Dark/Light Mode

Cegah Bencana Susulan Sumatera, Pakar UGM Desak Inspeksi Wilayah Hulu DAS

Selasa, 23 Desember 2025 14:59 WIB
Alat berat dioperasikan untuk membuka jalur air yang tergenang di Desa Krunglingka, memperbaiki jalan utama kecamatan yang amblas di Desa Alu Krak, serta membersihkan bongkahan kayu di bendung Jambo Aye, Desa Rumoh Rayek. (Foto: BNPB)
Alat berat dioperasikan untuk membuka jalur air yang tergenang di Desa Krunglingka, memperbaiki jalan utama kecamatan yang amblas di Desa Alu Krak, serta membersihkan bongkahan kayu di bendung Jambo Aye, Desa Rumoh Rayek. (Foto: BNPB)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pakar Kebencanaan sekaligus Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dwikorita Karnawati menegaskan, bencana longsor dan banjir bandang susulan di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat masih sangat mungkin terjadi. Terutama, selama musim hujan masih berlangsung. Karena itu, menurutnya, harus segera dilakukan upaya mitigasi untuk mengurangi risiko terjadinya banjir bandang susulan. 

Langkah ini dapat ditempuh melalui inspeksi menyeluruh di wilayah hulu DAS. Ini penting untuk mengecek sisa endapan longsor, material rombakan, dan kayu-kayu yang masih tertahan di lereng maupun alur sungai pada elevasi tinggi. Sebab, endapan tersebut berpotensi menyumbat aliran sungai saat atau setelah hujan lebat.

“Jika sumbatan alami ini jebol, akan terjadi banjir bandang ke wilayah hilir dan dataran rendah. Ini berisiko menambah korban jiwa, serta merusak infrastruktur yang sedang maupun telah dibangun,” jelas Dwikorita dalam keterangan yang dipublikasikan situs resmi UGM, Selasa (23/12/2025).

Baca juga : Cegah Kematian Gajah Sumatera Akibat EEHV, Kemenhut Gandeng Vantara dari India

Dwikorita yang juga Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) periode 2017-2025 menambahkan, upaya mitigasi juga perlu dilakukan dengan mengalirkan atau menyudet sumbatan sedimen di hulu alur sungai ke arah hilir secara terkontrol. Agar tidak berkembang menjadi banjir bandang.

"Dalam jangka menengah, perlu dibangun check dam secara berjenjang dari hulu hingga kaki gunung, untuk mengendalikan kecepatan dan volume sedimen yang mengalir ke hilir. Sehingga, daya rusak aliran sedimen banjir bandang dapat diminimalkan,” terangnya.

Di sisi lain, pembersihan sedimen, lumpur, gelondongan kayu, serta bangkai hewan pada lahan dan sarana prasarana kehidupan seperti jalan, saluran irigasi, dan rumah perlu segera dilakukan. Agar fasilitas yang masih memungkinkan dapat segera difungsikan kembali. Setidaknya, sebagai hunian dan prasarana sementara, sambil menunggu penyediaan hunian tetap (huntap) dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

Baca juga : Bencana Sumatera, Ferry Irwandi Terharu Dengan Solidaritas Warga

Pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh serta pemetaan ulang zona bahaya ke depan dan tingkat kerusakan lingkungan saat ini. Mekanisme dan penyebab bencana harus dikaji melalui fact-finding langsung di lapangan, lalu disimulasikan kembali dengan pemodelan fisika-matematis yang divalidasi dan diverifikasi menggunakan data empiris.

Dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi, keterlibatan aktif pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan di daerah—termasuk relawan, organisasi non pemerintah (NGO), sektor swasta, akademisi, serta masyarakat lokal yang tidak terdampak langsung juga perlu dioptimalkan.

Pelibatan ini dilakukan melalui dialog yang intensif, penguatan pemahaman terhadap kearifan dan pengetahuan lokal, serta keterlibatan langsung dalam pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Baca juga : Duka Bencana Sumatera, GPII Imbau Perayaan Tahun Baru Diisi Renungan

“Pendekatan partisipatif tersebut penting untuk menjamin efektivitas dan relevansi pemulihan, sehingga hunian serta sarana prasarana yang dibangun benar-benar sesuai dengan kebutuhan, kondisi sosial, dan tradisi budaya setempat,” katanya.

Mengingat luasnya wilayah terdampak serta kompleksitas tantangan rehabilitasi dan rekonstruksi yang harus ditangani secara cepat dan tepat, Dwikorita mengusulkan pembentukan suatu badan khusus yang fokus pada pemulihan kehidupan dan penghidupan pasca bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.

Model kelembagaan ini dapat mencontoh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh pasca tsunami 2004, dengan kepemimpinan yang kuat serta didukung sumber daya manusia yang cekatan, taktis, dan berpengalaman, yang telah teruji dalam penanganan berbagai bencana besar di Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.