Dark/Light Mode

Dubes Sujiro Seam, Jakarta Jadi Ruang Refleksi Hubungan UE-ASEAN

Kamis, 29 Januari 2026 04:10 WIB
Duta Besar Uni Eropa Untuk ASEAN Sujiro Seam. (Foto Istimewa)
Duta Besar Uni Eropa Untuk ASEAN Sujiro Seam. (Foto Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bagi Duta Besar Uni Eropa Untuk ASEAN Sujiro Seam, Jakarta bukan sekadar kota tempat bertugas. Di balik lalu lintas yang padat, udara yang tak selalu ramah paru-paru, dan nyamuk yang gemar “berpesta”, Ibu Kota Indonesia itu justru memberi ruang refleksi baginya tentang arah dunia yang tengah berubah.

Di tengah pergeseran geopolitik global serta perubahan fokus Amerika Serikat (AS) dalam pendekatan multilateral di ASEAN, Uni Eropa kian memantapkan kawasan Asia Tenggara sebagai mitra strategis yang semakin penting. Jakarta—rumah ASEAN—menjadi panggung penting diplomasi tersebut.

“Itulah yang sering kami sebut sebagai pergeseran lanskap geopolitik,” ujar Dubes Seam dalam EU’s Media New Year Gathering di Jakarta, Senin (26/1/2026).

“Istilah yang sopan untuk menggambarkan perubahan pendekatan Amerika Serikat di kawasan ini. Tapi bagi kami, ini justru membuka peluang,” imbuh Dubes asal Prancis itu.

Menurut Dubes Seam, di tengah perubahan sikap AS, Asia Tenggara menunjukkan kedewasaan politiknya. ASEAN memilih menjaga keseimbangan, tetap inklusif dan berpijak pada multilateralisme. Sikap inilah yang membuat Uni Eropa merasa sejalan secara nilai dengan kawasan ini.

Dengan nada reflektif, Dubes Seam menyebut 2025 sebagai tahun terbaik hubungan Uni Eropa–ASEAN. Dialog politik tingkat tinggi meningkat tajam, dan para pemimpin Uni Eropa hadir langsung di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN.

“Kita hidup di dunia multipolar. Tidak ada lagi kekuatan dominan. Dalam situasi seperti ini, kerja sama multipolar bukan pilihan, melainkan kebutuhan,” ujarnya.

Bagi Uni Eropa, pendekatan kawasan ke kawasan dengan ASEAN, jauh lebih bernilai dibanding hubungan bilateral semata. Bukan hanya soal ekonomi, tapi juga politik, stabilitas dan nilai-nilai bersama.

Baca juga : Banjir Jakarta 22 Januari, 12 RT dan 17 Ruas Jalan Terendam Akibat Hujan Deras

Dia mencatat, tahun depan merupakan peringatan 50 tahun hubungan UE–ASEAN. Untuk merayakannya, Dubes Seam membawa dua gagasan besar.

Pertama, penyelenggaraan KTT ASEAN–Uni Eropa yang mempertemukan seluruh pemimpin kedua kawasan. Kedua, peningkatan status hubungan dari strategic partnership menjadi comprehensive strategic partnership.

“Ini bukan soal simbolik. Peningkatan status berarti peningkatan kerja nyata. Lebih banyak dialog politik, lebih intensif di tingkat menteri dan interaksi langsung antar pemimpin," ujarnya.

Bagi Dubes Seam, kemitraan UE–ASEAN sudah cukup matang untuk melompat lebih jauh. Bukan hanya sebagai mitra dialog, tetapi sebagai rekan strategis sejajar.

Di bidang ekonomi, Uni Eropa tetap menjadikan perjanjian perdagangan bebas antar kawasan sebagai tujuan jangka panjang. Namun, jalur yang ditempuh saat ini bersifat bertahap.

Uni Eropa telah memiliki perjanjian dagang dengan Singapura dan Vietnam, menyelesaikan kemitraan ekonomi komprehensif dengan Indonesia, serta melanjutkan negosiasi dengan Thailand, Malaysia dan Filipina.

“Antara sekarang hingga 2027, kami fokus pada ekonomi digital, teknologi hijau, dan rantai pasok,” imbuhnya.

Di luar perdagangan, kerja sama lingkungan dan transisi hijau menjadi ciri khas pendekatan Uni Eropa. Puluhan juta euro digelontorkan untuk proyek iklim, biodiversitas, dan energi bersih.

Baca juga : Banjir Rendam 11 RT Di Jakarta, Ratusan Warga Mengungsi

Dalam isu sensitif seperti deforestasi, Dubes Seam menekankan pendekatan dialog. Uni Eropa pun menunda penerapan European Union Deforestation Regulation agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi negara-negara ASEAN.

Punya Tiga Musuh

Tahun 2026 adalah akhir masa Dubes Seam bertugas di Indonesia. Meski hanya tiga tahun bertugas di sini, dia menyoroti tiga hal yang tak akan mudah dilupakan.

Menjelang akhir acara, Dubes kelahiran Kamboja itu menyebut tiga “musuh” terbesarnya di Jakarta. Yakni kemacetan, polusi dan nyamuk.

Soal macet, dia punya strategi sederhana: memilih lokasi pertemuan sedekat mungkin dengan kantor. “Supaya tidak perlu berperang dengan lalu lintas,” katanya, sambil tersenyum.

Polusi udara diakuinya masih menjadi tantangan, meski ada perbaikan saat hujan turun. Namun dia memandangnya sebagai konsekuensi dari pertumbuhan kota raksasa dengan sekitar 42 juta penduduk.

Soal nyamuk, Dubes Seam punya teori sendiri. “Teman-teman bilang darah saya manis sehingga diserbu nyamuk,” selorohnya.

Meski demikian, kekagumannya pada energi Jakarta tak pernah pudar. Baginya, semua itu adalah dinamika kota besar yang sedang berlari menuju masa depan.

Dubes Seam bukan diplomat Eropa pada umumnya. Lahir di Kamboja, besar dan berkarier di Prancis, dia adalah pertemuan dua dunia. Latar belakang diaspora memberinya kepekaan yang jarang dimiliki diplomat Barat.

Baca juga : Pemprov DKI Jakarta Bersiaga Hadapi Banjir di Puncak Musim Hujan

Pendidikan elite di École Nationale d’Administration (ENA) membentuknya sebagai teknokrat, sementara pengalaman panjang sebagai diplomat di Pasifik, Houston, dan Asia Tenggara membentuk empatinya.

Aktif di media sosial, dekat dengan anak muda, pegiat lingkungan dan pelaku industri kreatif, Dubes Seam percaya diplomasi tak bisa hidup tanpa sentuhan manusiawi.

“Saya percaya hubungan antarnegara hanya akan kuat jika hubungan antarmasyarakatnya juga kuat,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.