Dark/Light Mode

Regina ART: Harkitnas Jadi Momentum Refleksi Cita-cita Luhur Bangsa

Rabu, 20 Mei 2026 19:39 WIB
Pemilik Regina ART, Joane Win. Foto: Regina ART
Pemilik Regina ART, Joane Win. Foto: Regina ART

RM.id  Rakyat Merdeka - Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang jatuh setiap 20 Mei dinilai sebagai momentum refleksi bagi seluruh elemen bangsa.

Semangat persatuan dan kesadaran nasional yang lahir sejak berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, dianggap relevan untuk menjawab tantangan Indonesia saat ini.

Pemilik Regina ART, Joane Win mengatakan, Harkitnas 2026 seharusnya tidak hanya diperingati sebagai agenda seremonial tahunan. Lebih dari itu, momentum tersebut perlu dimaknai sebagai upaya membangkitkan kembali cita-cita luhur bangsa, terutama dalam menegakkan keadilan hukum.

“Kebangkitan nasional modern tidak lagi sekadar melawan penjajah asing, melainkan melawan korupsi, nepotisme, dan matinya hati nurani penegak hukum,” ujar Joane dalam keterangan tertulisnya, Rabu (20/5/2026).

Baca juga : 74 Tahun Pelni, Komisaris Ajak Jajaran Refleksi Perbaiki Layanan

Menurutnya, Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius dalam penegakan hukum. Jika hukum kehilangan objektivitas, kata dia, Indonesia berisiko bergeser dari negara hukum (rechtsstaat) menjadi negara kekuasaan (machtstaat).

“Kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional, sebuah momentum sejarah yang lahir dari keberanian para pemuda tahun 1908. Namun, 118 tahun kemudian, kita perlu bertanya kepada nurani masing-masing, apakah bangsa ini benar-benar sudah merdeka secara utuh?” katanya.

Joane menilai, masyarakat saat ini dihadapkan pada kenyataan pahit ketika hukum kerap dianggap tunduk pada kepentingan kekuasaan. Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat rasa keadilan di tengah masyarakat semakin tergerus.

“Kita melihat pelemahan lembaga pengawas, putusan hukum yang tebang pilih, hingga ruang korupsi yang makin melebar. Ini bukan sekadar kemunduran hukum, tetapi pengkhianatan terhadap cita-cita reformasi dan fondasi moral bangsa,” tegasnya.

Baca juga : Peringatan Hari Bumi Jadi Momentum Perkuat Kepedulian Lingkungan

Joane menegaskan, sejarah membuktikan kebangkitan tidak pernah lahir dari kenyamanan. Menurut dia, kebangkitan muncul dari keberanian melawan ketidakadilan.

“Jika dahulu musuh bangsa ini adalah penjajah asing, maka hari ini musuh kita adalah korupsi, hingga kesewenang-wenangan,” ucapnya.

Dalam momentum Harkitnas 2026, Joane mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan peringatan tahun ini sebagai “Kebangkitan Kedua”, yakni gerakan moral untuk merebut kembali keadilan.

Dia juga menyampaikan sejumlah pesan kepada berbagai kalangan. Kepada generasi muda dan mahasiswa, Joane meminta agar menjadi motor penggerak perubahan dengan memanfaatkan suara, tulisan, dan media digital untuk mengawal kebijakan publik.

Baca juga : Bamsoet: Jadikan Paskah Momentum Tingkatkan Persatuan dan Rekonsiliasi Bangsa!

Sementara kepada masyarakat sipil, dia mengimbau agar menjaga persatuan dan tidak mudah terpecah oleh adu domba yang dapat melemahkan solidaritas dalam memperjuangkan hak konstitusional rakyat.

Adapun kepada aparat penegak hukum yang masih memiliki integritas, Joane mengingatkan pentingnya menjaga sumpah jabatan dan mengembalikan marwah hukum Indonesia.

“Mari kita nyalakan optimisme di tengah situasi sulit ini. Hukum boleh mengalami kemunduran, tetapi perjuangan rakyat untuk keadilan tidak akan pernah berhenti. Kita harus bangkit demi Indonesia yang bersih, adil, dan bermartabat,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.