Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ketua HITI: Salah Kelola Tanah, Pembangunan Bisa Jadi Bencana
Kamis, 4 Desember 2025 18:55 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Umum Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI), Husnain, mengingatkan bahwa pembangunan yang tidak mempertimbangkan kemampuan tanah dapat memicu bencana dan melemahkan fondasi pembangunan nasional. Menurutnya, kondisi tanah harus menjadi acuan utama dalam penyusunan rencana tata ruang dan proyek infrastruktur.
“Kemampuan wilayah menampung air dan potensi likuifaksi harus diketahui dulu,” kata Husnain dalam perayaan World Soil Day 2025 di Bogor, Kamis (4/12). Ia menyebut sejumlah bencana yang terjadi di berbagai wilayah merupakan dampak dari penggunaan lahan yang tidak sesuai karakter tanah. “Ketika sebuah bangsa menggunakan tanah sesuai kemampuan dan kapasitasnya, peradaban akan tumbuh, berkembang, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Baca juga : Pemerintah All-Out! Prabowo Siap Tambah Anggaran Penanganan Bencana
Perayaan World Soil Day tahun ini mengangkat tema dari FAO, yaitu “Healthy Soils for Healthy Cities.” Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Jarot Indarto, mengatakan tema tersebut menjadi momentum penting karena isu tanah kini tidak hanya berkaitan dengan pertanian, tetapi juga pembangunan wilayah, mitigasi bencana, dan pengelolaan lingkungan perkotaan. “Di level nasional Bappenas sedang menyusun soil health policy. Kami membutuhkan bantuan ahli tanah,” kata Jarot.
Pandangan serupa disampaikan Senior Economist Global Food and Agriculture Practice World Bank, Vikas Choudhary. Ia mengatakan tanah merupakan fondasi kehidupan, mulai dari pangan, ekosistem, keberlanjutan pembangunan hingga kesehatan manusia. “Tanah sehat melahirkan manusia yang sehat dan menghasilkan bangsa yang sehat. Mari setiap bangsa menyusun kebijakan untuk menjaga tanah tetap sehat,” ujarnya.
Baca juga : Satgas Kodam I/BB Lanjutkan Perbaikan Jembatan Batang Toru Pascabencana
Perayaan World Soil Day di Indonesia telah rutin dilakukan sejak 2017. Tahun ini acara semakin meriah dengan melibatkan 705 peserta dari berbagai daerah melalui lomba selidik cepat tanah, essay, vlog, puisi, hingga mewarnai dan menggambar. Ketua Panitia, Dr Ladiyani Retno Widowati, mengatakan lomba essay menjadi kategori terbanyak dengan 235 peserta dan mencatat rekor tertinggi sepanjang penyelenggaraan delapan tahun. Ia menyebut peserta berasal dari berbagai bidang ilmu, mulai pertanian, ekonomi, pariwisata, politik hingga agama. “Ini menunjukkan tanah menjadi perhatian banyak kalangan di tanah air,” katanya.
Untuk kategori essay, juara pertama diraih Dila Aksani dari IPB, disusul Ghaida Tamma Rusyda dari Universitas Tidar dan Dyima Guszita dari SMAN 2 Padang. Sementara lomba selidik cepat tanah dimenangkan Tim IPB University B, kemudian Universitas Padjadjaran A dan IPB University A. Ajang tersebut diikuti 18 tim dari 11 perguruan tinggi.
Baca juga : Bawa Salam Presiden, Menko Polkam Djamari Tinjau Pembangunan Wamena
Acara ditutup dengan talkshow yang menghadirkan pembicara dari World Bank, Bappenas, Kementerian Pertanian, BRIN, akademisi, serta perwakilan HITI. Di akhir kegiatan, Pengurus Pusat dan 28 Komisariat Daerah HITI menyusun rekomendasi kebijakan terkait mitigasi bencana berbasis ilmu tanah dan rekomendasi untuk pemerintah dalam tata kelola ruang.
Pada kesempatan tersebut HITI juga memberikan penghargaan Lifetime Achievement Award kepada empat tokoh ilmu tanah Indonesia: Prof Dr Fahmuddin Agus (BRIN/Kementan), Dr Ir Basuki Sumawinata (IPB), Prof Dr Dian Fiantis (Universitas Andalas), dan Prof Dr Indayati Lanya (Universitas Udayana).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya