Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Syam Basrijal: Gen Z, Tekanan Digital, Dan Krisis Sunyi Yang Tak Terlihat
Selasa, 17 Februari 2026 14:12 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Founder Satya Mindcare Syam Basrijal mengatakan, generasi Z ( Gen Z ) adalah generasi pertama yang sejak kecil hidup dengan layar di tangan. Mereka tidak pernah benar-benar mengenal dunia tanpa notifikasi.
Ini yang membuat validitas di media sosial menjadi tolok ukur yang sangat tajam bagi perspektif anak-anak yang lahir di era tahun 1997 - 2012 itu.
"Mereka tumbuh di ruang di mana eksistensi tidak hanya diukur oleh nilai rapor atau prestasi akademik, tetapi juga oleh jumlah likes, views, dan validasi digital," kata Syam Basrijal dalam keterangan tertulisnya, Selasa (17/2/2026).
Dalam memandang Gen Z, Syam menyebut bahwa mereka sebenarnya sedang hidup di dua dunia sekaligus, yakni dunia nyata yang menuntut prestasi, karier, dan stabilitas. Sedangkan dunia yang kedua adalah dunia digital yang menghadirkan standar hidup seolah-olah semua orang selalu berhasil, selalu bahagia, selalu produktif.
Baca juga : Di Saat Dunia Krisis Pangan, Alhamdulillah, Kita Surplus
Akibat dari situasi tersebut, Syam Basrijal melihat bahwa Gen Z sedang mengalami sebuah kondisi defisit ketenangan yang ia sebut sebagai krisis sunyi. Karena tak jarang Gen Z akan terjebak pada dua dunia yang sangat dilematik.
"Di ruang perbandingan yang tak pernah berhenti itulah krisis sunyi terbentuk," ujarnya.
Praktisi kesehatan mental ini pun menyebut bahwa Gen Z akan menghadapi dua situasi berat sekaligus, yakni kecemasan yang luar biasa dan berdampak pada lelahnya psikis merea. Dua kombo maut ini disebut Syam sebagai Overthinking and Comparison Fatigue.
"Overthinking bukan sekadar kebiasaan berpikir berlebihan. Ia adalah respons psikologis terhadap tekanan yang terus-menerus. Setiap keputusan kecil—memilih jurusan, pekerjaan, bahkan gaya hidup—terasa seperti taruhan masa depan," tutur Syam Basrijal.
Baca juga : SWA Media Group Apresiasi Transformasi Digital Marketing Perusahaan Terbaik
Di saat yang sama, media sosial memperlihatkan potongan hidup orang lain yang tampak sempurna. Perbandingan ini menciptakan comparison fatigue, kelelahan psikologis akibat terus-menerus merasa tertinggal. Sayangnya secara alamiah, otak manusia tidak dirancang untuk menghadapi situasi pelik tersebut secara sempurna.
"Secara neurologis, otak manusia tidak dirancang untuk membandingkan diri dengan ratusan orang setiap hari. Namun algoritma digital membuat hal itu menjadi rutinitas. Akibatnya, harga diri menjadi rapuh. Identitas dibangun di atas validasi eksternal, bukan kesadaran internal," jelasnya.
Lebih lanjut, founder Restorasi Jiwa Indonesia ini pun menjelaskan suatu realitas yang sangat patut dipahami oleh Gen Z, khususnya dalam menghadapi dunia digital. Bahwa di dalam kehidupan digital, seluruhnya dikendalikan oleh algoritma.
Algoritma media sosial bekerja dengan logika atensi. Ia mendorong konten yang memicu emosi, kekaguman, iri, marah, atau takut. Konten yang memicu perbandingan sering kali mendapatkan respons lebih besar.
Baca juga : Irjen PKP Laporkan Dugaan Korupsi BSPS Bangkalan ke KPK, Negara Selamat Rp 22 Miliar
Yang sangat bisa dilihat secara kasat mata adalah, ketika seorang remaja melihat konten kesuksesan finansial instan, tubuhnya merespons dengan dopamin sesaat, tetapi juga kecemasan laten.
Ketika ia melihat standar kecantikan yang tidak realistis, harga dirinya tergerus perlahan. Pada situasi tersebut, kunci sukses agar diri tidak terombang-ambing dalam dunia digital adalah penguatan literasi, khususnya emotional quotient (EQ).
Dikatakan Syam Basrijal, literasi emosional ini adalah barrier yang paling ampuh bagi Gen Z saat ini.
"Masalahnya bukan pada teknologi semata. Masalahnya adalah kurangnya literasi emosional untuk mengelola paparan tersebut. Tanpa kemampuan regulasi emosi, algoritma menjadi arsitek kepercayaan diri generasi muda," tegas Syam Basrijal.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya