Dark/Light Mode

BNPT Gandeng Gus Baha Perkuat Deradikalisasi Lewat Dialog Kebangsaan

Senin, 22 Desember 2025 21:41 WIB
KH Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha (kiri) dalam dialog kebangsaan dan penguatan nilai Islam wasathiyah yang digelar BNPT untuk para mantan napiter. (Foto: Dok. BNPT)
KH Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha (kiri) dalam dialog kebangsaan dan penguatan nilai Islam wasathiyah yang digelar BNPT untuk para mantan napiter. (Foto: Dok. BNPT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus memperkuat program deradikalisasi terhadap mitra deradikalisasi dan mantan narapidana terorisme (eks napiter) melalui pendekatan dialog kebangsaan dan penguatan nilai Islam wasathiyah. Upaya ini dilakukan dengan menggandeng ulama kharismatik KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha).

Kegiatan bertajuk Silaturahmi Kebangsaan Bersama Tokoh Agama dalam Rangka Meningkatkan Toleransi dan Moderasi Beragama tersebut digelar di Lembaga Pembinaan, Pendidikan, dan Pengembangan Ilmu Al-Qur’an (LP3IA), Rembang, Jawa Tengah, Senin (22/12/2025).

Kegiatan yang dilaksanakan secara luring ini diikuti sekitar 50 peserta mitra deradikalisasi. Selain itu, acara juga terhubung secara daring dengan enam lembaga pemasyarakatan di sejumlah daerah, sehingga total peserta yang mengikuti kegiatan ini mencapai 223 orang, terdiri atas mitra deradikalisasi dan narapidana terorisme.

Kepala BNPT Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Eddy Hartono membuka kegiatan tersebut. Ia menyambut positif kehadiran para peserta, baik yang hadir langsung maupun yang mengikuti secara daring, sebagai bagian penting dari proses berkelanjutan dalam membangun kesadaran kebangsaan dan pemahaman keagamaan yang moderat.

Baca juga : PLN EPI Gandeng Panah Perak Megasarana Kembangkan Biomassa Nasional

Dalam sambutannya, Eddy menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusan tinggi dalam penanggulangan radikalisme dan terorisme secara komprehensif, terukur, dan berlandaskan hukum. “Perlu diketahui bersama, Indonesia hingga saat ini merupakan satu-satunya negara di dunia yang mencantumkan definisi terorisme secara formil di dalam peraturan perundang-undangan,” ujar Eddy.

Menurutnya, keberadaan definisi tersebut menjadi pijakan penting agar penanganan terorisme tidak dilakukan secara serampangan, melainkan melalui pendekatan hukum yang jelas serta dilengkapi upaya pencegahan dan pembinaan.

Eddy juga memaparkan fungsi BNPT dalam penanggulangan terorisme, mulai dari perumusan, pengoordinasian, hingga pelaksanaan kebijakan, strategi, dan program nasional di bidang kesiapsiagaan nasional, kontra radikalisasi, dan deradikalisasi. “BNPT juga mengoordinasikan kerja sama antarpenegak hukum serta merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang kerja sama internasional,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, terorisme merupakan perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, berpotensi menimbulkan korban massal, serta merusak objek vital strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional, dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan. Pemahaman yang utuh atas definisi ini dinilai penting agar masyarakat mampu membedakan ajaran agama yang benar dengan tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Baca juga : OTT, KPK Juga Tangkap Ayah Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang

Silaturahmi kebangsaan yang digelar di lingkungan pondok pesantren asuhan Gus Baha tersebut kemudian diisi ceramah keagamaan. Gus Baha menegaskan bahwa pengajian dan dialog ini dilakukan murni sebagai ikhtiar mencari rida Allah SWT. “BNPT hanya memfasilitasi agar saya bisa bertemu dan berdialog langsung dengan para mitra deradikalisasi. Pengajian ini bukan atas pesanan siapa pun,” tegas Gus Baha.

Dalam ceramahnya, Gus Baha menekankan bahwa dialog merupakan metode utama para Nabi dan Rasul dalam menyampaikan ajaran Islam. Menurutnya, kekerasan bukanlah jalan dakwah, apalagi jika diklaim sebagai bentuk pembelaan terhadap agama.

Ia mencontohkan kisah Nabi Musa yang berdakwah kepada Firaun dengan kecerdasan, kesabaran, dan dialog, meskipun menghadapi tekanan dan perlakuan tidak adil. “Nabi Musa berdialog dengan Firaun agar mau beriman kepada Allah. Walaupun diperlakukan tidak menyenangkan, Nabi Musa tidak pernah menempuh jalan kekerasan sebagai solusi dakwah,” tutur Gus Baha.

Gus Baha juga mengajak peserta untuk mengedepankan rasa syukur sebagai warga negara Indonesia. Menurutnya, Indonesia telah memberikan ruang luas bagi umat Islam untuk menjalankan ibadah secara aman dan damai. Ia menegaskan, kebenaran dalam beragama dapat dikenali dari kemampuannya diterima oleh akal sehat dan masyarakat luas.

Baca juga : HKI Perkuat Diplomasi Ekonomi Lewat Pengembangan Kawasan Industri

“Kebenaran yang hakiki adalah kebenaran yang mampu diterima oleh akal sehat dan masyarakat secara umum. Jika harus dipaksakan dengan kekerasan, maka itu bukan kebenaran sejati,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, BNPT berharap proses deradikalisasi dapat berjalan lebih efektif dengan melibatkan tokoh agama yang memiliki otoritas keilmuan dan keteladanan moral, sehingga mampu memperkuat kesadaran kebangsaan dan sikap toleran di tengah masyarakat.

Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT Mayor Jenderal TNI Sudaryanto, Direktur Pencegahan Brigadir Jenderal TNI Sigit Karyadi, Direktur Deradikalisasi BNPT Brigadir Jenderal Polisi Iwan Ristiyanto, serta sejumlah pejabat BNPT lainnya.

Sementara itu, dua mitra deradikalisasi, Dipo Azhari dan dr. Agus Purwantoro, mewakili peserta yang hadir menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka dalam forum dialog kebangsaan tersebut.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.