Dark/Light Mode

Warga Trauma Bencana, Ada Hujan, Saya Takut...

Sabtu, 20 Desember 2025 07:40 WIB
TNI AL melaksanakan kegiatan trauma healing dan pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana alam di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. (Foto: Dok. Puspen TNI)
TNI AL melaksanakan kegiatan trauma healing dan pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana alam di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. (Foto: Dok. Puspen TNI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Banjir bandang dan longsor yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menyisakan trauma mendalam bagi warga terdampak. Suara gelondongan kayu dan derasnya air bah masih terngiang di benak para penyintas. Saat hujan turun, mereka berlarian menyelamatkan diri. 

"Asal ada hujan saya takut. Takut datang lagi banjir," ujar Ismawati, warga Kebun Pisang, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (19/12/2025). 

Saat bencana menghantam, ia tengah berada di rumah bersama suami dan tiga anaknya. Air sungai yang meluap tiba-tiba menerjang dan merendam permukiman. 

Kecemasan serupa dirasakan Jamilah, warga Besitang, Sumut. Melihat awan gelap saja, ia merasa khawatir.

Baca juga : Lebih 1.000 Relawan Dan 100 Truk Bantuan Dikerahkan

Ia mengaku, akan segera mengungsi jika mendengar informasi kenaikan air sungai. “Takut terjadi banjir lagi,” ujarnya, Kamis (18/12/2025). 

Hal senada disampaikan Fitri, warga Jorong Balai Panjang, Solok, Sumatera Barat, salah satu wilayah terdampak parah Galodo Saniangbaka. “Kalau hujan malam sampai tidak bisa tidur. Takut air akan kembali naik,” tuturnya. 

Tak hanya orang dewasa, trauma juga dirasakan anak-anak. Wilda Ariani, warga Palembayan, Agam, Sumbar, bahkan mengupayakan pendampingan trauma healing untuk dua anaknya. “Kalau hujan mereka merasa takut sampai bertanya doa supaya hujan berhenti,” katanya. 

Di Aceh, ketakutan itu juga membayangi para penyintas. Linda, warga Desa Meunasah Mancang, Pidie Jaya, kini tinggal di musala panggung sebagai tempat mengungsi. “Sekarang lihat mendung saja sudah takut. Jantung berdebar,” ujarnya. 

Baca juga : Kader Gerindra Kompak Jaga Kantor DPC Batam

Ketua Blood For Life Foundation (BFLF) Pidie Jaya, Muhammad Qiqie, menyebut anak-anak menjadi kelompok paling rentan secara psikologis. “Dulu hujan itu menyenangkan. Sekarang justru membuka luka yang belum sembuh,” katanya. 

Berbagai instansi, baik pemerintah maupun relawan, turun tangan memberi pendampingan psikososial. TNI AL melalui Tim Dukungan Psikologi (Dukpsi) Dispsial membuka trauma healing di sejumlah posko di Tapanuli Tengah. 

Mereka menggelar fun games, konsultasi individu, hingga emotional healing dengan musik untuk mengurangi dampak trauma. 

Tim Kemanusiaan Korlantas Polri mengunjungi Posko Pengungsian di Islamic Centre Aceh Tamiang untuk memberikan pendampingan trauma healing kepada anak-anak yang terdampak musibah banjir. (Foto: Dok. Korlantas Polri)

Polri turut membantu. Tim Kemanusiaan Korlantas Polri melakukan trauma healing di Posko Pengungsian Islamic Centre Aceh Tamiang. Kondisi anak-anak disebut mulai membaik. 

Baca juga : Gerindra: Pemerintah Serius Pulihkan Sumatera

Ahamdulillah anak-anak mulai happy menerima keadaan,” kata Aipda Malvinas. 

Menteri Agama Nasaruddin Umar juga mengunjungi para penyintas di Bireuen, Aceh. Ia memberikan motivasi agar anak-anak tetap semangat menatap masa depan. Bahkan, beasiswa turut disiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. 

“Anak-anak perlu terus ditemani sampai benar-benar pulih,” ujar Menag. [FAQ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.