinakkan
Rabu, 12 November 2025 08:08 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Polda Metro Jaya mengungkapkan fakta-fakta terbaru mengenai ledakan di SMAN 72 Jakarta. Dari hasil penyelidikan, terungkap pelaku membawa tujuh bom rakitan ke lingkungan sekolah. Empat meledak, tiga lainnya berhasil dijinakkan tim Gegana.
Fakta tersebut disampaikan Polda Metro Jaya dalam konferensi pers di Aula Satya Haprabu, Selasa (11/11/2025). Acara ini dihadiri perwakilan Puslabfor Polri, Densus 88 Antiteror, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan jajaran pejabat kepolisian.
Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri menjelaskan, pelaku berinisial F kini telah ditetapkan sebagai anak berhadapan dengan hukum (ABH). Berdasarkan keterangan saksi, terdapat dugaan kuat adanya tindakan melanggar hukum.
“Pelaku membawa tujuh bom rakitan aktif ke lingkungan sekolah. Setelah kejadian, penyidik bersama tim Brimob menyisir area sekolah dan menemukan tiga bom aktif yang berhasil dijinakkan di dua titik lokasi,” ujar Irjen Asep.
Direktur Satuan Brimob Polda Metro Jaya Kombes Henik Maryanto menambahkan, dua bom meledak di area masjid sekolah, dua lainnya meledak tidak sempurna di area bank sampah dan taman baca. Di lokasi yang sama, petugas menemukan dua bom aktif lain serta pelaku dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Baca juga : Beri Gelar Pahlawan untuk Pak Harto, Gus Dur, Marsinah: Prabowo Negarawan
“Dua bom yang meledak tidak sempurna, casing-nya masih utuh. Artinya, ledakannya tidak sepenuhnya memicu tabung,” jelas Henik.
Henik juga mengungkap, satu bom lain ditemukan di taman baca. Bom tersebut dikemas dalam kaleng minuman dengan sumbu bakar dan remote control. Berdasarkan hasil pemeriksaan, bom dikendalikan dari jarak jauh menggunakan baterai AAAA dan pemicu listrik.
“Dari analisa kami, pelaku meledakkan bom dari luar masjid karena remote ditemukan di taman baca,” ungkapnya.
Kabid Balistik Metalurgi Forensik Mabes Polri Kombes Ari Kurniawan Jati menambahkan, hasil uji laboratorium menunjukkan bahan peledak yang digunakan termasuk jenis low explosive atau berkekuatan rendah.
Sementara itu, Direktur Siber Polda Metro Jaya Kombes Roberto Gomgom Manorang Pasaribu memaparkan hasil rekaman CCTV yang merekam detik-detik pelaku beraksi. “Pelaku tiba di sekolah pukul 06.28 WIB dengan membawa tas merah dan biru. Ia sempat melintas di depan ruang kepala sekolah dan berpapasan dengan seorang guru,” ungkap Roberto.
Baca juga : 10 November di Istana: Air Mata Netes di Pipi, Foto di Pigura Diciumi
Menjelang salat Jumat sekitar pukul 11.43 WIB, pelaku menuju masjid dengan tas merah di punggung. Beberapa menit kemudian, ia mengganti seragam sekolahnya dengan kaus putih dan celana hitam, sambil menenteng senjata mainan.
“Pukul 12.05 WIB, pelaku tampak mengarahkan senjata mainan ke arah masjid. Sesaat kemudian, muncul cahaya merah diikuti ledakan dan kepulan asap putih,” tambahnya.
Ledakan tersebut menimbulkan kepanikan dan menyebabkan korban luka massal. Total ada 96 korban, mayoritas siswa dan guru. Salah satu korban terparah, murid kelas X berinisial LH (16), mengalami luka bakar 30–40 persen di sisi kiri tubuhnya.
“Bagian kiri kena semua, dari kepala sampai kaki,” ujar ayah korban, Andri, di RS Islam Cempaka Putih.
Andri mengaku mengetahui kabar ledakan dari grup wali murid dan tak menyangka anaknya menjadi korban. Ia berharap polisi menuntaskan kasus ini agar keluarga mendapat kejelasan. “Kalau bisa, semuanya dibuka secara transparan,” harapnya.
Baca juga : Pelaku Peledakan SMAN 72 Tak Terkait Jaringan Teroris
Direktur Utama RS Islam Cempaka Putih, Pradono Hangdojo menyebut, terdapat 11 korban yang masih dirawat, satu di antaranya berada di ruang ICU karena luka bakar berat. “Kondisinya cukup parah dan masih memerlukan perawatan multidisipliner, termasuk tindakan cangkok kulit,” jelasnya.
Selain luka bakar, sekitar 90 persen korban mengalami gangguan pendengaran akibat trauma akustik. “Kalau gangguan di bawah 50 persen, biasanya bisa pulih alami dalam dua minggu. Tapi kalau 100 persen, pemulihan sangat sulit,” katanya.
Pasca-ledakan, kegiatan belajar mengajar di SMAN 72 untuk sementara dihentikan. Sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh hingga situasi benar-benar pulih.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo menyatakan, pihak sekolah dan Dinas Pendidikan memiliki kewenangan menentukan kapan kegiatan tatap muka dapat dimulai kembali.
“Secara prinsip, pembelajaran tatap muka sudah bisa dilakukan. Namun kami memberikan kebebasan kepada pihak sekolah untuk menentukan waktu terbaik,” ujar Pramono.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya