Dark/Light Mode

Islam Junjung Tinggi Kemanusiaan dan Kedamaian, Hati-hati Seruan Adu Domba

Selasa, 2 Desember 2025 16:08 WIB
Kepala Bidang Penyelenggaraan Peribadatan Masjid Istiqlal Jakarta, KH Bukhori Sail At-Tahiri (Foto: Istimewa)
Kepala Bidang Penyelenggaraan Peribadatan Masjid Istiqlal Jakarta, KH Bukhori Sail At-Tahiri (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Bidang Penyelenggaraan Peribadatan Masjid Istiqlal Jakarta, KH Bukhori Sail At-Tahiri, angkat bicara soal munculnya gerakan yang memakai jargon agama, termasuk seruan menolak bendera Merah Putih dan menggantinya dengan “bendera Islam”. Ia melihat, banyak umat Islam yang masih awam kerap mencampuradukkan antara ajaran agama dan budaya.

Dia menerangkan, panji yang disebut sebagai bendera Islam atau panji Rasulullah. Berwarna hitam bertuliskan La Ilaha Illallah warna putih.

“Itu bukanlah bendera Islam. Itu panji yang khusus digunakan saat peperangan di masa Rasulullah dan para khalifah,” ujar KH Bukhori, di Jakarta, Selasa (2/12/2025).

Ia menambahkan, kalau pun panji itu benar dianggap bendera Islam, seharusnya negara-negara Islam lain menjadikannya sebagai bendera resmi negaranya. KH Bukhori mencontohkan Arab Saudi, justru memakai bendera hijau khasnya sebagai bendera resmi. Begitu pula Mesir, Suriah, dan Irak—masing-masing punya bendera resmi sendiri.

Baca juga : DPR Rl Dukung Pengembangan Kereta Api Di Luar Pulau Jawa

Dia melihat, sebagian masyarakat Indonesia tidak paham soal ini. Begitu melihat ada panji yang dinamakan bendera Islam, mereka menganggap itu kewajiban dalam Islam.

“Padahal tidak ada anjuran bahwa bendera Islam harus hitam bertuliskan La Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah. Tidak ada. Adapun bendera negara-negara Islam, termasuk Indonesia, adalah ungkapan sejarah berdirinya bangsa tersebut,” jelas KH Bukhori.

Ia menegaskan, bendera negara adalah bagian dari filosofi bernegara. Merah Putih sudah menjadi ciri khas bangsa sejak kemerdekaan. Karena itu, gagasan mengganti bendera negara dinilai tidak bermanfaat.

“Korelasi Merah Putih dengan sejarah Indonesia sudah tepat. Tidak perlu diganti menjadi bentuk lain, karena tidak ada yang namanya bendera Islam,” tegasnya.

Baca juga : Mendagri: ASN Tangguh Kunci Ketahanan dan Keberlangsungan Negara

KH Bukhori juga menyayangkan masih banyak umat Islam yang mudah mengikuti seruan-seruan berlebihan. Sikap seperti ini, menurutnya, mudah dimanfaatkan pihak tertentu untuk kepentingan politik praktis.

“Kadang ada keinginan berbuat yang terbaik, tapi dilebih-lebihkan di luar semestinya. Itu seperti memasak, karena ingin enak, lalu dikasih garam banyak-banyak atau bumbu tak sesuai porsi. Tidak bisa begitu. Dalam beragama pun demikian. Bersikap berlebihan yang salah tempat justru merusak praktik beragama seseorang,” ujarnya.

Menurut KH Bukhori, Islam sangat menjunjung tinggi kesejahteraan dan kedamaian masyarakat. Kalau ada ajakan atau paham yang mengabaikan bahkan melanggar kemanusiaan, jelas bukan berasal dari Islam.

“Kemanusiaan dan realitas sosial sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Tujuan kita beragama salah satunya supaya hidup damai dan sejahtera. Kalau kita menerapkan ajaran Islam tapi yang terjadi huru-hara dan saling serang karena perbedaan yang remeh, itu pemahaman dan pengamalan beragama yang keliru,” tambahnya.

Baca juga : Bamsoet Dorong Pemerintah Segera Sahkan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber

KH Bukhori juga membandingkan karakter masyarakat di beberapa negara yang pernah ia kunjungi. Menurutnya, orang Indonesia dikenal ramah dan tidak mudah dipengaruhi. Ideologi transnasional yang bertentangan dengan kearifan bangsa, katanya, akan tertolak dengan sendirinya.

“Kalau bangsa Indonesia punya karakter keras yang dominan, mungkin sudah dari dulu menjadi bangsa yang keras. Tapi alhamdulillah, kita sudah biasa hidup rukun dengan berbagai suku, bangsa, dan agama. Kerukunan ini yang harus kita jaga bersama,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.