Dark/Light Mode

Survei FSP BUMN Bersatu: 81,3 Persen Puas dengan Kinerja Prabowo

Senin, 10 Agustus 2026 14:40 WIB
Presiden Prabowo Subianto. Dok. Setpres
Presiden Prabowo Subianto. Dok. Setpres

RM.id  Rakyat Merdeka - Sebanyak 81,3 persen responden menyatakan puas dengan kinerja Presiden Prabowo Subianto selama memimpin pemerintahan. Di sisi lain, masyarakat masih menghadapi tekanan ekonomi, terutama mahalnya harga kebutuhan pokok dan sulitnya mendapatkan pekerjaan.

Temuan tersebut merupakan hasil survei Litbang Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu (FSP BUMN Bersatu) yang dilakukan pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026. Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan melibatkan 1.243 responden, margin of error sekitar 2,78 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Departemen Head Litbang FSP BUMN Bersatu, Ir. Tri Widodo Sektianto, MBA, mengatakan hasil survei menunjukkan persepsi positif masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran masih cukup kuat. Namun, kondisi ekonomi masyarakat perlu menjadi perhatian.

"Meskipun di beberapa hal hasil survei ini menggambarkan persepsi positif dari publik, faktor kondisi terkini dan tren keadaan ekonomi nasional yang terpotret di masyarakat harus menjadi catatan tebal bagi pemerintahan Prabowo-Gibran," ujar Tri Widodo, Minggu (9/8/2026).

Dalam survei tersebut, sebanyak 81,3 persen responden menyatakan puas terhadap kinerja Prabowo. Sebanyak 16,4 persen menyatakan tidak puas, sedangkan 2,3 persen tidak memberikan jawaban.

Kepuasan publik juga terlihat dalam sejumlah bidang pemerintahan. Sebanyak 86,2 persen responden menyatakan puas dan sangat puas terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran di bidang politik.

Sementara di bidang hukum, sebanyak 82,7 persen responden menyatakan puas dan sangat puas. Adapun 84,3 persen responden menilai kinerja pemerintah di bidang pendidikan dan bantuan sosial sudah baik dan konsisten.

Baca juga : Survei IPO: Seskab Teddy Masuk Jajaran Menteri dengan Kinerja Terbaik

FSP BUMN Bersatu juga memotret persepsi masyarakat terhadap sosok kepemimpinan Prabowo. Responden menilai Prabowo sebagai enlightening leader, yakni pemimpin yang dinilai memiliki kesadaran tinggi, memberikan teladan, menginspirasi, serta memandang kepemimpinan sebagai amanah dan pengabdian.

Ekonomi Rumah Tangga Masih Tertekan

Di tengah persepsi positif terhadap kinerja pemerintahan, survei menemukan kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih cukup tinggi.

Sebanyak 53,6 persen responden menilai kondisi ekonomi saat ini buruk. Sebanyak 25,4 persen menilai biasa saja, sedangkan 18,2 persen menyatakan tidak khawatir meski kondisi ekonomi dapat berubah. Sebanyak 2,8 persen tidak memberikan jawaban.

Menurut responden, kondisi ekonomi saat ini terutama dipengaruhi ketidakpastian global. Sebanyak 57,5 persen memilih faktor tersebut, kemudian 20,8 persen menyebut penurunan pendapatan dan 20,3 persen menyebut kenaikan harga.

Tri Widodo mengatakan tekanan ekonomi juga terlihat dari kondisi pendapatan dan aktivitas usaha masyarakat.

"Perbandingan jawaban masyarakat saat survei ini dengan survei Januari 2026 menunjukkan sebanyak 34,2 persen responden mengaku penghasilan mereka turun dan lebih dari 36,1 persen masyarakat yang menjalankan usaha mengeluhkan omzet usaha mereka yang lesu," katanya.

Survei juga menemukan 48,3 persen responden menyatakan kondisi ekonomi keluarganya tidak menentu. Sebanyak 30,1 persen merasa aman karena memiliki tabungan sebagai jaring pengaman, 14,3 persen menilai kondisi ekonomi keluarga bergejolak, dan 5,2 persen menyebut sudah berada dalam kondisi kritis.

Baca juga : Sarmuji: Wajar Bahlil Kerap Dipanggil Presiden Prabowo

Dari sisi kerentanan ekonomi, 63,8 persen responden menyatakan berada dalam kondisi sangat rentan. Sebanyak 30,1 persen merasa aman karena memiliki tabungan, sedangkan 6,1 persen tidak memberikan jawaban.

Kesulitan mendapatkan pekerjaan juga menjadi persoalan yang dirasakan masyarakat. Sebanyak 57,4 persen responden mengaku kesulitan mendapatkan pekerjaan baru di wilayah tempat tinggal mereka.

Beban ekonomi terbesar yang dirasakan masyarakat adalah mahalnya kebutuhan pokok. Sebanyak 57,8 persen responden mengeluhkan harga sembako yang mahal. Kemudian 21,9 persen mengkhawatirkan ancaman PHK dan 18,3 persen mengaku tidak memiliki tabungan atau dana darurat.

Masih Optimistis

Meski menghadapi berbagai tekanan, mayoritas masyarakat masih optimistis terhadap prospek ekonomi.

Sebanyak 74,8 persen responden optimistis kondisi ekonomi akan membaik. Namun, 21,6 persen memperkirakan kondisi ekonomi ke depan kembali melemah.

FSP BUMN Bersatu menilai angka tersebut menunjukkan masyarakat masih memiliki harapan terhadap perbaikan ekonomi, tetapi mulai lebih berhati-hati melihat prospek hingga akhir 2026.

Menurut Tri Widodo, optimisme tersebut dapat menjadi modal bagi pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat dan dunia usaha.

Baca juga : Laga Uji Coba, Ricky Nelson Belum Puas dengan Performa Persis

Ia menilai kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah di bidang politik dan hukum juga diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap kepercayaan dunia usaha.

Prabowo Unggul dalam Simulasi Pilpres

Survei FSP BUMN Bersatu juga melakukan simulasi jika pemilihan presiden digelar saat ini. Hasilnya, Prabowo menjadi tokoh yang paling banyak dipilih responden.

Sebanyak 70,2 persen responden memilih Prabowo Subianto. Berikutnya Dedi Mulyadi 8,5 persen, Anies Baswedan 6,9 persen, Gibran Rakabuming Raka 6,4 persen, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 4,3 persen, dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) 2,1 persen. Sebanyak 1,6 persen tidak memberikan jawaban.

FSP BUMN Bersatu menyebut hasil tersebut menunjukkan Prabowo masih memiliki tingkat penerimaan yang tinggi dalam simulasi elektoral.

Namun, Tri Widodo menekankan pemerintah tetap perlu mencermati persoalan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Kekhawatiran mengenai harga pangan, kesulitan memperoleh pekerjaan, ancaman PHK, serta minimnya tabungan menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera diatasi.

Di sisi lain, optimisme masyarakat terhadap perbaikan ekonomi menjadi modal bagi pemerintah untuk memperkuat kepercayaan publik dan dunia usaha.

"Ketakutan akan harga pangan, sulitnya mencari kerja, dan ketiadaan jaring pengaman finansial adalah pesan bahwa ada sesuatu yang sedang tidak beres terhadap perekonomian kita," ujar Tri Widodo.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.