Dark/Light Mode

MTI Minta Pemerintah Perkuat Sistem Keselamatan Transportasi

Jumat, 29 Mei 2026 14:31 WIB
Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menyampaikan pentingnya penguatan sistem keselamatan transportasi. (Dok. Ist)
Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menyampaikan pentingnya penguatan sistem keselamatan transportasi. (Dok. Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) meminta pencegahan keselamatan dalam bertransportasi wajib ditingkatkan. MTI menilai pendekatan keselamatan transportasi masih bersifat reaktif karena sistem baru bergerak setelah terjadi insiden besar, bukan melalui langkah pencegahan sejak awal.

Dewan Penasihat MTI Djoko Setijowarno mengatakan, keselamatan transportasi seharusnya dibangun melalui tiga aspek utama, yakni education, engineering, dan enforcement.

"Praktik di lapangan menunjukkan ketiga aspek tersebut belum berjalan optimal," kata Djoko di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Ia mengungkapkan, rata-rata lebih dari 100 orang meninggal setiap hari akibat kecelakaan di Indonesia, terutama di jalan raya.

Baca juga : PLN & Kejari Jakut Perkuat Sinergi Percepatan SUTET 500 kV Priok–Muara Tawar

Menurutnya, angka tersebut bukan berasal dari satu tragedi besar yang viral, melainkan akumulasi kecelakaan harian yang kerap luput dari perhatian publik. Djoko menegaskan, pencegahan seharusnya menjadi prioritas utama dalam sistem transportasi nasional.

"Pencegahan lebih murah daripada penanganan setelah kecelakaan," tegasnya.

Sorotan terhadap lemahnya sistem keselamatan kembali menguat setelah insiden kereta di Bekasi Timur. Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono menyatakan pihaknya belum menyimpulkan penyebab kecelakaan tersebut.

"Pada presentasi saat ini kami hanya menyajikan data faktual, tidak terdapat analisis dan tidak ada kesimpulan terhadap penyebab terjadinya kecelakaan," ujar Soerjanto dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR, beberapa waktu lalu.

Baca juga : Nasi Lemak Dan Teh Tarik Satukan Diaspora Malaysia

Meski investigasi belum rampung, sejumlah persoalan mendasar dinilai sudah terlihat. Tragedi Bekasi Timur disebut lahir dari kegagalan berlapis yang sebenarnya dapat dicegah, mulai dari kelalaian manusia, persoalan infrastruktur, sistem operasional yang tidak optimal, hingga lemahnya standar keselamatan dalam kondisi darurat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ratusan ribu penumpang menggunakan kereta api setiap hari sepanjang 2025. Di sisi lain, lebih dari 300 ribu armada bus beroperasi di jalan raya, sementara sekitar 145 juta sepeda motor masih mendominasi pergerakan masyarakat di Indonesia.

Dalam skala sebesar itu, satu celah keselamatan dinilai dapat berubah menjadi tragedi massal hanya dalam hitungan detik. Desakan pembenahan sistem keselamatan juga mengemuka dalam rapat kerja Komisi V DPR yang membahas kecelakaan tersebut.

Ketua Komisi V DPR Lasarus meminta evaluasi tidak berhenti pada pencarian penyebab semata. "Kalau persoalan dalam sistemnya sudah terdeteksi, maka perbaikannya juga harus segera dilakukan agar kejadian serupa tidak terus terulang. Jangan sampai berbagai evaluasi yang sudah dilakukan hanya menjadi catatan tanpa ada langkah nyata di lapangan," tegasnya.

Baca juga : PLN Energi Gas Raih TOP CSR Awards 2026, Perkuat Komitmen Keberlanjutan

Bekasi Timur bukan satu-satunya tragedi yang masih menyisakan pertanyaan. Kecelakaan bus ALS di Sumatera Selatan juga menambah daftar panjang insiden transportasi yang belum tuntas penanganannya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kecelakaan dapat terjadi kapan saja, baik di jalan raya, perlintasan, maupun jalur-jalur yang minim pengawasan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.