Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Wamensos Minta Perpustakaan SR Aktif
Buku Mahal, Tingkat Literasi Indonesia Baru 0,001%
Sabtu, 2 Mei 2026 00:11 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono meminta pengelola perpustakaan di Sekolah Rakyat (SR) berperan aktif dan kreatif dalam mendorong minat baca siswa. Dia mengatakan, budaya membaca adalah lentera yang dapat mengubah kegelapan menjadi terang benderang.
"Saudara-saudara bisa memobilisasi dan mengubah mindset anak-anak yang tadinya tidak gemar membaca, menjadi gemar membaca dan perpustakaan menjadi aktivitas utama bagi para siswa yang ada di Sekolah Rakyat," katanya.
Hal itu disampaikan Agus saat penutupan Pelatihan Teknis Pengelolaan Perpustakaan Tingkat Lanjut bagi pengelola perpustakaan Sekolah Rakyat Batch 3 Tahun 2026 di Tangerang, Sabtu (18/4/2026).
Agus mengatakan, minat baca peserta didik Sekolah Rakyat bisa diraih melalui perpustakaan-perpustakaan di sekolah-sekolah rakyat. Yaitu, dengan memenuhi sarana dan prasarana (sarpras) yang ideal, bagus dan berkualitas.
"Sesuai dengan apa yang menjadi target dari Sekolah Rakyat, dan tentunya supaya anak-anak kerasan, enjoy di dalam membaca buku-buku di perpustakaan tersebut," katanya.
Agus mengatakan, tujuan penyelenggaraan Sekolah Rakyat adalah mempersiapkan peserta didik yang berkarakter, terampil, serta mampu meningkatkan kualitas hidup melalui pendidikan. Dia berharap, 10-20 tahun lagi alumni Sekolah Rakyat menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang hebat.
"Yang tidak hanya mengubah keluarganya dari miskin menjadi makmur, tetapi juga menjadi pelopor pemimpin bangsa Indonesia untuk menjadikan bangsa yang bangkit, menjadi bangsa yang besar, bangsa yang adil dan makmur," harapnya.
Baca juga : PBSI Minta Maaf, Tim Thomas Indonesia Gagal Lolos Fase Grup
Anggota Komisi X DPR Lestari Moerdijat menyampaikan, aktivitas membaca yang mulai menggeliat di kalangan Generasi Z jadi momentum berharga yang harus dimanfaatkan para pemangku kepentingan. Menurutnya, peningkatan minat baca di kalangan generasi muda ini tidak boleh disia-siakan.
"Peningkatan minat baca di kalangan generasi muda ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan berbagai langkah strategis agar berkelanjutan dan pada akhirnya mampu meningkatkan literasi masyarakat Indonesia," ujarnya.
Hasil riset dari lembaga survei Jakpat yang dilakukan pada semester kedua 2025, persentase aktivitas membaca Gen Z (usia 14-29 tahun) mencapai 26 persen, lebih tinggi jika dibandingkan dengan generasi Milenial (30-45 tahun) yang sebesar 20 persen dan Gen X (46-61 tahun) yang hanya 18 persen.
"Tapi, minat baca yang tinggi ini belum otomatis berbanding lurus dengan tingkat literasi masyarakat," katanya.
Lestari mengatakan, agar kebiasaan minat baca Gen-Z berdampak luas, diperlukan sejumlah langkah strategis. Antara lain, menggerakkan komunitas baca berbasis digital dan fisik dengan memfasilitasi pembentukan komunitas baca yang mendorong munculnya diskusi buku dan resensi buku secara organik.
"Selain itu, sekolah dan perguruan tinggi perlu mendorong tugas-tugas yang mengharuskan siswa tidak sekedar membaca, tetapi juga mengolah, mengkritisi, dan menyajikan ulang informasi yang ada," ujarnya.
Politisi Partai NasDem itu mendorong ketersediaan bahan bacaan yang mudah diakses masyarakat melalui kelengkapan buku fisik dan digital di perpustakaan, maupun harga bahan bacaan yang terjangkau. Dia berharap segera hadir kebijakan yang mampu mewujudkan keterjangkauan bahan bacaan bagi masyarakat melalui penghapusan pajak buku dan keringanan harga kertas.
Baca juga : Penonaktifan Akun Anak Harus Dibarengi Peningkatan Literasi Digital
“Dengan sejumlah langkah tersebut, momentum 26 persen Gen Z yang aktif membaca tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi fondasi bagi terciptanya ekosistem literasi nasional yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan,” tandasnya.
Direktur Big Bad Wolf (BBW) Indonesia Marthius Wandi Budianto menilai, kesenjangan minat baca di Tanah Air bukan semata disebabkan oleh rendahnya minat masyarakat, melainkan juga karena keterbatasan akses terhadap buku, khususnya di daerah pelosok.
"Masalah literasi yang rendah bukan karena orang malas membaca, tapi memang bukunya yang susah didapat. Kalau kita lihat kota-kota di luar Pulau Jawa, mungkin hanya ada satu toko buku di satu mal di satu kota," katanya.
Marthius membeberkan, tingkat literasi Indonesia baru 0,001 persen, atau hanya satu dari 100.000 orang yang benar-benar gemar membaca. Dia mengatakan, BBW Indonesia ingin memberikan pengalaman membaca yang sangat berbeda kepada anak-anak supaya mereka tidak terlalu bergantung pada gadget.
"Membaca buku jauh lebih menyenangkan dan pengalamannya berbeda dibandingkan sekadar melihat layar," ujarnya.
Di media sosial X, warganet ramai menyoroti minat baca yang terhalang dengan susahnya mengakses dan membeli buku. Bahkan saat ini buku menjadi barang mahal bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.
Akun @a_quixotic_hope menuturkan, banyak orang Indonesia yang suka datang ke perpustakaan dan taman bacaan. “Minat baca orang Indonesia ini tinggi kok, sialnya harga buku mahal terutama buku-buku impor, kalau gak ada event tertentu dan perpustakaan aku pun gak akan pernah punya akses pada buku impor,” katanya.
Baca juga : Altos Perkuat Infrastruktur AI dan Cloud Terintegrasi di Indonesia
Akun @incogniceu menimpali, minat baca kini terhalang dengan harga buku yang membumbung tinggi. “Minat baca warga Indonesia sebenarnya tinggi, cuma ya, harga buku makin kesini makin nggak ngotak. Udah gitu, kurs rupiah anjlok. Harga buku impor makin meroket dan tidak terjangkau,” keluhnya.
Senada, akun @shynsalabim mengatakan, sekalipun banyak penerbit buku berjualan di marketplace, ternyata harga buku tidak bisa ditekan. “Di marketplace kita bisa bandingkan harga buku di satu toko dengan toko lainnya. Hingga akhirnya aku sampai di satu kesimpulan, "Buset, buku makin mahal aja ya!" Makanya masyarakat jadi kurang literasi, sudahlah buku mahal, perpustakaan juga nggak banyak,” sentilnya.
Akun @wibu_bau_bawang berharap Pemerintah turun tangan untuk menekan harga buku. “Kita dalam kondisi kekurangan minat baca, sementara harga buku juga lumayan. Makanya banyak masyarakat kita yang lebih memilih beli makananan daripada beli komik, artinya hidup sudah pas-pasan dan harus ada skala prioritas,” tulisnya.
Akun @moonwithpoodle menambahkan, saat ini hanya kalangan berduit yang leluasa untuk membeli buku. “Aku selalu mendoakan agar para pecinta buku mengalir terus rejekinya, biar bisa beli buku tanpa harus liat harga. Dan perpustakaan juga menambah koleksi bukunya biar pengunjungnya nggak kehilangan minat baca,” harapnya.
Akun @Sehelaidaunnya menegaskan, tanpa ketersediaan buku, minat baca dan tingkat literasi di Tanah Air sukar untuk ditingkatkan. “Andai harga buku tidak mahal, mungkin minat baca meningkat di Indonesia yah. Sekarang mau beli buku saja keburu kalah dengan kebutuhan yang lain,” katanya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya