Dark/Light Mode

Membaca Gaya Komunikasi Kepemimpinan di Batam Secara Objektif

Rabu, 20 Mei 2026 05:58 WIB
Fendi Hidayat (Foto: Dok. Pribadi)
Fendi Hidayat (Foto: Dok. Pribadi)

Belakangan ini ruang publik Batam ramai membicarakan gaya komunikasi Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra. Media sosial dipenuhi berbagai analisis, perbandingan karakter kepemimpinan, hingga pembacaan pola komunikasi keduanya dalam menjalankan pemerintahan Kota Batam. Salah satu narasi yang cukup ramai beredar misalnya menggambarkan bahwa Amsakar adalah “kompas”, sementara Li Claudia disebut sebagai “penggerak mesin”. Ada pula yang menggambarkan komunikasi Amsakar terlalu birokratis dan normatif, sedangkan pola komunikasi Li Claudia disebut cenderung spontan.

Sekilas, narasi yang disebarkan terlihat menarik, tajam, bahkan terasa akademis. Bahasa yang digunakan rapi, sistematis, dan meyakinkan. Namun saat diperhatikan dengan seksama beberapa poster dan konten yang beredar memiliki karakteristik visual khas produksi Artificial Intelligence (AI). Mulai dari gaya desain, komposisi gambar, pemilihan diksi, hingga pola narasi yang terlalu rapi dan generik. 

Setelah dilakukan beberapa eksperimen dengan promt sederhana tentang pola komunikasi keduanya, hasil yang ditampilkan tidak jauh berbeda dengan versi yang beredar. Banyak kemiripan, mulai dari pola kalimat, sudut pandang, termasuk analogi yang digunakan sangat mirip. Sehingga patut diduga narasi yang beredar sebagian besar lahir dari hasil olahan AI seperti ChatGPT dan berbagai tools AI generatif lainnya. Hasilnya kemudian disebarluaskan dan dikonsumsi publik seolah menjadi kesimpulan objektif mengenai hubungan komunikasi dan pembagian peran kepemimpinan keduanya.

Baca juga : Rayakan Cahaya Perempuan Indonesia, Perhimpunan Kebayaku Hadirkan Prabha Kartini

Inilah kekuatan utama AI generatif saat ini. AI mampu menyusun bahasa yang sangat meyakinkan dan terlihat logis. Namun masalahnya, publik sering lupa bahwa AI bukan sumber kebenaran, melainkan hanya alat bantu analisis yang bekerja berdasarkan pola data yang dimasukkan pengguna.

Dalam perspektif akademik, hasil AI tidak bisa langsung dijadikan rujukan untuk membaca realitas sosial dan politik secara utuh. Ada prinsip klasik dalam ilmu sistem informasi yang dikenal dengan istilah garbage in, garbage out, yaitu kualitas output sangat ditentukan oleh kualitas input. Ketika data yang diberikan kepada AI sejak awal sudah bias, parsial, atau hanya berupa potongan informasi tertentu, maka hasil yang keluar juga berpotensi bias. AI hanya membaca pola bahasa dari data yang tersedia terutama yang ada di internet ataupun yang diberikan pengguna, bukan melakukan observasi empiris terhadap realitas sosial yang sebenarnya terjadi. AI tidak merasakan dinamika pemerintahan secara nyata atau melihat secara langsung hubungan pemerintah dengan masyarakat.

Di sinilah muncul fenomena yang dikenal sebagai AI hallucination, yaitu ketika AI menghasilkan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan tetapi belum tentu memiliki validitas faktual yang kuat. AI sering kali lebih memilih menyusun jawaban daripada mengakui keterbatasan informasi yang dimilikinya. Akibatnya, masyarakat yang tidak memiliki literasi digital memadai dapat dengan mudah menerima hasil AI sebagai kebenaran tanpa proses verifikasi lebih lanjut. Padahal dalam kajian ilmiah, setiap analisis tetap harus diuji dengan fakta lapangan, observasi empiris, serta pemahaman konteks sosial dan politik yang utuh.

Baca juga : Membangun Budaya Keselamatan Lalu Lintas Sejak Dini

Jika diamati secara langsung, pola komunikasi antara Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra sebenarnya tidak sesederhana sebagaimana yang dibangun dalam berbagai narasi tersebut. Memang benar keduanya memiliki pendekatan komunikasi yang berbeda, tetapi perbedaan itu bukan berarti menunjukkan adanya relasi dominasi dan subordinasi. Justru yang terlihat adalah pola collaborative executive communication, yaitu komunikasi kepemimpinan yang dibangun secara kolaboratif melalui pembagian peran yang saling melengkapi.

Dalam teori collaborative leadership communication, kepemimpinan modern tidak lagi bertumpu pada satu figur tunggal yang menguasai seluruh ruang komunikasi. Kepemimpinan yang efektif justru dibangun melalui distribusi peran komunikasi sesuai kebutuhan organisasi dan karakter kepemimpinan masing-masing. Ada figur yang lebih kuat dalam menjaga stabilitas birokrasi dan pengambilan keputusan strategis, ada pula figur yang lebih efektif dalam membangun komunikasi publik dan respons lapangan. Namun keduanya tetap bergerak dalam satu visi pemerintahan yang sama.

Dalam praktik pemerintahan Kota Batam, pola tersebut cukup terlihat. Pada berbagai persoalan teknis dan strategis, Pak Amsakar dan Bu Li sering tampil bersama-sama memberikan arahan, menjaga stabilitas komunikasi birokrasi, serta memastikan penyelesaian persoalan berjalan sistematis. Keduanya juga tampak aktif dalam komunikasi publik, menjalin kedekatan dengan masyarakat, membangun relasi dengan stakeholder, dan terlibat dalam berbagai komunikasi lapangan. Dalam banyak momentum, keduanya hadir bersama dan saling melengkapi, bukan berjalan berseberangan.

Baca juga : Komunikasi Pemerintah Disetel Semakin Agresif

Sayangnya, budaya media sosial hari ini lebih menyukai narasi konflik dibanding kolaborasi. Algoritma digital bekerja berdasarkan engagement, sehingga konten yang mempertentangkan tokoh lebih mudah viral dibanding narasi kerja sama. Akibatnya, publik lebih sering diarahkan untuk membaca siapa yang paling dominan dibanding memahami bagaimana pola kerja pemerintahan sebenarnya berlangsung. Di titik inilah masyarakat perlu memiliki literasi AI dan literasi digital yang lebih matang.

AI memang sangat membantu dalam memetakan pola komunikasi dan mengolah informasi secara cepat. Namun AI tetap memiliki keterbatasan karena tidak memahami konteks sosial secara utuh dan tidak mengalami realitas lapangan secara langsung. Karena itu, hasil AI seharusnya diposisikan sebagai bahan bantu berpikir, bukan sebagai kebenaran final. Kesimpulan tentang kepemimpinan dan pola komunikasi tidak bisa hanya dibangun dari prompt, potongan video, atau persepsi media sosial semata, tetapi harus dilihat melalui fakta empiris dan dinamika pemerintahan yang nyata.

Pada akhirnya, komunikasi kepemimpinan Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra lebih tepat dipahami sebagai pola komunikasi kolaboratif. Keduanya memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi tetap saling mengisi, saling terlibat, dan sama-sama hadir untuk masyarakat Batam. Membaca hubungan tersebut secara hitam-putih, apalagi hanya berdasarkan hasil AI tanpa melihat konteks lapangan secara utuh justru berpotensi menghasilkan kesimpulan yang simplistis. Sebab realitas kepemimpinan dan komunikasi politik selalu jauh lebih kompleks dibanding sekadar output algoritma.

Dr. Fendi Hidayat
Dr. Fendi Hidayat
Akademisi Universitas Batam

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :