Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka -
Oleh: Andi Firmansyah*
Nama Deli lebih dulu sohor dibandingkan kota-kota lain di Pulau Sumatera. Pada masa kolonial, wilayah ini masuk dalam daftar tujuan program kolonisasi Pemerintah Hindia Belanda. Bukan demi pemerataan penduduk, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri agro yang dijalankan sejumlah perusahaan Belanda.
Sejarah mencatat, sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ribuan penduduk Jawa dimigrasikan secara massal ke Sumatera Timur, khususnya Deli. Mereka digerakkan untuk bekerja di perkebunan tembakau dan karet. Hingga kini, jejak migrasi tersebut masih nyata—bukan dalam bentuk prasasti, melainkan melalui eksistensi ekosistem etnis khas yang dikenal sebagai Jawa Deli.
Industri ini berkembang pesat. Tembakau Deli bahkan mencapai reputasi tertinggi sebagai bahan baku cerutu terbaik dunia. Cerutu berwarna cokelat doff dari Deli menjadi komoditas unggulan yang diperdagangkan hingga Eropa, Amerika, dan Amerika Latin.
Baca juga : BRI Dukung Danantara Serah Terima Huntara Warga Terdampak Bencana Aceh Tamiang
Ingin menelusuri kilau sejarah itu? Cara paling mudah di era digital adalah mengetik kata kunci “sejarah tembakau Deli” di mesin pencari. Layar akan menampilkan foto-foto hitam putih: pabrik tua, perempuan memilah daun tembakau, bedeng persemaian, hingga sosok-sosok Belanda dengan tubuh tinggi besar. Semua menjadi konfirmasi visual bahwa kejayaan tembakau Deli adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan.
Namun, menikmati rasa cerutu legendaris itu kini tidak lagi mudah. Masa kejayaan tembakau Deli meredup seiring perubahan prioritas perusahaan pengelola—PTPN I (dulu PTPN II)—yang beralih ke kelapa sawit dan karet. Meski demikian, tembakau Deli tidak punah. Terakhir, manajemen PTPN I kembali menghidupkan budidaya tembakau di lahan 20 hektare, sekaligus membangkitkan pabrik pengolahannya beserta manajemen hilir.
Sejarah Deli juga menjadi lorong waktu untuk memahami “surat lahir” Kota Medan. Sejak Jacob Nienhuys memulai industri tembakau pada 1863, kawasan pelabuhan di Sumatera Timur tumbuh pesat. Aktivitas perkebunan, pabrik, dan tenaga kerja—mayoritas dari Jawa—mengakselerasi perkembangan wilayah hingga menjelma menjadi Medan, kota metropolitan hari ini.
Jejak kejayaan itu mengendap dalam DNA kota. Logo Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Pemerintah Kota Medan, hingga Universitas Sumatera Utara (USU) sama-sama menyertakan gambar tembakau. Ini bukan sekadar ornamen, melainkan pengakuan jujur bahwa denyut pemerintahan, pendidikan, dan identitas daerah bertumpu pada kejayaan selembar daun yang dahulu dipersepsikan sebagai emas hijau.
Narasi besar ini berlanjut pada babak heroik nasionalisasi tahun 1958. Dengan keberanian besar, Indonesia mengambil alih aset-aset raksasa Belanda seperti Deli Maatschappij dan mengembalikannya ke pangkuan negara. Dari sinilah perusahaan tersebut bertransformasi menjadi PPN, PNP, PTP, hingga PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Di wilayah Deli dan Sumatera Utara, aset ini kini dikelola PTPN I Regional 2.
Baca juga : Hari Ini Kembali Luncurkan Sekolah Rakyat, Prabowo Fokus Benahi Sumber Daya Manusia
Upaya membangkitkan kembali kejayaan tembakau Deli terus dilakukan. PTPN I Regional 2 memproyeksikan perluasan lahan dari 20 hektare menjadi 500 hektare. Kapasitas pabrik akan ditingkatkan dengan tetap mempertahankan metode manual khas masa jayanya, sembari membuka kembali pasar lama dan membangun jaringan internasional baru.
PTPN bukan sekadar entitas bisnis pencari laba. Ia adalah benteng terakhir kedaulatan ekonomi tembakau Deli agar tetap berada di tangan bangsa sendiri. Namun, tugas ini kian berat. Perusahaan harus berdiri tegak di tengah kepungan kepentingan, bahkan ancaman yang ironisnya kerap datang dari pihak-pihak yang seharusnya menjadi mitra—mulai dari oknum aparat, politikus, hingga lembaga yang mencoba menguasai lahan negara secara ilegal dengan berbagai dalih.
Modal sejarah emas ini bukan sekadar aset material. Ia adalah nama baik, kebanggaan, dan jati diri bangsa. Karena itu, keteguhan PTPN I bertahan bukan semata demi angka laporan keuangan, melainkan demi penyelamatan aset negara dari kepentingan jangka pendek.
Jika lahan ini lepas, maka hilang pula ruang sejarah emas hijau yang melegenda. Mendukung keberlangsungan PTPN berarti menjaga warisan masa lalu sekaligus mengamankan aset masa depan bagi generasi mendatang.
Perbandingan foto lama Deli dengan peta Medan hari ini menunjukkan perubahan drastis. Lahan hijau telah beralih rupa menjadi permukiman padat, pusat perbelanjaan, hingga infrastruktur vital seperti Bandara Kualanamu. Pertumbuhan kota memang tak terelakkan, dan PTPN telah berkontribusi besar dalam menyediakan ruang bagi kemajuan Medan modern.
Baca juga : Gerindra Juga Bantu Daerah Lain Yang Terdampak Bencana
Namun, di tengah kepungan beton, identitas Medan sebagai Kota Tembakau tidak boleh dibiarkan layu. Gedung-gedung bersejarah seperti Kantor Pusat PTPN dan Gedung Lonsum adalah monumen hidup yang membuktikan bahwa keuntungan selembar daun tembakau pernah membangun kota dengan standar Eropa.
Kini, tantangan PTPN I Regional 2 bukan hanya soal panen dan ekspor, melainkan menyeimbangkan nilai sejarah yang luhur dengan kebutuhan kota yang terus berlari kencang. Setiap bangunan tua dan sisa hamparan hijau adalah bukti sejarah yang masih bernapas—sebuah perjalanan panjang dari kolonialisme menuju kemandirian ekonomi yang berdaulat.
Menjaga keberlangsungan PTPN berarti menghargai masa lalu sekaligus mengamankan masa depan ekonomi bangsa.
*) Penulis adalah Asisten Komunikasi Perusahaan dan Hubungan Stakeholder PTPN I.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya