Dark/Light Mode

Erles Rareral Ajak Rakyat Indonesia Jadi Ayah-Ibu Angkat Anak-anak NTT

Kamis, 5 Februari 2026 16:28 WIB
Tokoh nasional asal NTT Erles Rareral. Foto: Dok Erles Rareral
Tokoh nasional asal NTT Erles Rareral. Foto: Dok Erles Rareral

RM.id  Rakyat Merdeka - Seorang siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal dunia mengakhiri hidup dengan gantung diri di pohon cengkih.

Menanggapi kasus ini, tokoh nasional asal NTT Erles Rareral menyerukan seluruh masyarakat Indonesia untuk ikut mengambil peran nyata dalam menyelamatkan masa depan generasi muda di wilayah timur Indonesia.

Dia mengajak masyarakat dari berbagai daerah untuk menjadi ayah dan ibu angkat bagi anak-anak NTT yang hidup dalam keterbatasan.

"NTT memiliki anak-anak hebat, tapi banyak dari mereka tertahan kemiskinan struktural dan kurangnya akses pendidikan. Ini bukan hanya masalah daerah, ini tanggung jawab kita sebagai bangsa," ajak Erles.

Baca juga : Dubes Imam Asari Sampaikan Salam Rakyat Indonesia ke Presiden Daniel Noboa

Keterlibatan masyarakat luas melalui pola orang tua angkat, kata Erles, apat menjadi langkah nyata untuk memutus rantai ketertinggalan yang selama ini membelit banyak wilayah di NTT.

Dikatakan, persoalan ini bukan hanya tanggung jawab Pemerintah. Tetapi seluruh rakyat Indonesia.

Dia menekankan, kepedulian tak selalu harus berbentuk bantuan besar, namun bisa dimulai dari hal sederhana seperti dukungan biaya sekolah, pendampingan moral dan psikologis, bantuan kebutuhan dasar, hingga membuka akses peluang masa depan.

"Jika satu keluarga di Jawa, Sumatera, Kalimantan, atau Sulawesi mengangkat satu anak NTT, bayangkan berapa ribu masa depan anak-anak bisa diselamatkan," pesannya.

Baca juga : Kolaborasi Samakta Mitra dan NEC Indonesia Hadirkan Smart City Command Centre

Menurut Erles, persoalan utama di NTT bukan pada kemampuan anak-anaknya, melainkan kesempatan yang belum merata. Masih banyak anak-anak di pelosok NTT harus berjalan jauh untuk bersekolah, menghadapi kekurangan gizi, bahkan terpaksa putus sekolah karena keterbatasan ekonomi.

Erles menegaskan, gerakan ayah-ibu angkat ini tidak boleh berhenti sebagai wacana. Melainkan harus disinergikan dengan Pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh agama, serta organisasi kemanusiaan.

Dia berharap gerakan ini menjadi simbol bahwa Indonesia benar-benar satu, dari Sabang sampai Merauke.

"NTT adalah bagian masa depan Indonesia. Anak-anak NTT adalah anak bangsa. Ini bukan sekadar kabar duka dari daerah. Ini tragedi kemanusiaan yang harus dihentikan bersama. Negara dan masyarakat wajib hadir sebelum lebih banyak anak kehilangan masa depannya," pungkasnya.

Baca juga : FIFA Series 2026 Resmi Bergulir, Indonesia Jadi Salah Satu Tuan Rumah

Diketahui, seorang siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT, meninggal mengakhiri hidup dengan gantung diri di pohon cengkih. Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi korban berusia 10 tahun berinisial YBR.

Dalam surat itu, YBR menyebut ibunya pelit. Selebihnya, surat itu berisi ungkapan perpisahan kepada ibunya. Korban anak ini sempat meminta uang kepada sang ibu untuk membeli buku dan pulpen. Sayang, permintaan itu tak bisa dikabulkan karena keterbatasan ekonomi.

"Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal," kata Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.