Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pakar ITB: Data Geospasial Lebih Dari Sekadar Peringatan Dini Bencana
Kamis, 18 Desember 2025 12:58 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Program Studi Magister & Doktor Teknik Geodesi dan Geomatika ITB Dr. Irwan Gumilar, ST MSi menegaskan, relevansi teknologi pemetaan kini telah meluas jauh melampaui fungsi tradisionalnya. Terutama, dalam konteks peringatan dini bencana dan pembangunan berkelanjutan.
"Saat ini, data geospasial dan teknologi pemetaan tidak hanya penting untuk sistem peringatan dini, tetapi hampir di semua aspek yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan," ujar Irwan saat menyampaikan presentasi bertajuk "Peningkatan Peran Teknologi dan Inovasi dalam Meminimalisir Risiko dan Dampak Bencana" dalam Forum Diskusi Inovasi Sesi 3 pada gelaran Prima ITB x CEO Summit di ITB Innovation Park Bandung Technopolis, Senin (15/12/2025).
Irwan menjelaskan, teknologi seperti Global Navigation Satellite System (GNSS) dan Robotic Total Station (RTS) kini mampu memberikan informasi pergerakan tiga dimensi secara real-time. Data ini krusial untuk mendeteksi indikasi awal bencana seperti erupsi gunung api, pergerakan tanah, hingga kerusakan pada infrastruktur buatan manusia.
"Berdasarkan informasi tersebut, dapat diketahui potensi-potensi ancaman yang terjadi. Sehingga, dapat dilakukan mitigasi untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa," ujarnya.
Inovasi Low Cost
Baca juga : Misteri Surat Aceh ke PBB dan Penanganan Bencana
Menjawab tantangan peran institusi pendidikan, Irwan mengungkapkan terobosan yang saat ini digarap Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB.
"Saat ini, ITB sedang mengembangkan sistem monitoring bencana, menggunakan teknologi GNSS berbiaya rendah," ujarnya.
Irwan memaparakn, purwarupa alat ini telah sukses diuji coba untuk memantau penurunan muka tanah di Cekungan Bandung. Publikasinya telah terbit di jurnal internasional bereputasi, Applied Geomatics. Bahkan, saat ini, FITB tengah menjajaki kerja sama dengan perusahaan asal China untuk pengembangan lebih lanjut.
Tantangan Sosial & Kolaborasi
Meski teknologi terus berkembang canggih, Irwan mengingatkan, aspek manusia dan sosial tidak boleh luput dari perhatian, terutama di daerah rawan bencana.
Baca juga : Pemerintah Siapkan Dana Darurat Tambahan Tangani Bencana Sumatera
"Tantangan terbesar penerapan di daerah rawan bencana adalah kesiapan wilayah tersebut untuk menggunakan dan menjaga teknologi-teknologi yang saat ini dikembangkan. Setiap teknologi tentu perlu adaptasi dalam penggunaannya, termasuk sosialisasinya kepada masyarakat," ujarnya.
Untuk mengatasi hal ini, Irwan mendorong perluasan kolaborasi pemerintah dan swasta, misalnya melalui pendanaan Corporate Social Responsibility (CSR) yang difokuskan pada penerapan teknologi di kawasan bencana.
Efisiensi Anggaran
Irwan melihatnya inovasi dalam negeri memiliki peluang untuk tampil, di tengah isu penurunan pagu anggaran sektor kebencanaan pada tahun 2025.
Dalam konteks ini, pengembangan inovasi yang ada di perguruan tinggi dan lembaga riset dapat digunakan sebagai alternatif teknologi kebencanaan.
Baca juga : Muhammadiyah Pagedangan Gelar Milad dengan Jalan Sehat dan Donasi Bencana
Strategi ini tidak hanya menawarkan solusi yang lebih murah, tetapi juga mendorong hilirisasi produk unggulan riset nasional.
"Konsep triple helix atau penta helix dapat dioptimalkan dalam mengelola risiko bencana dari sisi kesiapan teknologi," tandasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya