Dark/Light Mode

Ahli Gizi: MBG Efektif Tekan Kebiasaan Jajan Sembarangan Anak

Jumat, 19 Desember 2025 20:20 WIB
Sejumlah siswa menimati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Lengkong Wetan 01, Tangerang Selatan, Banten, Senin (6/1/2025). (Foto: Ng Putu Wahyu Rama/RM)
Sejumlah siswa menimati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Lengkong Wetan 01, Tangerang Selatan, Banten, Senin (6/1/2025). (Foto: Ng Putu Wahyu Rama/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perilaku konsumsi anak-anak sekolah mulai menunjukkan perubahan positif seiring hampir satu tahun pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini berdampak langsung pada perbaikan profil kesehatan siswa, yang terlihat dari peningkatan status gizi serta normalisasi Indeks Massa Tubuh (IMT) penerima manfaat di berbagai daerah.

Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB University), Prof. Ikeu Tanziha, menilai MBG menjadi solusi nyata atas kebiasaan jajan sembarangan yang selama ini mengancam kesehatan anak-anak dan remaja.

Menurut Prof. Ikeu, MBG memiliki peran penting dalam menyeimbangkan IMT peserta didik. Data menunjukkan adanya perbaikan signifikan pada kelompok anak dengan masalah gizi.

Baca juga : Anggota DPR Azis Subekti: Petani Harus Jadi Subjek Pembangunan Pertanian

“Anak-anak yang tadinya masuk kategori kurus sekali naik menjadi kurus ringan, bahkan ada yang sudah masuk kategori normal. Di sisi lain, anak dengan kelebihan berat badan atau overweight mengalami penurunan IMT menuju berat badan ideal,” jelas Prof. Ikeu.

Ia menjelaskan, perubahan tersebut terjadi karena rasa kenyang yang diperoleh dari porsi MBG yang terukur dan bergizi. “Karena mereka merasa kenyang, keinginan untuk jajan sembarangan yang tinggi garam, gula, dan lemak menjadi berkurang drastis,” tambahnya.

Lebih dari sekadar pembagian makanan, Prof. Ikeu menekankan bahwa setiap paket MBG juga mengandung nilai edukasi gizi. Melalui menu yang disajikan, anak-anak dikenalkan langsung pada prinsip Gizi Seimbang.

Baca juga : Ahli Sepakat Kebun Pangan Perempuan Efektif Tekan Inflasi Daerah

“Setiap makanan dalam ompreng itu bukan sekadar makanan, tetapi ada nilai edukasinya. Anak-anak belajar bahwa makanan sehat harus terdiri dari karbohidrat, dua sumber protein hewani dan nabati, serta sayur dan buah,” paparnya.

Edukasi ini dinilai krusial terutama bagi remaja, yang kerap menghadapi persoalan citra tubuh atau body image. Banyak remaja melakukan diet ketat karena merasa gemuk, padahal berat badannya normal, sehingga justru berujung pada kekurangan gizi. MBG hadir untuk meluruskan persepsi bahwa hidup sehat bukan soal membatasi makan, melainkan keseimbangan nutrisi dan aktivitas fisik.

“Tujuan besar MBG adalah pemenuhan gizi nasional dan perbaikan perilaku konsumsi. Jika gizinya terpenuhi dan anak-anak sehat, capaian pendidikan mereka juga akan lebih tinggi,” tutup Prof. Ikeu.

Baca juga : Kapolri Hadiri Jalan Santai PWI, Tekankan Pentingnya Sinergi Dengan Pers

Hingga kini, program MBG telah menjangkau hampir 60 juta penerima manfaat, mulai dari pelajar, balita, hingga ibu hamil dan menyusui. Dengan alokasi anggaran sekitar Rp71 triliun, program ini telah berjalan di 38 provinsi dan 7.022 kecamatan.

Selain berdampak pada kesehatan, MBG juga menggerakkan roda ekonomi. Operasional 14.773 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tercatat telah menyerap lebih dari 500 ribu tenaga kerja di berbagai daerah.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.