Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Cek Kesehatan Gratis Jadi Tameng BPJS Kesehatan dari Lonjakan Biaya Penyakit Kronis
Rabu, 11 Februari 2026 16:55 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digulirkan Pemerintah tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga menjadi strategi preventif untuk memperkuat pembiayaan BPJS Kesehatan dari lonjakan penyakit kronis seperti jantung, stroke, dan gagal ginjal.
Pemerintah kini menempatkan CKG sebagai fondasi transformasi kesehatan nasional. Dengan deteksi dini yang masif dan kepatuhan pengobatan yang lebih baik, angka kematian akibat penyakit kronis diharapkan dapat ditekan, sementara keberlanjutan keuangan BPJS Kesehatan tetap terjaga.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan, pendekatan promotif dan preventif harus diperkuat agar masyarakat tidak jatuh pada kondisi sakit berat yang membutuhkan biaya besar. Pemerintah ingin mengurangi beban kesehatan ke depan dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat.
"Pemerintah dan BPJS harus lebih mendorong masyarakat untuk cek kesehatan gratis. Jika tekanan darah tinggi, obat harus diminum secara teratur sehingga tidak berujung pada stroke atau serangan jantung,” ujar Menkes.
Baca juga : Menkop Tegaskan Kopdes Merah Putih Jadi Jembatan Pemasaran Produk Womenpreneur
Selama ini, pembiayaan BPJS Kesehatan didominasi penyakit katastropik yang sebenarnya dapat dicegah jika deteksi dini berjalan optimal. Karena itu, program CKG tidak berhenti pada tahap pemeriksaan, tetapi juga diarahkan pada penanganan lanjutan yang lebih disiplin.
“Melalui program cek kesehatan gratis tahun ini, kita akan fokus pada tata laksana, bukan hanya pemeriksaannya. Tujuannya agar masyarakat benar-benar menjadi lebih sehat,” jelasnya.
Menkes mengungkapkan, tiga faktor utama pemicu penyakit jantung, ginjal, dan stroke adalah tekanan darah tinggi, gula darah, serta kolesterol yang tidak terkendali. Tanpa intervensi serius, jumlah kasus diperkirakan terus meningkat dan membebani sistem jaminan kesehatan.
Data awal menunjukkan, tindak lanjut hasil CKG masih sekitar 8 persen. Tahun ini, Kementerian Kesehatan akan memperkuat mekanisme pengawasan agar pasien benar-benar menjalani pengobatan setelah terdeteksi.
Baca juga : Kemenag Serius Benahi Tata Kelola dan Sejahterakan Guru
“Tujuannya agar kenaikan biaya yang sangat tinggi—yang menjadi beban BPJS pada penyakit jantung, stroke, dan ginjal—bisa ditekan. Sekaligus, kualitas hidup masyarakat dapat diperbaiki melalui program promotif dan preventif CKG ini,” katanya.
Dalam Laporan Pengelolaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Desember 2025, beban pembiayaan JKN masih didominasi layanan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Lanjut (FKRTL) yang mencapai 87 persen dari total biaya.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, beban JKN meningkat Rp 81,8 triliun atau naik 75,5 persen sepanjang 2019 hingga 2025. Kenaikan tertinggi terjadi pada layanan rujukan lanjutan sebesar Rp 73,8 triliun.
Lonjakan biaya terutama dipicu penyakit kronis berbiaya tinggi. Pembiayaan penyakit jantung naik dari Rp 10,28 triliun menjadi Rp 17,35 triliun atau tumbuh 68,8 persen. Gagal ginjal melonjak paling tajam hingga 476,2 persen, dari Rp 2,32 triliun menjadi Rp 13,38 triliun.
Baca juga : KUHP Baru Tinggalkan Paradigma Balas Dendam
Selain itu, pembiayaan kanker meningkat 170,2 persen, stroke 182,9 persen, talasemia 67,6 persen, dan hemofilia 124,2 persen. Tren ini menunjukkan beban terbesar JKN masih bertumpu pada penanganan penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini dan intervensi sejak awal.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya