Dark/Light Mode

Tim UNTIRTA Bersama Sanggar Ringkang Gumilang Sukses Pentaskan Seni Calung

Jumat, 19 Desember 2025 14:21 WIB
Foto: Tim Untirta
Foto: Tim Untirta

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah derasnya arus budaya populer dan digital, seni tradisional kembali menemukan napas baru. Seni calung tampil berbeda dalam Pertunjukan Pengemasan Seni Calung Inovatif yang digelar di Balai Budaya Pandeglang, Banten, 29 November 2025. Pertunjukan ini tidak hanya menghadirkan musik tradisi, tetapi juga menyuguhkan kolaborasi seni pertunjukan, narasi budaya, dan inovasi busana berbasis anyaman pandan duri khas Desa Bandung, Pandeglang.

Inovasi paling mencolok terlihat pada penampilan pemain calung yang meninggalkan busana pakem berupa pangsi hitam. Sebagai gantinya, para pemain tampil dengan pakaian artistik kontemporer yang dipadukan dengan aksesoris anyaman pandan duri, mulai dari topi, peci, hingga tas. Pendekatan ini menjadikan panggung calung bukan hanya ruang musikal, tetapi juga etalase budaya dan kriya lokal.

Baca juga : UNJ Gelar Diskusi Dan Galang Donasi Korban Bencana Sumatera

Pertunjukan tersebut merupakan puncak Program Inovasi Seni Nusantara yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Program ini digagas oleh tim Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) yang terdiri dari Ketua Rian Permana, M.Sn dan Anggota R. Ahmad Zaky El Islami, Ph.D., Indah Juwita Sari, Ph.D. dan Ika Rifqiawati, M.Pd. berkolaborasi dengan Sanggar Ringkang Gumilang sebagai pemain peran dalam kegiatan pentas seni ini.

Rian Permana menegaskan bahwa inovasi ini merupakan upaya menjawab tantangan keberlanjutan seni tradisi. “Calung tidak boleh berhenti sebagai artefak budaya. Ia harus hadir, berbicara, dan relevan dengan generasi hari ini. Inovasi pengemasan ini kami lakukan tanpa menghilangkan ruh tradisinya,” ujarnya. Tak hanya soal visual, pertunjukan ini juga mengangkat cerita kehidupan masyarakat desa, termasuk proses pembuatan anyaman pandan duri yang selama ini menjadi identitas budaya sekaligus sumber penghidupan warga Desa Bandung, Pandeglang. Narasi tersebut disampaikan secara artistik melalui musik, dialog, dan koreografi sederhana yang mudah dipahami penonton lintas usia.

Baca juga : Negara Siaga! Energi Dijaga Jelang Natal–Tahun Baru

Respons positif datang dari penonton. Dewi (32), warga Pandeglang, menilai pertunjukan ini berhasil mematahkan stigma seni tradisi sebagai tontonan yang ketinggalan zaman.“Saya sudah lama sekali tidak menonton penampilan seni calung. Tapi saat ini, penampilannya berbeda, tradisional, tapi kemasannya modern dan estetik. Saya jadi tertarik dengan calung dan juga kerajinan anyaman pandan duri yang ditampilkan.” tuturnya.

Melalui pertunjukan ini, tim Untirta menegaskan bahwa inovasi adalah kunci keberlanjutan seni tradisi. Calung tidak hanya diposisikan sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai media edukasi, ekspresi kreatif, dan penggerak ekonomi kreatif lokal yang berpotensi bersaing di ruang nasional.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.