Dark/Light Mode

INZS 2026 Dukung Target 100 GW PLTS Program Presiden Prabowo

Jumat, 31 Juli 2026 12:29 WIB
Ketua dan Pendiri FPCI Dino Patti Djalal bersama Managing Director Energy Shift Institute Putra Adhiguna dalam Press Briefing INZS 2026 di Jakarta, Rabu (29/7/2026). Foto: LDU/RM.ID
Ketua dan Pendiri FPCI Dino Patti Djalal bersama Managing Director Energy Shift Institute Putra Adhiguna dalam Press Briefing INZS 2026 di Jakarta, Rabu (29/7/2026). Foto: LDU/RM.ID

RM.id  Rakyat Merdeka -  Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 menyatakan dukungannya terhadap target pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) sebagai bagian dari program transisi energi Presiden Prabowo Subianto. Komitmen tersebut akan menjadi salah satu fokus utama dalam penyelenggaraan INZS 2026 di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (1/8/2026).

Ketua dan Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal mengatakan tema "It's Time to Deliver!" yang diusung pada INZS 2026 menekankan pentingnya mewujudkan komitmen iklim menjadi aksi nyata.

Menurut Dino, Indonesia memasuki fase baru dalam upaya transisi energi sehingga berbagai target yang telah ditetapkan harus diikuti implementasi yang konsisten.

"Jadi sekarang kita melihat ada babak baru dan mudah-mudahan ini bisa direalisasikan," kata Dino dalam Press Briefing INZS 2026, Rabu (29/7/2026).

Baca juga : Prabowo Targetkan Lampung-Aceh Terhubung Kereta

Ia menilai, di tengah gejolak geopolitik dan tekanan ekonomi global, percepatan transisi menuju emisi nol bersih (net-zero emission) menjadi kebutuhan mendesak. Pembangunan PLTS berkapasitas 100 GW dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional, meningkatkan daya saing ekonomi, sekaligus menjaga keamanan energi Indonesia.

Dino mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah program tidak hanya ditentukan oleh besarnya target, tetapi juga kemampuan pemerintah dalam merealisasikannya.

"Penekanannya itu adalah delivery. Karena jujur banyak sekali program pemerintah di berbagai sektor tapi kandas di implementasi. Menurut kami Indonesia perlu aktif sekarang. Dan diplomasi iklim saya kira terbuka lebar," ujarnya.

Sementara itu, Managing Director Energy Shift Institute Putra Adhiguna mengatakan tren investasi global saat ini mulai bergeser ke sektor energi bersih. Sejumlah negara maju, termasuk China, telah mengurangi dukungan terhadap proyek pembangkit listrik berbasis batu bara di luar negeri.

Baca juga : Prabowo: Indonesia Harus Belajar dari India Bangun 3 Juta Rumah Setahun

Menurut Putra, perubahan arah investasi tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan.

"Arah permodalan sudah bergeser, attention terhadap emission semakin tinggi, jalan ke depan adalah jalan yang harus kita tuju," katanya.

Ia menilai pengembangan energi ramah lingkungan akan memperkuat daya saing Indonesia di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap isu emisi karbon dan keberlanjutan.

INZS 2026 diharapkan menjadi wadah bagi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat sipil untuk bertukar gagasan mengenai strategi transisi energi, khususnya di antara negara-negara berkembang.

Baca juga : ASN Hingga BUMN Diminta Turun Tangan, Prabowo: 5 Kota Terbersih Dapat Rp 20 M

Forum tersebut juga diharapkan memperkuat peran Asia Tenggara dalam membentuk tata kelola iklim global sekaligus mempercepat transformasi menuju energi bersih yang berkelanjutan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.