Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
23 Marinir Jadi Korban Longsor Cisarua, 4 Meninggal, 19 Hilang
Selasa, 27 Januari 2026 08:16 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Tak hanya warga sipil, bencana longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, juga merenggut korban jiwa dari kalangan militer. Ada 23 marinir yang ikut jadi korban longsor. Dari jumlah tersebut, 4 korban meninggal dunia, 19 lagi dinyatakan hilang.
Informasi itu dibenarkan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali. Kata dia, 23 personelnya menjadi korban saat menjalani latihan pra-tugas pengamanan perbatasan (Pamtas) RI–Papua Nugini (PNG).
“Atas izin Bapak Menhan dan Bapak Panglima, saya menyampaikan terkait dengan kejadian bencana alam yang terjadi di Jawa Barat, di Desa Soreang. Memang terdapat 23 anggota marinir yang tertimbun longsor,” kata Ali di Gedung DPR RI, Senin (26/1/2026).
Ali menjelaskan, hingga kini tim gabungan baru menemukan empat prajurit dalam kondisi meninggal dunia. Sisanya, masih dalam proses pencarian. Namun, evakuasi menghadapi kendala cuaca buruk dan medan yang sulit dijangkau alat berat.
Meski demikian, TNI AL memastikan operasi pencarian terus dilakukan dengan memanfaatkan teknologi pendukung. “Akan kita laksanakan pencarian dengan teknologi dengan drone dan thermal dan anjing pelacak,” tutur Ali.
Ia menegaskan, insiden tersebut murni akibat faktor alam yang tak terduga saat prajurit tengah mengasah kemampuan tempur. “Karena mereka sedang melaksanakan latihan pra tugas untuk dikirim ke perbatasan RI-PNG, memang dilaksanakan latihan di sana,” ucapnya.
Baca juga : Latihan di Cisarua, 23 Marinir Jadi Korban Longsor, 4 Ditemukan Meninggal
Ali menambahkan, hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut selama hampir dua hari diduga kuat menjadi pemicu terjadinya longsor yang menimpa satu desa.
Berdasarkan data, longsor terjadi pada Sabtu (24/1/2026) sekitar pukul 03.00 WIB dini hari, saat para prajurit tengah menjalani materi latihan ambush (penyergapan) dalam rangka pratugas pengamanan perbatasan.
Dua hari sebelumnya, hujan deras mengguyur kawasan Pasirlangu. Meski cuaca buruk, pasukan tetap menempati titik koordinat latihan pada Jumat (23/1/2026) malam pukul 20.00 WIB.
Komunikasi terakhir dengan tim latihan tercatat pada tengah malam. Namun, saat longsor menerjang, alat komunikasi berupa ponsel maupun radio genggam (handy talky) dari dua tim, Asiafsaman dan Fuog, mendadak putus total.
Tim pelatih dan satgas langsung menyisir lokasi begitu matahari terbit. Di titik koordinat ambush, tim pencari hanya menemukan sisa makanan dan minuman.
Sebanyak 23 personel yang terdiri dari 15 orang tim Fuog dan 8 orang tim Asiafsaman tidak berada di tempat. Mereka hilang tersapu material longsor yang menimpa area latihan tersebut.
Baca juga : Kunjungi Korban Longsor Cisarua, Gibran Bicara Alih Fungsi Hutan
Saat ini, Komandan Satgas Gobang 7 memimpin langsung operasi pencarian dengan berkoordinasi bersama Pusdiklatpassus untuk menyisir radius kejadian. Tim Search and Rescue (SAR) gabungan juga melanjutkan pencarian terhadap korban longsor lain yang masih tertimbun material.
Terpisah, Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Hendra Rochmawan menyampaikan bahwa Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat telah menerima total 34 kantong jenazah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 korban telah teridentifikasi melalui proses pencocokan data antemortem dan postmortem.
“Dari 20 korban yang sudah teridentifikasi, sebagian telah diserahkan kepada keluarga yang sejak awal standby di Pos DVI Polda Jawa Barat,” ujar Hendra di Pos DVI Polda Jawa Barat, Senin (26/1/2026).
Sisa jenazah lain, kata Hendra, harus dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan berupa tes DNA. Mengingat kondisinya tidak memungkinkan dilakukan identifikasi melalui metode lain.
"Untuk hasil DNA, paling cepat membutuhkan waktu sekitar dua minggu,” katanya.
Ia juga mengakui tim DVI menghadapi tantangan dalam proses identifikasi. Ditambah lagi dengan ditemukannya potongan tubuh serta korban anak-anak yang memerlukan penanganan khusus.
Baca juga : Polda Jabar Terima 16 Jenazah Korban Longsor Cisarua, 9 Berhasil Diidentifikasi
Meski demikian, Hendra menegaskan hingga hari ketiga operasi, tim DVI belum mengalami kendala berarti dan proses identifikasi masih berjalan dengan baik. “Memang hanya perlu waktu, namun secara umum proses identifikasi berjalan lancar dan pelayanan kepada masyarakat tetap kami utamakan,” tegasnya.
Terkait informasi adanya korban dari unsur TNI AL, Hendra menegaskan seluruh jenazah yang ditemukan tetap harus melalui proses identifikasi resmi di Pos DVI. Setelah itu, barulah jenazah diserahkan kepada pihak yang berwenang atau keluarga.
Sementara itu, mengenai data korban hilang, Hendra menyebutkan Pos DVI telah mengumpulkan data antemortem dari 108 orang yang dilaporkan hilang. Data tersebut dihimpun melalui Pos Pengumpulan Informasi (PPI) dari keluarga korban maupun laporan masyarakat.
“Data 108 orang hilang merupakan data terakhir berdasarkan kesepakatan tim Basarnas dan BPBD yang berada di pos,” pungkas Hendra.
Sebagai informasi, banjir bandang disertai tanah longsor di Kampung Babakan RT 05 RW 11 Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat terjadi Sabtu (24/01/2026) dini hari akibat curah hujan tinggi. Proses evakuasi dan pencarian jenazah korban tertimbun material longsor masih dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Jabar bersama Tim Search and Rescue (SAR) gabungan yang terdiri dari Basarnas, BNPB, Kepolisian, serta TNI.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya