Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pemerintah Waspada Dan Lakukan Modifikasi Cuaca, Indonesia Dikepung 3 Siklon
Rabu, 17 Desember 2025 08:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan Indonesia saat ini dikepung tiga siklon tropis yang berpotensi meningkatkan curah hujan ekstrem dan gelombang tinggi di sejumlah wilayah. Untuk mengantisipasi hal ini, Pemerintah meningkatkan kewaspadaan dan lakukan modifikasi cuaca.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, Indonesia akan memasuki puncak musim hujan pada Januari–Februari 2026 dengan peningkatan curah hujan signifikan di Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. “Selain itu, terdapat tiga siklon yang mengepung Indonesia, yaitu Siklon Bakung, Bibit Siklon 93S, dan Bibit Siklon 95S,” ujar Faisal saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (15/12/2025).
BMKG mencatat Siklon Bakung berkembang di barat daya Lampung dan bergerak menjauhi wilayah Indonesia. Namun, intensitasnya meningkat dari kategori 1 menjadi kategori 2. Faisal menambahkan, siklon tropis Senyar yang sebelumnya memicu cuaca ekstrem di Sumatera Utara hanya tercatat pada kategori 1.
Baca juga : Presiden Jenguk Ke Rumah Sakit, Keluarga Korban Mobil MBG Nangis Terharu
Meski saat ini bergerak menjauh, kata Faisal, BMKG memprediksi Siklon Bakung masih berpotensi mendekati wilayah Indonesia dalam dua hingga tiga hari ke depan. “Kami akan terus memantau dinamikanya. Harapannya tidak masuk atau mendekat kembali sehingga tidak memengaruhi curah hujan,” kata Faisal.
Sementara itu, Bibit Siklon 93S terpantau di wilayah Bali, Nusa Tenggara, dan Jawa Timur, sedangkan Bibit Siklon 95S berada di selatan Papua. Keberadaan kedua bibit siklon tersebut berpotensi meningkatkan curah hujan tinggi hingga sangat tinggi serta memicu gelombang tinggi di perairan sekitar.
Menurut Faisal, Indonesia tidak sendiri menghadapi ancaman ini. Indonesia telah ditunjuk Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) sebagai Tropical Cyclone Warning Center. BMKG juga terus berkoordinasi dengan Australia, Jepang, dan India untuk memantau perkembangan Siklon Bakung.
Baca juga : Target Penerimaan Pajak Masih Jauh, Anak Buah Purbaya Panggil Konglomerat
“Pada 14 Desember lalu, Siklon Bakung sempat mencapai kategori 3 dengan kecepatan angin hingga 65 knot. Ini sangat berbahaya, kemudian melemah kembali ke kategori 2 dan diharapkan terus turun,” ungkapnya.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengendalikan pertumbuhan awan hujan. Awan disemai menggunakan bahan NaCl (garam) agar hujan turun di wilayah perairan, sementara CaO (kalsium oksida) digunakan untuk memecah awan yang telah memasuki wilayah daratan padat penduduk.
“Modifikasi cuaca mampu menurunkan curah hujan sekitar 20 hingga 50 persen dan efektif untuk mitigasi bencana meteorologi,” jelas Faisal.
Baca juga : Warga Tak Punya Mata Pencaharian Lagi, Bantuan 4 M Cuma Untuk Beli Minyak-Mie
Saat ini, lanjut Faisal, operasi modifikasi cuaca dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Lampung. BMKG juga mengembangkan platform informasi cuaca terpadu untuk mendukung transportasi darat, laut, dan udara, di bawah koordinasi Kementerian Perhubungan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya