Dark/Light Mode

Saat Ketemu Mantan Presiden Dan Ketum Parpol

Prabowo Jelaskan Alasan Masuk BoP

Kamis, 5 Maret 2026 08:28 WIB
Foto: Sekretariat Kabinet
Foto: Sekretariat Kabinet

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto mulai berhitung ulang. Di tengah perang Amerika Serikat–Israel versus Iran, ia membuka ruang evaluasi posisi Indonesia di Dewan Perdamaian Gaza atau Board of Peace (BoP).

Hal itu terungkap dalam pertemuan Prabowo dengan para mantan presiden serta ketua umum partai politik di Istana Negara, Jakarta, Selasa (3/3/2026). Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda membeberkan isi diskusi yang berlangsung tertutup tersebut.

Menurut Hassan, Presiden tetap konsisten dengan keputusan Indonesia bergabung dalam BoP, meski situasi Timur Tengah memanas akibat serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Namun, dinamika terbaru membuat pemerintah perlu menghitung ulang berbagai kemungkinan.

“Kita masing-masing mencoba memberikan kontribusi pemikiran dan usul-usul dari para peserta,” kata Hassan usai pertemuan.

Ia menjelaskan, salah satu masukan yang mengemuka adalah soal keikutsertaan Indonesia di BoP. Hassan mengingatkan, konflik di kawasan Teluk bukan barang baru. Dalam 30 tahun terakhir, kawasan itu sudah tiga kali dilanda perang besar.

Ia merinci, mulai dari perang era Presiden Bush senior saat Irak menyerbu Kuwait, invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003 di era Bush junior, hingga konflik terbaru saat ini. Kawasan tersebut, kata dia, selalu menjadi episentrum ketegangan global karena merupakan lumbung minyak dan gas dunia.

Baca juga : Daya Tahan Ekonomi Semoga Tetap Kuat

“Tragis memang kawasan ini menjadi lahan perang dan perang-perang besar yang membawa dampak besar bagi dunia. Kita harus berhitung dampaknya terhadap kita apa,” ujar Hassan.

Karena itu, menurutnya, Prabowo tetap berdiri di bawah payung BoP, tetapi juga mempertimbangkan perkembangan mutakhir. “Kita bahas dalam konteks apakah dengan perang yang berkecamuk di Iran ini akan melemahkan posisi dan mandat BoP. Kita akan berhitung lagi sisi itu,” ucapnya.

Hassan menambahkan, Presiden juga memetakan arah navigasi Indonesia di tengah situasi geopolitik global yang kian kompleks. “Bapak Presiden menggambarkan bagaimana kita harus menavigasi hidup kita tidak hanya dua karang, tapi sekarang beberapa karang. Itu tidak mudah,” sebut Menlu era Presiden ke-4 dan ke-5 tersebut.

Dalam forum itu, Prabowo juga menjabarkan dampak serangan Amerika dan Israel terhadap Iran, termasuk implikasinya bagi Indonesia. Menurut Hassan, Presiden menyoroti melemahnya efektivitas tatanan global.

“Didiskusikan implikasinya apa terhadap kita dan dunia. Ketika tatanan dunia sudah tidak lagi efektif, dan tidak ada lagi peluang kepada negara yang menjadi korban serangan militer mengadu kepada siapa, karena PBB tidak berperan dan rules based order hanya on paper,” paparnya.

Dilema itu, lanjut Hassan, tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga banyak negara lain. Karena itu, Presiden merasa penting untuk mengomunikasikan tantangan yang dihadapi pemerintahannya secara terbuka.

Baca juga : OSO: PT Bentuk Pengkhianatan Terhadap Kedaulatan Rakyat

Selain aspek keamanan dan perdamaian, pemerintah juga menghitung dampak ekonomi dari eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama sektor energi. “Potensi efek perang ini terhadap ekonomi dunia, khususnya supply oil, minyak dan gas, kita berhitung semua apa efeknya terhadap kita,” imbuhnya.

Prabowo juga membahas kalkulasi durasi konflik. “Dari sisi kalkulasi berapa lama perang ini akan berlangsung. Sebelumnya (Presiden AS) Trump mengatakan berapa hari, tetapi sekarang bicara berapa minggu,” tandas Hassan.

Di kesempatan yang sama, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menyatakan Presiden menjelaskan latar belakang keputusan Indonesia bergabung dalam BoP bentukan Trump. Menurutnya, ada pertimbangan strategis di balik langkah tersebut.

“Ada berbagai pemikiran yang cukup strategis yang melatarbelakangi kenapa Indonesia mengambil posisi sebagai anggota dalam BoP,” ujar Paloh.

Ia menilai keputusan itu selaras dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, serta bentuk empati terhadap perjuangan rakyat Palestina. Namun, ia juga membuka kemungkinan evaluasi jika ada perkembangan baru yang disepakati bersama negara anggota lain.

“Sampai hari ini masih dalam posisi seperti itu, kecuali ada perkembangan bersama beberapa negara lain untuk mengevaluasi kembali arti kebersamaan Indonesia di BoP,” katanya.

Baca juga : Telepon Menlu Iran, Sugiono Tawarkan RI Siap Mediasi Perang

Presiden PKS Almuzzammil Yusuf menilai penjelasan Presiden soal BoP bukan hal baru. Menurutnya, Prabowo sebelumnya juga menyampaikan hal serupa kepada Majelis Ulama Indonesia dan sejumlah ormas Islam. “Yang beliau jelaskan adalah pilihan yang memang terberat dari yang ada, yang paling mungkin, bukan pilihan-pilihan ideal,” ujar Almuzzammil.

Ia menambahkan, Presiden akan menyampaikan langsung sikap resmi pemerintah kepada publik. “Pak Prabowo akan bisa sangat sempurna menjelaskannya,” katanya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan Indonesia tetap menjalin komunikasi intensif dengan negara-negara sahabat di Timur Tengah yang juga menjadi anggota BoP. “Kalau misalnya BoP, kita tetap konsultasi dengan rekan-rekan kita di Teluk karena mereka juga mengalami serangan. Mereka juga anggota BoP,” pungkas Sugiono.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.